Meski Dipakai PLTS Terapung, BPK Wilayah IX Minta Akses ke Sirtwo Island Harus Tetap Disediakan
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah melakukan peninjauan potensi Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) serta situs berpotensi terdampak PLTS Terapung di area waduk Saguling.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah melakukan peninjauan potensi Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) dan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) serta situs berpotensi terdampak PLTS Terapung di area waduk Saguling.
Peninjauan tersebut dilakukan ke sekitar 16 ODCB dan OPK dengan durasi tanggal 11-20 Agustus 2024. Salah satunya objek yang ditinjau di kawasan tersebut, yakni situs prasejarah Sirtwo Island, sebagai pulau lokasi temuan bergam fosil di Waduk Saguling blok Kampung Suramanggala RT 01/01 Desa Baranangsiang, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mesti tetap dilestarikan.
Ketua Tim Penelitian dan Penyelamatan Situs BPK Wilayah IX Soni Prasetya Wibawa mengatakan, akses ke lokasi Sirtwo Island ini harus tetap disediakan ketika perairan di sekeliling pulau dipakai panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya PLTS Terapung.
"Kita sudah survei 16 ODCB dan OPK di area waduk Saguling. Termasuk Sirtwo Island. Untuk Sirtwo ini kami rekomendasikan tetap ada akses menuju pulau tersebut tatkala dibangun PLTS Terapung," kata Soni baru-baru ini.
Seperti diketahui, Sirtwo Island merupakan pulau di tengah genangan Waduk Saguling yang telah jadi tempat wisata edukasi sejarah Bandung Purba menyusul ditemukannya puluhan fosil hewan verterbrata dan muluska.
Hingga kini fosil tersebut masih tersebar di Sirtwo Island dengan beragam bentuk dan ukuran.
"Secara substansi Sirtwo Island memang harus dilestarikan dan kami telah berdiskusi dengan Dinas Kebudayaan wilayah ini sudah lindungi sebagai Cagar Budaya," papar Soni.
Sebelumnya, paleontolog dari ITB dan UI telah mengidentifikasi 17 titik fosil tulang hewan verterbrata dan muluska di Sirtwo Island. Tahun 2021, para peneliti telah melakukan ekskavasi terhadap tiga jenis fosil yakni Bovidae (sapi, kerbau dan banteng), Cervidae (kelompok rusa) dan Elepha maximus (gajah) sebagai upaya penyelamatan.
Temuan tersebut meliputi bagian lengan (kaki depan), kaki belakang, tulang belakang, tanduk, dan bagian kepala.
"Dalam posisi Sirtwo Island airnya surut ketika kami ke sana banyak indikasi temuan fosil di permukaan," lanjut Soni.
"Memang pulau Sirtwo jadi sumber fosil. Ekskavasi sudah ditangani oleh museum Geologi dan balai Arkeologi. Bahkan sudah ditinjau oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten (BPCB Banten)," sambungnya.
Editor : Doni Ramdhani

