Mudik: Naluri Manusia Kembali Pada Nuansa Kecil
Mudik merupakan tradisi tahunan masyarakat muslim tanah air, tak terkecuali naluri manusia yang berkeinginan untuk mengembalikan nuansa masa kecil dan budaya di kampung halamannya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Mudik merupakan tradisi tahunan masyarakat muslim tanah air, tak terkecuali naluri manusia yang berkeinginan untuk mengembalikan nuansa masa kecil dan budaya di kampung halamannya.
"Naluri manusia itu, ingin kembali ke kampung halamannya, keluarga bahkan budaya yang telah membesarkannya pada masa kecil," ujar dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan (Unpas) Vera Hermawan, Kamis (6/6/2019).
Menurutnya, kebiasaan itu merupakan perpaduan antara komunikasi budaya dan keyakinan pemeluk agama muslim, serta menjadikan momentum ini untuk berkumpul dengan keluarga jauh, bahkan kebiasaan untuk saling memaafkan atas perilaku yang dirasakan salah.
"Kembali ke Fitri dalam momentum lebaran merupakan tradisi yang sakral, dan tindakan itu dilakukan agar ikatan silaturahmi dengan keluarga tetap terjalin", ujarnya.
Namun, momentum Idul Fitri 2019 kali ini, tidak bisa dilepaskan dengan perhelatan pesta demokrasi yang sudah terselenggara lima tahunan,
"Energi anak bangsa sudah cukup terkuras dengan masa kampanye yang relatif panjang, hingga terpilihnya pemimpin bangsa dan keberhasilan itu nampaknya kini dirasakan", katanya.
Ditambahkannya, keberhasilan dari pencapaian pemerintah bukan saja menjadikan bangsa ini terlatih dalam konteks demokrasi,
"Capaian itu bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dengan kebaradaannya akses transportasi yang mapan, sehingga kemacetan pada mudik kali ini mampu di atasi oleh pemerintah", ujarnya.
Selain itu, Isu ketersedian sembako yang terjangkau masyarakat sehingga akhirnya masyarakat tidak terbebani oleh tindakan spekulan, yang biasanya menaikan harga saat momentum lebaran tiba", tambahnya. (Okky Adiana)
Editor : Doni Ramdhani

