Mungkinkah Mereka Dapat Pemimpin Peduli Banjir?
Sebagian warga Kabupaten Bandung terpaksa menembus banjir untuk menyalurkan hak politiknya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Sebagian warga Kabupaten Bandung terpaksa menembus banjir untuk menyalurkan hak politiknya.
Berjalan pelan-pelan, Maman (48) menggandeng tangan istrinya, Lina (50). Satu tangannya lagi mengangkat kantong warna hitam tinggi-tinggi. Tak hendak dia kantong itu basah tersembur air. “isinya pakaian kering dan surat panggilan nyoblos,” kata Maman.
Maman dan warga Kampung Cijagra, Desa Bojongsoang, rela menerobos banjir luapan Sungai Citarum setinggi dada orang dewasa. Dia datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) 58 yang berada di lokasi pengungsian Gudang Tanggo, di pinggiran Jalan Raua Bojoangsoang-Buah Batu.
Banjir tak menghambat Maman menyalurkan aspirasi politiknya. Dia sengaja mengenakan celana pendek, berjalan dari rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter ke TPS.
“Air setinggi dada orang dewasa masih menggenangi pemukiman kami. Kami tidak mengungsi, tapi tinggal di lantai atas rumah. Karena hari ini harus ke TPS, terpaksa basah-basahan jalan kaki. Petugas yang katanya disiapkan menjemput warga dengan perahu nggak ada,” kata Maman di TPS Gudang Tanggo Bojongsoang, Rabu (17/4).
Sesampainya di sekitar TPS, Maman dan istrinya tak langsung menuju TPS. Keduanya tampak celingukan mencari tempat yang sepi. Rupanya, pasangan yang setengah badan pakaiannya basah kuyup itu hendak mencari tempat sepi untuk berganti pakaian. Mereka berdua tak mau masuk ke TPS dengan keadaan basah kuyup.
“Sengaja dari rumah kami bawa baju ganti yang dimasukan ke dalam kantong keresek bersama surat panggilan punya kami berdua,”ujar Lina, sang istri, menimpali suaminya.
Menurut Lina, ia dan suami serta anak anaknya, sudah hampir sebulan ini berada di lantai atas rumah mereka. Banjir setinggi dada orang dewasa masih belum juga surut. Selain mengganggu aktivitas sehari hari, banjir juga membuat ia sekeluarga sakit sakitan. Pagi itu, ia dan suaminya tengah pilek. Namun demi menyalurkan aspirasi politiknya, ia dan suami rela basaj kuyup menembus banjir.
“Saya dan suami serta anak anak di rumah lagi pada sakit. Tapi karena ingin menyalurkan hak politik, saya rela basah-basahan. Siapa tahu saja calon pemimpin yang kami berdua pilih bisa membawa kehidupan masyarakat lebih baik. Terutama bisa menyelesaikan masalah banjir yang setiap musim hujan kami alami,” kata Lina.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, di pengungsian Gudang Tanggo Bojongsoang, terdapat TPS 36,37, 38 39. Di TPS tersebut terdapat kurang lebih 1.026 pemegang hak pilih. Mereka berasal dari Kampung Cijagra Desa Bojongsoang RW 9 dan 10.
Sementara itu, Kapolsek Bojongsoang AKP Maman mengatakan terdapat dua RW di Kampung Cijagra yang masih tergenang banjir, yakni RW 09 dan 10. TPS di dua RW tersebut dipindahkan ke pengungsian Gudang Tanggo.
“Ada 8 TPS yang dipindahkan karena banjir. Kami bersama TNI menyiapkan perahu untuk menjemput warga yang hendak mencoblos dari rumahnya ke TPS,” kata Maman.
Maman melanjutkan, di RW 09 terdapat 824 warga yang memilih di TPS 32,33,34 dan 35 dan RW 10 terdapat 1.026 warga yang memilih di TPS 36,37,38 dan 39. Kemudian di TPS 32 sampai 35 dipindahkan ke SD Cijagra. TPS 36 sampai 39 dipindahkan ke Pengungsian Gudang Tanggo.
Menurut Maman pihaknya menyediakan 15 perahu untuk menjemput warga dari rumah ke TPS. “Kami juga melakukan imbau masyarakat korban banjir untuk menggunakan hak pilihnya. Alhamdulilah antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk memilih,” katanya.
Banyak lagi warga Kabupaten Bandung bernasib seperti Maman. Di Kampung Bojong Asih, Desa Dayeuhkolot, hal serupa juga terjadi. Untungnya, antusiasme masyarakat untuk mencoblos terbilang tinggi.
Berdasarkan pantauan, TPS 19 terpaksa dipindahkan ke rumah milik warga yang tidak terendam banjir. Sialnya, akses jalan menuju lokasi terendam banjir dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa. Sementara TPS 20, lokasi kotak suara dan tempat menunggu antrian terendam banjir.
Untungnya, bilik suara dan tempat untuk anggota KPPS dan saksi tidak terendam banjir. Masyarakat yang hendak mencoblos harus melewati akses jalan yang terendam banjir.
Iqbal (32), salah seorang warga, mengaku antusias untuk mencoblos. Meski banjir, sebagai warga negara dia harus menggunakan hak pilih. Dengan harapan, ada perubahan kampung halamannya yang selalu kebanjiran itu.
“Memaksakan diri kita sama sama datang ke TPS untuk menggunakan hak pilih. Harapannya sih supaya ada perubahan, khususnya di daerah kami yang selalu kebanjiran setiap tahun,” kata Iqbal.
Iqbal mengatakan, beberapa warga yang terendam banjir dengan ketinggian mencapai leher orang dewasa, disediakan perahu untuk mengantarkan ke lokasi TPS yang ditetapkan.
Ketua RT 04 RW 05, Nono Mulyana (60) mengaku antusias warga terbilang tinggi meski banjir yang berlangsung sejak sebulan terakhir. Ia mengungkapkan dari 250 pemilih sudah lebih dari 60% yang mencoblos di TPS.
“Ini lokasi yang paling aman. Ada lahan warga yang bisa digunakan untuk TPS. Karena di tempat lain genangan airnya lumayan tinggi sampai lebih sedada orang dewasa,” ujarnya. (Rd Dani R Nugraha)
Editor : Bsafaat

