Nenek Salamah Tunggu Kabar 17 Keluarga yang Hilang dalam Longsor Cisarua KBB

Enam hari penantian rasanya seperti seabad bagi Nenek Salamah (80). Tubuhnya yang renta hanya bisa terpaku menatap penuh harap ke arah lokasi longsor Cisarua. 

Nenek Salamah Tunggu Kabar 17 Keluarga yang Hilang dalam Longsor Cisarua KBB
Hingga Kamis 29 Januari 2026 siang ini, dari 17 anak dan cucu Nenek Salamah yang tertimbun tanah, baru empat orang yang berhasil ditemukan tim gabungan pencari korban longsor Cisarua. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Enam hari penantian rasanya seperti seabad bagi Nenek Salamah (80). Tubuhnya yang renta hanya bisa terpaku menatap penuh harap ke arah lokasi longsor Cisarua

Hingga Kamis 29 Januari 2026 siang ini, dari 17 anak dan cucu Nenek Salamah yang tertimbun tanah, baru empat orang yang berhasil ditemukan tim gabungan pencari korban longsor Cisarua.

“Anak dan cucu saya ada 17 orang. Sampai sekarang baru empat yang ditemukan,” ucap Nenek Salamah dengan suara lirih, nyaris tak terdengar di tengah deru hujan dan suara alat berat yang terus bekerja. 

Tatapan matanya yang sudah kusam tak lagi mampu menyembunyikan duka yang mendalam, namun masih terpancarkan secercah harapan setiap kali ada gerakan dari arah lokasi pencarian.

Hujan yang mengguyur sejak sehari terakhir membuat medan lokasi longsor semakin berat. Tanah yang labil dan licin membuat setiap langkah tim pencari harus ekstra hati-hati. 

Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Basarnas, relawan, dan warga setempat tetap bertahan meskipun dihadapkan pada risiko tinggi.

“Kondisi medan memang sangat sulit. Hujan membuat tanah semakin lembek dan berpotensi longsor kembali. Namun kami tidak akan menyerah sebelum menemukan semua korban,” ujar salah satu petugas.

Di tengah kesedihan yang menyelimuti Desa Pasirlangu, muncul semangat solidaritas dari berbagai pihak. Warga sekitar berbagi makanan dan minuman untuk tim pencari serta keluarga korban. 

Beberapa komunitas juga telah mengumpulkan bantuan berupa pakaian dan sembako untuk mereka yang terdampak.

“Kita semua merasa iba dengan kondisi Nenek Salamah dan keluarga lainnya. Kita hanya bisa berdoa agar proses pencarian berjalan lancar dan semua korban bisa segera ditemukan,” ujar Siti, salah satu warga yang ikut membantu mengurus posko bantuan.

Berdasarkan data sebelumnya, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memang sering menjadi daerah rawan longsor, terutama saat musim hujan seperti yang terjadi pada Mei 2025 lalu yang mengakibatkan lima desa terdampak. 

Faktor penyebab umum longsor di daerah ini antara lain curah hujan tinggi, kemiringan lereng yang curam, serta jenis tanah yang mudah lembek saat jenuh air.

Dalam beberapa kasus sebelumnya, pemerintah juga telah melakukan upaya seperti relokasi warga dari daerah rawan bencana, seperti yang dilakukan di Purwakarta. 

Namun, tantangan tetap ada dalam mengidentifikasi semua zona rawan dan melakukan penanganan secara menyeluruh.

Tak jemu Nenek Salamah masih terus menunggu. Setiap detik yang berlalu adalah perjuangan antara harapan dan kenyataan pahit. 

Ia hanya bisa berdoa agar hujan segera berhenti, tanah bisa tenang, dan satu per satu orang yang dicintainya bisa kembali, meskipun hanya untuk memberikan penghormatan terakhir yang layak.


Editor : Doni Ramdhani