Ngopi Nikmat ala Baksil di Pojok Ngopi
Bagi sebagian besar warga Bandung mungkin sudah tidak asing dengan kawasan Babakan Siliwangi (Baksil).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Bagi sebagian besar warga Bandung mungkin sudah tidak asing dengan kawasan Babakan Siliwangi (Baksil).
Lokasi yang strategis berada tidak jauh dari pusat Kota Bandung semakin mempermudah akses untuk menuju lokasi kawasan hutan kota itu.
Suasana alam yang sejuk di tengah rimbun pepohonan memberi kesan yang natural. Namun, banyak orang yang tidak menyadari bahwa di salah satu pojok atas, tepatnya di sebelah Kantor Kelurahan Babakan Siliwangi, ada warung kopi yang menyuguhkan ragam kopi Nusantara cukup lengkap.
Pojok Ngopi namanya, Leni seorang Baristi di warung ini mengatakan, kopi yang tersedia di tempat ini berasal dari mulai Sabang sampai Merauke dan hampir semua ada. Ragam penyajiannya pun mulai dari V60, Vietnam Drip, Japanese, hingga yang disajikan secara tradisional seperti tubruk.
“Pengunjungnya pun kebanyakan dari kalangan mahasiswa, fotografer, seniman, model, dan komunitas musik,” katanya saat diwawancarai INILAH, Minggu lalu (14/4/2019).
Leni mengaku, kebanyakan kopi yang dipesan berasal dari tanah Pasundan dan Sumatra untuk kopi Pasundan itu kopi Puntang dan Malabar dan kalau untuk Sumatera banyaknya dari Aceh seperti Gayo dan untuk prosesnya sendiri kebanyakan V60.
“Saya menjadi Baristi di sini baru empat bulan dan untuk warung kopinya sendiri sudah 15 atau 16 tahunan. Namun meski begitu, saya cukup memahami selera kopi seperti apa yang paling diminati konsumen,” ujarnya.
Leni melanjutkan, harga kopi Puntang lumayan mahal, karena single origin terus per bijinya disortir dan harus benar-benar berkualitas.
Memang ini pengaruhnya ke harga yang dampaknya sangat besar dibandingkan kopi sobek di pasaran dan juga kalau single origin pertaniannya terbatas bergantung pula pada selera masing-masing.
“Untuk komunitas kopi, saya belum masuk tapi teman-teman banyak yang sudah masuk. Untuk UKM sih sempat, namun selagi mampu yah jalan aja sendiri. Cuman, dari pemerintah itu emang ada rekomendasi dari Dinas Pariwisata,” ujarnya.
Lebih lanjut, Leni menceritakan, waktu itu ada blogger asal Korea datang ke sini bersama Dinas Pariwisata langsung rekomendasi ke sini untuk mengeksplor kopi di sini.
Kita juga mengenalkan cita rasa kopi Nusantara dan juga menginformasikan perbedaan dan cara memproses kopi itu sendiri.
“Selain itu, saya juga menjelaskan tujuan dari membuka kafe kopi ini bukan semata karena komersial, tapi karena ingin memperkenalkan pada anak muda saat ini tentang khasanah karakter kopi Indonesia,” jelasnya.
Saat ini, kopi mulai banyak digandrungi kaum milenial. Hal tersebut terjadi karena rasa keingintahuan para milenial lebih besar untuk bisa mencari kopi mana yang sesuai dengan cita rasa masing-masing.
Salah satu yang paling banyak diminati adalah kopi Puntang yang memang memiliki cita rasa tersendiri mulai dari aroma, rasa pahit, sepet, dan asam yang seimbang.
Leni berharap, anak-anak muda itu mengenal kopi-kopi dari tanah Indonesia dan bisa membedakan minimal ada rasa kecintaan terhadap kopi dari Indonesia sendiri.
Dan, yang terpenting anak-anak muda sadar akan banyaknya kekayaan dari Indonesia sendiri dan bangga.
Karna yang saya tahu kopi-kopi yang berasal dari luar negeri kebanyakan asalnya dari kita. Waktu itu pernah ada pengunjung datang dan bertanya kenapa sih kopinya sama kaya kopi saya yang di Jerman?
“Saya jawab, karena kopi Jerman itu ngambilnya dari kita cuma mereka sudah memiliki brand terkenal dan cara mengolahnya pun sudah lebih baik. Jadi, banyak yang menganggap kopi tersebut berasal dari luar negeri,” tandasnya. (agus satia negara)
Editor : suroprapanca

