Nimo Highland Pangalengan yang Dikecam Dedi Mulyadi Justru Dibanggakan Bupati Bandung Dadang Supriatna
Bupati Bandung Dadang Supriatna meminta PTPN VIII dan Perhutani, terkait pelebaran akses jalan untuk beberapa wilayah yang merupakan lintasan jalan destinasi wisata. Salah satunya jalan menuju Nimo Highland Pangalengan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Soreang - Bupati Bandung Dadang Supriatna meminta PTPN VIII dan Perhutani, terkait pelebaran akses jalan untuk beberapa wilayah yang merupakan lintasan jalan destinasi wisata. Salah satunya jalan menuju Nimo Highland Pangalengan.
"Ini yang kita dorong, apakah membawa investor, bisa saja seperti itu. Sehingga nanti setelah ada investor, seperti salah satunya Nimo Highland Pangalengan. Orang kan tidak memprediksi bakal booming tempat wisata itu. Setelah kita hadirkan, ternyata menambah lapangan kerja dan pendapatannya juga luar biasa, itu salah satu contoh," kata Dadang Supriatna, beberapa waktu lalu.
Dadang Supriatna menerangkan, pihaknya telah mempraktikkan dua lokasi wisata buatan diantaranya Nimo Highland Pangalengan. Kedua, Jembatan Rengganis di Kecamatan Rancabali yang diklaim sebagai jembatan terpanjang di Asia Tenggara.
"Itu sukseskan? Nanti kita arahkan, mana yang masuk desa wisata dan mana yang sifatnya bisa go internasional akan saya kembangkan. Saat ini baru dua lokasi wisata. Tahun depan kita akan buka lagi," ujarnya.
Sementara itu, keberadaan objek wisata Nimo Highland Pangalengan itu sempat dikecam Anggota Komisi IV DPRRI Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi geram melihat kerusakan lingkungan dan pembangunan objek wisata Nini Mountain atau Nimo Highland Pangalengan yang berada di area pekebunan PTPN VIII. Ia kecewa dengan konsep bangunannya yang tidak ramah lingkungan serta tak memilki estetika kearifan lokal.
Dalam video Youtube yang diberi judul, Kunjungan ke Perkebunan Pangalengan Lihat Wisata Kelas Dunia Kang Dedi Malah Ngambek dan telah ditontong 16 ribu kali selama 16 jam sejak diunggah itu, pria yang kerap disapa Kang Dedi itu mengatakan, keindahan lereng gunung hancur oleh arsitektur bangunan ini.
Objek wisata kelas dunia itu diakuinya bukan beratap baja (seng) seperti itu. Ia memberi contoh, bangunan yang ada di Gunung Tangkuban Perahu yang berbasis kayu dan bambu, sehingga mempunyai ciri khas dan karakter yang kuat.
”Kalau persoalaan jumlah orang yang datang. Itu mudah bukan hal yang sulit untuk orang indonesia. Asal bikin keraiaman dangdutan orang mudah datang. Tapi yang harus dipikirkan adalah kesinambungan dan kelanjutannya dimasa depan," kata Dedi Mulyadi.
Dia mencontohkan wisata kelas dunia yang benar adalah seperti Bali dan Yogyakarta. Sebab, memiliki karakter dan ciri khas daerahnya. Jika suatu tempat wisata dibangun asal banyak dikunjungi orang, ia memastikan tidak akan bertahan lama.
"Bagi saya tidak terlalu penting berimaginasi soal berklas dunia segala. Jika tidak sesuai kenyataan, kalau ada turis datang malang kecewa. Jadi kalau soal orang datang itu bukan karena penataannya, tapi karena alamnya bagus," ujarnya.
Dedi Mulyadi mewanti-wanti, jika perkebunan teh peninggalan pemerintah kolonial Belanda ini harus terus dijaga dan dipelihara. Kata dia, tanah yang indah ini harus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Tidak boleh dihabiskan (dirusak) sekarang.
"Enggak bisa PTPN VIII suatu sata wisatanya hilang Teh nya habis. Kita harus malu sama kolonial, yang memperlakukan alam ini dengan baik. Tapi kita yang mengaku sebagai pemilik negeri ini malah merusaknya," katanya.*** (rd dani r nugraha)
Editor : Doni Ramdhani


