Oknum Komdigi Sembunyikan Rekening untuk Transaksi Judi Online, PPATK: Mereka Coba Kelabui Kami
PPATK mengungkap adanya upaya dari oknum pegawai Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang berusaha menyembunyikan transaksi keuangan yang berkaitan dengan kasus perjudian online.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap adanya upaya dari oknum pegawai Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang berusaha menyembunyikan transaksi keuangan yang berkaitan dengan kasus perjudian online.
Dalam penyelidikan tersebut, beberapa pegawai Komdigi yang terlibat diduga berusaha menutupi jejak transaksi mereka.
Kepala PPATK, Ivan Yustiavandana, menyatakan bahwa para tersangka tersebut berusaha mengelabui pihaknya dengan menyembunyikan informasi yang relevan.
"Mereka (pegawai Komdigi tersangka judol) juga coba mengelabui kami dengan menutupi informasi," ujar Ivan Yustiavandana.
Menurut Ivan, oknum-oknum yang terlibat dalam kasus perjudian online ini bahkan mengirimkan nomor rekening palsu yang telah dimanipulasi sebelumnya untuk menutupi jejak mereka.
"Oknum-oknum Komdigi yang tertangkap juga selama ini ternyata mencoba menyesatkan kami dengan menyembunyikan nomor-nomor rekening kelompok mereka dan mengirimkan nomor-nomor rekening lainnya untuk kami tindak," tuturnya.
Lebih lanjut, Ivan menjelaskan bahwa para pegawai Komdigi yang terlibat ternyata berupaya untuk mengalihkan perhatian dengan mengirimkan nomor rekening yang bukan merupakan rekening yang mereka gunakan dalam transaksi judi online.
Namun, meskipun adanya upaya untuk menyesatkan, PPATK tetap bekerja secara hati-hati dan akuntabel untuk memastikan semua informasi yang dibutuhkan terkumpul dengan benar.
Ivan menambahkan bahwa berkat penggunaan berbagai sumber informasi, pihaknya berhasil melacak dan memblokir rekening asli yang digunakan oleh kelompok tersebut, meskipun upaya penyembunyian tersebut sempat membingungkan pihak terkait.
"Teknis yang bermain, sehingga bisa jadi menteri atau pimpinan sebelumnya jadi terkelabui. Apalagi kami. Tapi untung kami pakai berbagai sumber informasi sehingga mayoritas yang mereka bina juga bisa kami blokir," tukasnya.
Editor : Firda Rachmawati
