Optimisme Dekranasda Jabar di Pengukuhan Pengurus Periode 2025-2030, Hadapi Tantangan Dinamika Global

Optimisme diapungkan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Barat, dalam pelantikan pengurus anyar periode 2025-2030 di Aula Dekranasda Jabar, Kota Bandung, Kamis 24 April 2025, dalam menghadapi tantangan dinamika global.

Optimisme Dekranasda Jabar di Pengukuhan Pengurus Periode 2025-2030, Hadapi Tantangan Dinamika Global
Optimisme diapungkan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Barat, dalam pelantikan pengurus anyar periode 2025-2030 di Aula Dekranasda Jabar, Kota Bandung, Kamis 24 April 2025, dalam menghadapi tantangan dinamika global.

INILAHKORAN, Bandung - Optimisme diapungkan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (dekranasda) Provinsi Jawa Barat, dalam pelantikan pengurus anyar periode 2025-2030 di Aula dekranasda Jabar, Kota Bandung, Kamis 24 April 2025, dalam menghadapi tantangan dinamika global.

Ketua dekranasda Jabar Noneng Komara Nengsih menuturkan, pada kepengurusan anyar ini, ada tantangan cukup berat yang harus dihadapi.

Salah satunya adalah kebijakan tarif timbal balik atau resiprokal sebesar 32 persen, oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.


Sebab, Amerika Serikat merupakan salah satu negara tujuan ekspor dari produk kriya Jawa Barat.

"Ya, itu yang tadi saya sampaikan juga, mungkin kan menjadi perang tarif. Ini luar biasa ya pengaruhnya, apalagi ekspor kita terbesarnya ke Amerika," ujar Nining usai pelantikan pengurus dekranasda Jabar.

Meski diakuinya, untuk kriya atau kerajinan masih dapat bersaing karena memiliki ciri khas tersendiri. Sehingga memiliki pasar tersendiri di luar negeri.

"Tetapi kalau untuk kerajinan saya berbesar hati, karena kerajinan kan sulit direplikasi apalagi dengan story telling, dengan cerita budaya yang cukup panjang seperti itu," ucapnya.

Misalnya kata Noneng, batik yang tiap daerah memiliki keunikan tersendiri dalam pembuatannya.

"Dalam artian proses batiknya itu kan gak ada tuh di lain tempat seperti itu," kata dia.

Terlepas dari itu kata Noneng, dekranasda juga tetap harus memiliki strategi guna menghadapinya. Rencana kerja 2025-2030 sudah disiapkan, termasuk perluasan kerja bidang

"Tadi saya juga menyampaikan, bagaimana rencana kegiatan 2025-2030 yang tentu saja nanti adalah penambahan dan sebagainya di setiap bidangnya akan diskusi lagi dan ada pertemuan-pertemuan," ujarnya.

Soal kriya andalan Jawa Barat, Noneng menerangkan ada tujuh bahan baku yang masih diminati pasar. Antaranya kerajinan dari kayu, batu, serat alam, tekstil dan logam.

"Tujuh bahan baku tersebut meliputi seluruh kerajinan Jawa Barat yang menggunakan bahan baku tujuh tadi itu. Termasuk kerajinan dan memang itu konsepnya mengenai kerajinan tidak menggunakan mesin yang sangat masif. Mesin-mesin juga sederhana, banyak kan handmade, tetapi punya cerita, punya budaya yang panjang gitu seperti itu," terangnya.

Soal minat pasar saat ini, dia mengatakan fesyen dan home decor tengah digandrungi global. Negara tujuannya seperti Hongkong dan Thailand. Untuk dalam negeri, Bali menjadi peminat tertinggi.

"Tetapi home decor juga kelihatannya lagi meningkat sangat pesat. Home decor kalau Cirebon itu lebih ke rotan ya, lebih ke rotan, tetapi seperti apa namanya, bantal, sarungnya dan sebagainya itu Bandung banyak banget," terangnya.

Ketua Harian dekranasda Jabar Nining Yuliastiani mengamini pernyataan Noneng, mengenai produk kriya yang tahan terhadap ancaman kebijakan resiprokal Amerika.

Tinggal bagaimana kini industri ekonomi kreatif Jabar mulai mencari celah, berani membuka pasar di negara lain selain Amerika.

"Tidak perlu khawatir juga, malah mendorong kita untuk inovasi, kreativitas kita harus lebih tinggi gitu dan kemudian mungkin selama ini kita kan taken given pada posisi, 'Ah ke Amerika pasti laku deh gitu'. Tapi dengan posisi kayak gini, kita bisa kemudian mencari peluang lain yang mungkin sekali lebih baik ya, karena kemudian kita lebih kreatif gitu," paparnya.

Terlebih peluang kian terbuka, usai Indonesia resmi bergabung dengan blok ekonomi yakni Brazil, Russia, India, China, and South Africa atau BRICS.

"Nah ini kita harus membaca bangsa-bangsa itu dan harus meremote kembali gitu ya. Ini pasar prospektif juga, kayak Eropa Timur ini juga bagus gitu ya," kata dia.

"Kita berusaha untuk yang kita usahakan nih, kita berusaha untuk membuka peluang pasar negara lain. Diversifikasi. Diversifikasi negara ekspor. Kita akan nanti bantu promosinya gitu ya, termasuk di dekranasda nanti ini juga akan kita libatkan. Karena di dekranasda kan punya anggota-anggota yang kemudian massif gitu ya. Mereka kemudian punya kegiatan kerajinan yang luar biasa," tandasnya.***


Editor : JakaPermana