Pakar ITB Tekankan Kesiapsiagaan Menyikapi Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera

Pakar Institut Teknologi Bandung (ITB) menekankan pentingnya mitigasi jangka panjang, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi. 

Pakar ITB Tekankan Kesiapsiagaan Menyikapi Banjir Bandang dan Longsor di Sumatera
Kondisi di Padang Sumatera Barat pasca terjadinya banjir bandang dan longsor

INILAHKORAN.ID - pakar Institut Teknologi Bandung (ITB) menekankan pentingnya mitigasi jangka panjang, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi. 

banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara sejak 24 November 2025, menjadi pengingat kualitas tata kelola lingkungan dan sistem mitigasi turut menentukan tingkat risiko dan dampaknya terhadap penduduk.

Ketua Program Studi Meteorologi ITB Muhammad Rais Abdillah menjelaskan, secara klimatologis, wilayah Sumatera bagian utara saat ini tengah berada pada puncak musim hujan. Berbeda dengan sejumlah wilayah lain di Indonesia, kawasan tersebut memiliki pola hujan sepanjang tahun dan berpotensi mengalami dua kali puncak hujan dalam satu periode.

“Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan, karena Sumatera bagian utara memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun, dan saat ini berada pada puncaknya,” kata Rais dalam keterangannya, Senin 1 Desember 2025.

Ia memaparkan curah hujan selama periode kejadian terpantau sangat ekstrem. Berdasarkan data BMKG, sejumlah titik mencatat curah hujan lebih dari 300 milimeter dalam satu hari. Kondisi ini mendekati peristiwa ekstrem yang pernah terjadi di Jabodetabek pada Januari 2020, sehingga wajar apabila dampak banjir dan longsor meluas serta signifikan.

Fenomena atmosfer yang memperkuat hujan ekstrem tersebut dipengaruhi kehadiran Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di sekitar Selat Malaka dan bergerak ke barat. 

Meskipun tidak sebesar siklon di Samudra Hindia atau Pasifik, sistem ini meningkatkan suplai uap air dan memperluas pembentukan awan hujan di wilayah Sumatera bagian utara. Indikasi vortex siklonik dan hembusan angin dingin dari utara juga memperkuat intensitas presipitasi.

Tidak hanya dari sisi atmosfer, pakar geospasial ITB juga menyoroti bahwa kerusakan lingkungan memperparah keadaan di lapangan. Dosen Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Dr. Heri Andreas, menegaskan bahwa mekanisme banjir sangat bergantung pada kemampuan wilayah dalam menyerap air hujan.

“Saat presipitasi turun, sebagian air meresap ke dalam tanah, sementara sisanya mengalir di permukaan. Proporsi antara infiltrasi dan runoff sangat dipengaruhi oleh kondisi tutupan lahan,” jelas Heri.

Jika kawasan penahan air alami seperti hutan dan rawa terdegradasi atau berubah fungsi, kemampuan serapan akan menurun secara drastis. Air hujan yang seharusnya tersimpan di dalam tanah kemudian langsung mengalir cepat ke sungai dan memperbesar risiko banjir bandang.

Heri menekankan perlunya penataan ruang berbasis risiko serta konservasi kawasan resapan air sebagai langkah mitigasi jangka panjang. Upaya ini harus ditunjang dengan ketersediaan data geospasial yang akurat serta pemodelan bahaya banjir yang lebih komprehensif.

Sementara itu, Rais menilai bahwa penguatan sistem peringatan dini juga harus menjadi prioritas. Informasi cuaca dan potensi bencana tidak hanya harus tepat secara ilmiah, tetapi juga mudah dipahami dan dapat langsung ditindaklanjuti oleh masyarakat.

Mitigasi, menurut kedua pakar tersebut, tidak bisa hanya bertumpu pada infrastruktur fisik seperti tanggul, namun memerlukan pendekatan struktural dan nonstruktural yang berjalan beriringan. Literasi kebencanaan, edukasi publik, serta komunikasi yang efektif akan berperan besar dalam mengurangi risiko korban ketika bencana terjadi.

Dengan kolaborasi dan pemanfaatan sains atmosfer, geospasial, serta tata kelola lingkungan yang terpadu, mereka berharap masyarakat Indonesia dapat semakin tangguh menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang cenderung meningkat. ***


Editor : Ahmad Sayuti