Pakar Unpad: Cegah Hepatitis Misterius, Pola Hidup Sehat Diutamakan

Dwi Prasetyo menjelaskan untuk menghindari penularan hepatitis misterius lakukan pola hidup sehat kendati begitu di indonesia nol kasus

Pakar Unpad: Cegah Hepatitis Misterius, Pola Hidup Sehat Diutamakan
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Dwi Prasetyo angkat bicara soal kasus hepatitis misterius yang sedang ramai di eropa.

INILAHKORAN, Bandung - Dunia saat ini kembali digemparkan dengan laporan WHO mengenai adanya penyakit hepatitis yang tidak diketahui atau hepatitis misterius.

Berdasarkan laporan tersebut, kasus hepatitis misterius pertama ditemukan di Inggris awal April lalu, per tanggal 1 Mei telah menyebar di 20 negara, termasuk Indonesia.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Dwi Prasetyo menjelaskan, hepatitis misterius sejatinya merupakan penyakit hepatitis yang tidak diketahui etiologinya.

Baca Juga: Ini Gejala Awal Hepatitis Akut yang Harus Diperhatikan Orang Tua

Hal ini terungkap setelah pemeriksaan awal yang dilakukan otoritas kesehatan Inggris terhadap pasien anak-anak yang terindikasi terkena penyakit tersebut.

“Hepatitis yang biasa kita kenal ada A, B, C, D, dan E. Kejadian di Inggris itu sudah diperiksa ternyata negatif lima hepatitis tersebut. Makanya mereka melaporkan jenis hepatitis yang tidak diketahui etiologinya atau jenis hepatitis non A, B, C, D, E,” papar Dwi Prasetyo, dari laman resmi Unpad, Minggu 8 Mei 2022.

Sampai saat ini, para ahli masih menyelidiki penyebab dari hepatitis misterius tersebut. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit tersebut. Hal ini pun direspons Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dengan mengeluarkan imbauan kewaspadaan dini, terutama untuk dokter anak, dokter umum, tenaga kesehatan, hingga masyarakat.

Baca Juga: Hepatitis Akut Menular Lewat Saluran Cerna dan Saluran Pernafasan, Begini Cara Mencegahnya

Lebih lanjut Kepala Divisi Gastrohepatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad ini menjelaskan, imbauan kewaspadaan IDAI tersebut dikeluarkan mengingat banyak kasus yang dilaporkan terjadi pada kelompok anak-anak.

“Saat ini yang dilaporkan masih anak-anak, tetapi tidak mustahil bisa menular ke orang dewasa. Sekarang masih ditelusuri,” ujarnya.

Ada beberapa kemungkinan anak-anak rentan tertular hepatitis misterius. Prof. Dwi menduga hal ini karena perkembangan imunitas anak yang belum kuat. Apalagi laporan penularan penyakit ini juga terjadi pada bayi yang baru lahir.

Baca Juga: Heboh! Ada Kaitan antara Vaksinasi COVID-19 dengan Penyakit Hepatitis Akut, Kemenkes Buka Suara

“Ini masih diteliti terus, nanti dilihat juga apakah anak-anak yang kena ini ada komorbid, sehat-sehat saja, atau punya gangguan imunitas,” imbuhnya.

Dwi menjelaskan, di luar kasus hepatitis misterius, hepatitis merupakan penyakit yang rentan menular. Penularan hepatitis A ditularkan dari mulut dan pola hidup yang tidak sehat.

Hal ini rentan terjadi pada anak-anak sekolah yang kesadaran menjaga kebersihannya masih kurang. Sementara hepatitis B dan C ditularkan melalui produk darah, di antaranya transfusi darah.

Baca Juga: Nol Kasus, Dinkes Jabar Pantau Terus Hepatitis Akut

“Untuk hepatitis yang tidak diketahui masih belum tahu persis menular lewat mulut atau transfusi. Bisa juga menular lewat semuanya,” ungkapnya.

Penyakit hepatitis A lebih ringan dari jenis Hepatitis B dan C. Kendati demikian, ada beberapa kasus hepatitis A akut yang kemudian berlanjut menjadi kronis dan bisa menyebabkan kematian.

Namun, angka kematian akibat hepatitis A tidak terlalu banyak. Sementara hepatitis B dan C cenderung lebih berat dan bisa lanjut menjadi kronis. Pada beberapa kasus bisa meningkat menjadi sirosis berupa kerusakan organ hati.

Baca Juga: Unpad Serahkan 850 Bingkisan Berisi Paket Sembako kepada 15 Panti Asuhan dan Pesantren

Hal ini kemudian memicu kanker pada penderitanya. Meski demikian, penderira hepatitis B dan C bisa sembuh melalui pengobatan yang terus berkembang. Sementara hepatitis D dan E seringnya menempel atau koinsiden pada hepatitis A, B, dan C. Karena itu, dua hepatitis ini jarang dilakukan pemeriksaan. Hingga saat ini, baru hepatitis A dan B yang sudah memiliki vaksin.

Bahkan, vaksinasi hepatitis B sudah masuk program imunisasi nasional, sehingga bisa diperoleh di tingkat layanan kesehatan primer secara gratis. Meskipun belum diketahui apakah dua jenis vaksin tersebut bisa mencegah penularan hepatitis misterius, Prof. Dwi menegaskan bahwa vaksinasi hepatitis tetap wajib dilakukan.

Karena salah satunya ditularkan melalui pola hidup yang tidak sehat, Dwi mengingatkan masyarakat untuk menerapkan pola hidup higienis dan sering menjaga kebersihan tubuh.

Utamanya adalah menjaga kebersihan tangan. Kendati demikian, masyarakat Indonesia telah banyak belajar menjaga kebersihan dari pandemi Covid-19, sehingga hal ini dapat memperkuat kewaspadaan masyarakat dalam menghindarkan diri dari penularan hepatitis misterius.

Baca Juga: Hanya Selang Satu Hari Setelah Jaeyoon, Chani SF9 Juga Dinyatakan Positif Covid-19

“Masyarakat sudah punya pengalaman tentang hidup sehat dari Covid-19. Ini salah satu cara mencegahnya,” kata Dwi.

Jika terindikasi tertular, Dwi menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke layanan kesehatan. Ciri umum yang mudah terlihat dari hepatitis adalah mata dan kulit yang menguning, warna urine kuning pekat, hingga memiliki gejala demam, mual, dan muntah.

“Segera lapor ke Puskesmas. Sekarang tenaga kesehatan sudah diberikan pedoman dan penanganannya, mulai dari petugas kesehatan di tingkat primer. Kalau di luar kompetensinya, pasien akan dirujuk secara berjenjang,” kata Dwi. *** (okky adiana)


Editor : inilahkoran