Pandemi Membuat Kualitas Pendidikan Menurun
Pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun lamanya membuat kualitas pendidikan terjadi penurunan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir dua tahun lamanya membuat kualitas pendidikan terjadi penurunan.
Siswa ikut pembelajaran daring dikhawatirkan bakal terjadi learning loss atau istilah yang mengacu pada hilangnya pengetahuan dan keterampilan baik secara umum atau spesifik. Atau terjadinya kemunduran proses akademik karena suatu kondisi tertentu.
Melihat hal tersebut, Kepala SMP Persatuan Guru Islam Indonesia (PGII) 1 Kota Bandung Irwan Andriawan mengatakan semua sekolah dipaksa harus melaksanakan proses belajar mengajar secara online. Metode tersebut dinilai kurang optimal, lantaran siswa dengan guru tak bisa tatap muka di sekolah secara langsung.
Baca Juga: Siap Laksanakan PTM Terbatas, 98 Persen Siswa-siswi SMAN 15 Bandung Sudah Divaksin
"Sementara di sisi lain, siswa membutuhkan pengawasan langsung dari sang guru," kata Irwan Andriawan saat ditemui di sekolahnya, Rabu 13 Oktober 2021.
Menurut dia, materi-materi yang diberikan kepada siswa menggunakan kurikulum darurat. Di mana, metode tersebut menyebabkan siswa dan guru tak bisa bertatap muka langsung di sekolah. Sehingga pengawasan guru pun terhadap siswa kurang optimal.
"Memang metode kurikurim darurat itu merupakan instruksi dari Dinas Pendidikan Kota Bandung yang harus diterapkan sekolah-sekolah selama pandemi," ucapnya.
Selain itu, yang menjadi persoalan krusial selama pendemi ini mengenai pendidikan karakter bagi siswa. Apalagi, SMP PGII Kota Bandung merupakan sekolah bernuansa Islami yang lebih menekankan pada pendidikan karakter bagi siswa.
Baca Juga: PTM Terbatas di Sekolah Pasundan, Siswa: Sangat Senang Bisa Belajar dengan Teman-teman
"Karena tidak bisa melaksanakan pembelajaran secara normal, otomatis kualitas pendidikan karakter juga menurun. Karena para guru enggak bisa mengawasi dan memberikan pembinaan langsung," paparnya.
Upaya yang bisa dilakukan adalah, dengan memaksimalkan komunikasi kepada orang tua siswa selama pandemi ini. Pihaknya, harus memastikan siswa tetap mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) di rumah, dengan pendampingan orang tua.
"Peran orang tua sangat penting selama pembelajaran jarak jauh," terangnya.
Kata Irwan Andriawan, kondisi pandemi saat ini berangsur membaik, walau belum tuntas. Maka dari itu, pemerintah membuat regulasi yang membolehkan sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas.
SMP PGII Kota Bandung sendiri, kata dia, melaksanakan PTM terbatas dengan tetap protokol kesehatan (prokes) ketat. Di antaranya, sekolah hanya menampung siswa sebanyak 50 persen selama PTM terbatas tersebut. Itu pun, siswa dan guru harus sudah divaksin.
Baca Juga: Lewat Supervisi, Disdik KBB Pastikan Tidak ada Klaster Baru di Tengah Pelaksanaan PTM Terbatas
"Di SMP PGII Kota Bandung sendiri, vaksinasi siswa sudah mencapai 90 persen lebih. Selain itu, proses belajar mengajar dilaksanakan dengan singkat. Maksimal dua jam lamanya di sekolah. Itu pun siswa masuk sekolah secara bergantian yang sudah diatur sekolah. Bahkan kami tidak membolehkan siswa masuk sekolah jika ada gelaja-gejala sakit. Lebih baik siswa yang sakit di rumah saja," paparnya.
Kendati begitu, kata Irwan Andriawan, PTM terbatas ini juga belum optimal secara keseluruhan. Pasalnya, proses belajar mengajar dilakukan dengan waktu yang cukup singkat.
"Harapan kami ke depan agar pandemi segera berakhir dan kami bisa menyelenggaraan pembelakaran secara full 100 persen," pungkasnya.***(okky adiana)
Editor : inilahkoran

