Panen Kentang Jabar Anjlok 50 Persen, Petani Pangalengan Tertekan

Produktivitas kentang di Jawa Barat anjlok hingga 50 persen dalam hampir dua tahun. Petani Pangalengan menyebut hasil panen turun akibat benih, cuaca ekstrem, d

Panen Kentang Jabar Anjlok 50 Persen, Petani Pangalengan Tertekan
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Produktivitas tanaman kentang di Jawa Barat mengalami penurunan drastis dalam hampir dua tahun terakhir. petani kentang menyebut hasil panen per hektare kini merosot hingga 50 persen dibandingkan kondisi normal.

Ketua Asosiasi Penangkar benih kentang (APBK) Jawa Barat, Aceng Hasan Mutaqien, mengatakan satu hektare lahan kentang dengan benih berkualitas dan bersertifikat biasanya mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 25 ton.

Namun, dalam hampir dua tahun terakhir, produktivitas tersebut turun menjadi rata-rata sekitar 10 ton per hektare.

"Biasanya satu hektare itu bisa menghasilkan 20 sampai 25 ton. Sekarang paling sekitar 10 ton. Jadi penurunannya bisa sampai 50 persen," kata Aceng kepada INILAHKORAN.ID di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Kamis (20/8/2026).

Planlet Kentang Diduga Alami Stunting

Menurut Aceng, salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab penurunan produktivitas adalah kondisi planlet atau calon tanaman kentang yang dihasilkan melalui proses kultur jaringan di laboratorium.

Planlet yang mengalami stunting membuat pertumbuhan tanaman tidak maksimal sejak awal. Kondisi tersebut kemudian berdampak terhadap pembentukan umbi dan hasil panen kentang.

"Ada informasi juga dari pusat bahwa saat ini planletnya stunting, sehingga berpengaruh terhadap produktivitasnya," ujarnya.

Selain persoalan benih, petani kentang juga menghadapi tantangan akibat perubahan dan cuaca ekstrem.

Saat musim hujan, curah hujan tinggi dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, ketika musim kemarau, suhu di sejumlah sentra produksi kentang bisa menjadi sangat dingin.

Bahkan, fenomena embun beku atau frozen sempat terjadi di kawasan Dieng, Jawa Tengah.

"Cuaca ekstrem ini sangat berpengaruh. Proses fotosintesis tanaman tidak berlangsung sempurna," kata Aceng.

Jawa Barat Jadi Salah Satu Sentra Kentang Nasional

Jawa Barat merupakan salah satu daerah penghasil kentang utama di Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, luas panen kentang Jawa Barat pada 2024 mencapai 11.783 hektare dengan produksi sekitar 249.653 ton.

Data Open Data Jawa Barat juga mencatat pemerintah daerah memiliki dataset luas areal tanam dan luas panen kentang hingga 2025 yang bersumber dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat.

Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut selama ini menjadi dua wilayah yang dikenal sebagai sentra produksi kentang di Jawa Barat.

Di Kabupaten Bandung, produksi kentang pada 2024 tercatat sekitar 50.200 ton dengan luas panen mencapai 2.966 hektare. Sejumlah wilayah yang menjadi sentra produksi antara lain Pangalengan, Cimenyan, Kertasari, Paseh, dan Rancabali.

Biaya Produksi Kentang Makin Membebani Petani

Besarnya potensi produksi kentang di Jawa Barat kini menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi.

harga pupuk dan obat-obatan pertanian yang terus meningkat membuat biaya bercocok tanam semakin berat. Meski demikian, sebagian petani tetap memaksakan diri menanam kentang karena harus mempertahankan penghasilan.

"Petani tetap memaksakan menanam karena harus bertahan. Tanamannya memang tumbuh dan bisa dipanen, tetapi hasilnya tidak maksimal," tuturnya.

Menurut Aceng, kondisi tersebut membuat perhitungan antara biaya produksi dan hasil panen menjadi tidak seimbang.

"Kalau dihitung antara biaya produksi dengan hasil yang diperoleh, sangat jauh di bawah modal," katanya.

petani kentang Kehabisan Modal

Penurunan hasil panen yang berlangsung hampir dua tahun turut menciptakan persoalan berantai bagi petani.

Ketika hasil panen terus mengalami kerugian, kemampuan petani untuk kembali mengolah lahan dengan modal yang memadai ikut menurun.

"Karena hasil panennya rugi terus, akhirnya petani dalam mengolah lahannya enggak punya modal yang maksimal. Akibatnya fatal juga, hasil panennya turun drastis 50 persen dari sebelumnya. Kondisi ini sudah kami alami hampir dua tahun terakhir," ujar Aceng.

Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan komoditas kentang di Jawa Barat. Perbaikan kualitas benih, dukungan terhadap petani, pengendalian biaya produksi, serta antisipasi cuaca ekstrem dinilai menjadi faktor penting untuk mengembalikan produktivitas kentang ke tingkat normal.***


Editor : JakaPermana