Paving Block Limbah Plastik Kurangi 65 Persen Sampah
Untuk mengurangi limbah plastik, Satgas Citarum Harum Sektor 2 bersama bank sampah Warisan Alam di Desa Sukapura, Kecamatan Kertasari, mengubahnya menjadi paving block.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Soreang - Untuk mengurangi limbah plastik, khususnya kantong keresek, Satgas Citarum Harum Sektor 2 bekerja sama dengan bank sampah Warisan Alam di Desa Sukapura, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, mengubahnya menjadi paving block.
Anggota Satgas Citarum Harum Sektor 2, Serma Ashari mengatakan, ide pembuatan paving block berbahan sampah plastik keresek ini, bertujuan untuk mengolah limbah keresek yang memang tak memiliki nilai ekonomi alias tak laku dijual.
Kemudian, pihaknya bersama dengan bank sampah Warisan Alam yang ada di Desa Sukapura itu menginisiasi pembuatan paving block. Hasilnya ternyata luar biasa, pengolahan limbah ini diklaim mampu mereduksi atau mengurangi sampah hingga 65 persen.
"Sebenarnya ini bukan hal baru, video serupa juga banyak di Youtube. Waktu kami coba, hasilnya sangat memuaskan. Awalnya, sampah keresek yang semula berserakan begitu saja, sekarang habis bersih dan menjadi barang baru yang bermanfaat. Bahkan, sekarang kami harus mencari sampah plastik ke desa-desa tetangga," kata Ashari, Senin (23/9/2019).
Menurutnya, untuk membuat satu buah paving block, dibutuhkan sekitar 1 kilogram limbah plastik keresek. Kemudian, plastik keresek tersebut dilebur dengan cara dipanaskan dengan suhu tertentu.
Setelah limbah keresek ini mencair kemudian dicampur dengan pasir dengan perbandingan 50 persen. Selanjutnya, cairan plastik yang telah dicampur pasir ini dimasukkan ke cetakan besi berbentuk paving block. Dalam waktu sekitar 5 menit, paving block dari limbah plastik keresek ini sudah jadi.
"Nah bahan bakar untuk memanaskan alat ini adalah biosolar yang kami suling dari limbah plastik juga, jadi ini benar benar pemanfaatan limbah plastik yang sudah tidak ada nilai ekonomi menjadi suatu barang baru yang punya nilai ekonomi," ujarnya.
Ashari menjelaskan, dalam sehari produksi paving block berbahan limbah kantong keresek itu antara 400 hingga 500 buah. Hasil produksi paving block mereka ini telah dipakai atau dimanfaatkan untuk kantor desa dan juga beberapa sekolah yang ada di Desa Sukapura.
Saat ini, mereka mendapatkan pesanan paving block dari Pemerintah Kabupaten Bandung. Produksi paving block ini dikerjakan bersama dengan bank sampah Warisan Alam, kader PKK, karang taruna, dan kelompok masyarakat lainnya.
"Alhamdulillah sudah dipakai di kantor desa dan juga sekolah-sekolah. Paving block berbahan limbah plastik keresek ini dijual Rp120 ribu per meter persegi. Sedangkan paving block biasa yang berbahan semen dan pasir sekitar Rp90 ribu," katanya.
Ketua Bank Sampah Warisan Alam Desa Sukapura, Rendi Firmansyah menambahkan, produksi paving block di tempatnya itu adalah bagian dari pada program Citarum Harum yang tengah dilaksanakan sejak beberapa tahun ini.
Selain produksi paving block, sebenarnya ada juga beberapa produk dari bank sampah Warisan Alam yang merupakan bagian dari Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Sukapura itu, yakni Tabungan Ramadan, Tabungan Reguler, Tabungan Pendidikan, dan Tabungan Kesehatan dan Barter.
Semua produk perbankan yang mereka sediakan ini dibayar atau menggunakan sampah sebagai alat transaksinya.
Sepintas, bentuk, ukuran, dan motif paving block yang terbuat dari limbah plastik ini tak jauh berbeda dengan yang dibuat dengan bahan pasir dan semen. Namun, warna paving block dari bahan plastik ini warnanya lebih hitam dan sedikit mengkilap.
Secara umum, paving block tersebut tak jauh berbeda dengan yang ada di pasaran. Namun, dibalik kesamaannya ini, terdapat juga beberapa keunggulan, di antarannya lebih tahan banting dan ditindih dengan beban beberapa ton pun mampu bertahan alias tak mudah pecah. (Rd Dani R Nugraha)
Editor : suroprapanca

