Pemkot Bogor dan Bogor Historia Kumpulkan Informasi Sejarah Kawasan Batutulis
Wali Kota Bogor Bima Arya bersama komunitas Bogor Historia melakukan ekspedisi dengan mengunjungi situs-situs peninggalan Kerajaan Pakuan Pajajaran di wilayah Bogor Selatan. Hal itu dilakukan untuk mematangkan rencana penataan kawasan Batutulis.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bogor - Wali Kota Bogor Bima Arya bersama komunitas Bogor Historia melakukan ekspedisi dengan mengunjungi situs-situs peninggalan Kerajaan Pakuan Pajajaran di wilayah Bogor Selatan. Hal itu dilakukan untuk mematangkan rencana penataan kawasan Batutulis.
Bima memulai perjalanan dari Balai Kota Bogor menggunakan kendaraan roda dua dengan tujuan mengunjungi titik-titik situs di Kelurahan Empang dan Batutulis. Titik pertama yang dikunjungi yakni Batu Dakon di Kelurahan Empang.
Kemudian, perjalanan dilanjutkan menuju Kampung Kebon Pala, Kelurahan Batutulis untuk menengok Situs Kupa Landak. Situs ini merupakan petilasan salah satu tokoh kepercayaan Prabu Siliwangi. Tak jauh dari titik tersebut, rombongan juga melihat Situs Ranggapati yang merupakan tinggalan masa klasik di Bogor, yang kemudian dilanjutkan melewati masa Islam hingga saat ini. Situs ini terdiri dari tujuh buah batu berbagai bentuk.
Masih di kawasan Batutulis, tepatnya di dekat Pasar Balekambang, rombongan juga melihat peninggalan Batu Congkrang. Batu tersebut merupakan tinggalan masa pra sejarah dan merupakan saksi kepurbakalaan bahwa ratusan tahun yang lalu di tempat tersebut sudah ada permukiman manusia.
Beberapa situs lain yang dikunjungi Arca Puragalih dan sejumlah peninggalan yang berceceran di rumah-rumah warga.
"Saya lihat beberapa titik situs, kunci utamanya bagaimana kami bisa menggali informasi sebanyak mungkin dan dilakukan kajian sehingga kami bisa memiliki runutan sejarah yang valid," katanya, akhir pekan lalu.
Bima melanjutkan, peninggalan-peninggalan tersebut harus betul-betul dilindungi. Dirinya akan kumpulkan lagi informasi titik-titik mana saja dan diminta Kadisparbud, Camat, Lurah untuk memberikan atensi khusus untuk membuat barikade dulu. Jangan sampai yang ada sekarang kemudian dirusak atau hilang.
"Jadi yang eksisting sekarang kita jaga dulu sembari kita lakukan kajian. Harus ada tim khusus untuk menyusun versi sejarah yang valid. Ini memang harus ada tim khusus yang isinya sejarawan, budayawan, arkeolog, komunitas-komunitas juga untuk menyusun versi sejarah yang valid. Karena kami tidak mungkin bisa melakukan penataan kawasan tanpa didasari oleh versi sejarah yang valid," terangnya.
Bima menambahkan, kemarin ada keinginan-keinginan untuk membuat replika keraton tapi itu harus dilakukan berdasarkan fakta sejarah. Jadi, ini perlu tim lintas elemen, karena harus telusuri semua karena semua punya versi.
"Saya menerima juga beberapa versi yang berbeda. Tapi kami runut itu berdasarkan sejarah. Mengenai temuan peninggalan yang ada di rumah warga, saya minta aparatur wilayah untuk mendata dan mengkomunikasikan kepada warga terkait penataan kawasan Batutulis. Yang penting kami data dulu, tadi ditemukan di rumah warga yang kami tidak bisa akses. Apakah itu koleksi yang diambil, ataukah memang ada di situ sejak dulu, kan perlu ditelusuri. Yang penting Disparbud, Camat dan Lurah akan fokus dulu ke kawasan ini semuanya," bebernya.
Sementara itu, Ketua Bogor Historia Yudi Irawan mengatakan aksi yang dilakukan Pemkot Bogor menjadi langkah awal yang baik dalam melakukan penataan kawasan heritage Batutulis. Namun, hal itu perlu ditindaklanjuti dengan melibatkan sejumlah pihak, termasuk dengan para ahli yang berkompeten dibidang yang berkaitan dengan kepurbakalaan dan segera melakukan koordinasi atau FGD dengan Balai Arkeologi serta Balai Pelestarian Cagar Budaya.
"Selain melibatkan akademisi, kehadiran komunitas atau volunteer yang konsen dan peduli terhadap peninggalan sejarah juga perlu dilakukan. Di setiap kota/kabupaten itu memang perlu adanya Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang didalamnya itu terdiri dari para ahli di bidang arkeologi, antropologi, sejarah, hukum, arsitektur, filologi dan museologi. Komunitas itu ada dibinaan mereka," pungkasnya. (Rizki Mauludi)
Editor : Doni Ramdhani

