Pemprov Gencarkan Mitigasi, Tekan Angka Diabetes di Jabar
Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menggencarkan mitigasi, dalam rangka menekan angka penderita diabetes di Jabar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menggencarkan mitigasi, dalam rangka menekan angka penderita diabetes di Jabar.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar Vini Adiani Dewi menuturkan, sejauh ini diakuinya memang penanganan diabetes masih belum optimal.
"Kita masih penanganannya sekitar 70-80 persen. Dan ini kasusnya kalau menurut data Survei Kesehatan Indonesia, sekitar 1,1 juta (penderita diabetes)," ujar Vini pada sela Talkshow Smart Healthy Jawa Barat dan Skrining Diabetes bagi ASN Pemprov di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 3 Juni 2025.
Maka dari itu, pihaknya menargetkan menurunkan angka diabetes di Jabar. Terlebih Gubernur Dedi dikatakan Vini, sangat concern pada pencegahan penyakit berat dan peningkatan layanan kesehatan tradisional.
Maka dari itu, nantinya di RSUD Al Ihsan sambung Vini, akan disiapkan Poliklinik khusus untuk layanan kesehatan tradisional.
"Jadi tidak saja konvensional yang sekarang, tapi beliau concern dengan pelayanan kesehatan tradisional," ucapnya.
Demikian pula pada kegiatan ini, selain edukasi juga dilakukan skrining diabetes, bertujuan untuk mencegah. Sebab diabetes dapat menyebabkan penyakit lain seperti jantung, stroke maupun gagal ginjal.
"Itu tentu menyebabkan kesakitan, kematian dan pembiayaan tinggi," kata dia.
Sementara soal layanan kesehatan tradisional, cenderung akan memaksimalkan bahan tradisional seperti jamu, yang tentunya sudah terdaftar di BPOM.
"Kita juga mengembangkan akupuntur, akupresur, termasuk jamu tradisional. Itu nanti ke depan kita akan kembangkan di 27 kabupaten/kota," ucapnya.
Mengenai kesehatan, ada beberapa faktor yang memengaruhi kata Vini. Antaranya lingkungan 45 persen, pola hidup 35 persen, genetik lima persen dan 20 persen dari layanan kesehatan.
"Jadi minum obat, penyediaan rumah sakit dan sebagainya itu hanya men-support 20 persen. Artinya yang 75 persennya itu adalah pola hidup dan lingkungan. Nah sekarang itu kan lingkungan kita semua udah mager ya. Terus yang kedua semua jadi serba instan, tapi aktivitasnya berkurang. Itulah yang membuat orang mudah terkena penyakit," kata dia. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti

