Pemudik Keluhkan Eskalator Mati dan Asap Rokok di Terminal Leuwipanjang Bandung

Sejumlah penumpang mengeluhan kondisi Terminal Leuwipanjang Bandung yang tidak nyaman menyusul eskalator mati dan banyak asap rokok. 

Pemudik Keluhkan Eskalator Mati dan Asap Rokok di Terminal Leuwipanjang Bandung
Para pemudik dari berbagai daerah saat tiba di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/3/2026). (ANTARA/Rubby Jovan)

INILAHKORAN.ID - Aspek kenyamanan dan layanan di Terminal Leuwipanjang Kota Bandung mendapat sorotan negatif. Masyarakat pengguna fasilitas umum tersebut mengeluhkan eskalator mati dan asap rokok

Julian (30), seorang pemudik dari Palembang mengaku kesulitan dengan kondisi eskalator di Gedung A yang merupakan tempat turun penumpang.

Bersama anak dan istrinya, dia harus berjalan menenteng barang bawaan untuk mengakses bus kota yang lebih nyaman melalui lantai dua karena eskalator mati.

"Ya cukup kesulitan juga, kan dari sini mau ambil bus kota harus ke jajaran depan antrean bus lewat lantai dua biar tidak lewat tempat parkir bus. Harusnya sih momen begini berfungsi ya," ujarnya, seperti dikutip dari ANTARA, Jumat (27/3/2026). 

Selain eskalator yang tak berfungsi, asap rokok juga menjadi sorotan penumpang bus dari Terminal Tipe A tersebut. Banyak yang terlihat merokok bukan pada tempatnya di area gedung tertutup.

Rizky (38), seorang pemudik yang akan kembali ke Bekasi, menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, asap rokok mengurangi kenyamanan fasilitas yang terbilang sudah bagus. Terlebih jika penumpang membawa serta anak-anak yang rentan terpapar asap rokok

"Sangat disayangkan ya, saya yang bawa anak juga jadi harus cepat-cepat ke bus biar keluarga tidak terlalu terpapar asap. Harapannya dipastikan ada area khusus merokok dan penegakan aturan sih biar nyaman dan aman. Karena kalau sekarang jadi kurang nyaman dan kotor juga karena puntungnya di mana saja," ucap dia.

Kepala Terminal Leuwipanjang Asep Hidayat mengatakan sorotan dari masyarakat akan menjadi masukan pihaknya dalam melaksanakan evaluasi guna perbaikan fasilitas terminal ke depannya.

Terkait eskalator yang tidak berfungsi padahal sangat dibutuhkan oleh para pemudik, Asep menjelaskan, pihak terminal sengaja mematikannya sehubungan dengan ketiadaan mekanik saat waktu libur seperti periode Lebaran 2026.

"Jadi memang ini sengaja disiasati karena bila panas suka mati sendiri, sementara mekanik eskalator dari vendor tidak hadir kalau libur," ujar Asep.

Terkait kemungkinan merekrut mekanik sendiri oleh pihak terminal sebagai solusi atas persoalan yang dihadapi, Asep mengatakan hal itu jadi kewenangan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Jawa Barat.

"Ini juga jadi evaluasi ya. Vendor itu sudah kontrak dengan kita untuk setahun. Untuk pengadaan mekanik itu kewenangan BPTD kita yang usulkan, karena anggaran bukan di kita," ucapnya.

Sementara soal isu asap rokok, Asep mengatakan, terminal sejatinya telah menyiapkan ruang khusus yakni di lantai dua yang terlewati oleh penumpang ketika menuju bus, serta area khusus di shelter tempat deretan kantor Perusahaan Otobus (PO).

"Tapi memang belum terbatas hanya di tempat itu, jadi masih ada yang di jalur bus, jalur penumpang, di bawah pohon dan lainnya. Tapi tidak ada yang di area gedung, karena sudah tahu," ucapnya.

Namun Asep mengatakan hal ini akan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depannya, salah satunya dengan menentukan titik area merokok, serta penambahan tempat pembuangan sampah rokok agar bisa bersih.

"Memang harus ditentukan titik tertentu di luar ruangan untuk area merokok, yang memang jauh dari kerumunan, itu juga jadi acuan saya. Kemudian vendor kebersihan juga kami akan minta untuk memperhatikan soal sampah puntung rokok," tutupnya. ***


Editor : Gin gin T Ginulur