Pemulihan Ekonomi Daerah, Pemkot Bandung Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6,75 Persen
Wali Kota Bandung Oded M Danial bertekad mengembalikan pertumbuhan ekonomi seperti pada 2019 yang menyentuh 6,75 persen.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pemkot Bandung terus berusaha memulihkan ekonomi yang tengah terpuruk akibat pandemi Covid-19. Wali Kota Bandung Oded M Danial bertekad mengembalikan pertumbuhan ekonomi seperti pada 2019 yang menyentuh 6,75 persen.
“Sejak kasus pertama Covid-19 di Kota Bandung pada Maret 2020, pertumbuhan ekonomi terus mengalami penurunan. Padahal pada 2019 kita berhasil memperoleh pencapaian membanggakan dengan pertumbuhan ekonomi kota 6,75 persen atau di atas angka nasional dan provinsi,” kata Oded M Danial, Kamis 30 September 2021.
Oded M Danial mengungkapkan hal itu saat menjadi keynote speaker webinar pemulihan ekonomi Kota Bandung “Smart Growth–Suistainable Growth–Inclusive Growth" di Hotel La Grande, Kamis 30 September 2021. Webinar ini digelar Tim Pertimbangan Kebijakan Wali Kota Bandung dan Komite Pemulihan Ekonomi Daerah Jawa Barat.
Baca Juga: Tahun Ini, Pemkot Bandung Fokus Pemulihan Ekonomi
Pemateri dalam webinar tersebut di antaranya Ketua Harian Komite Pemulihan Ekonomi Daerah (KPED) Jabar Ipong Witono, Ketua Tim Pertimbangan Kebijakan Wali Kota Bandung Asep Warlan, Guru Besar Ekonomi Universitas Islam Bandung Atih Rohaeti Dariah, Koordinator Sahabat UMKM Kota Bandung Fitria dan Ketua Kadin Kota Bandung Iwa Gartiwa.
Oded M Danial mengakui, pandemi Covid-19 merusaknya sampai angka minus 2,28 persen. Itulah masa masa tersulit yang hampir dialami 2,5 juta warga Kota Bandung.
“Pertumbuhan ekonomi Kota Bandung 2021 sekarang sudah di angka 4 persen, dan mudah-mudahan bisa ditingkatkan lagi,” ucap Oded M Danial.
Oded Oded M Danial menjelaskan, hal pertama yang harus dilakukan agar pemulihan ekonomi bisa berkelanjutan yaitu mengendalikan Covid-19. Sebab ekonomi akan sulit tumbuh jika kegiatan produksi, distribusi maupun konsumsi tidak berjalan akibat para pelaku ekonominya sakit terpapar.
“Dengan memelihara derajat kesehatan masyarakat pada level yang diharapkan, maka proses ekonomi bisa dijalankan dengan berkelanjutan. Ketika penanganan kesehatan sudah berjalan baik, dari sini kita menentukan stategi ekonomi dengan lebih kokoh,” ujar Oded M Danial.
Menurutnya, Kota Bandung memiliki modal kuat untuk beradaptasi dengan baik.
“Sebagai salah satu pioneer Smart City di indonesia, kita punya peluang besar untuk cepat mengadopsi kemajuan teknologi digital. Hampir semua warga bahkan dari berbagi lapisan sudah memiliki gawai sendiri. Bahkan jika dijumlahkan, gawai lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk,” jelasnya.
Sebagai kota yang mengandalkan pemasukan sektor jasa dan perdagangan, Oded mengatakan, bukan hal mudah untuk mengembalikan tren positif ekonomi seperti pada tahun 2019. Namun sebagai kota jasa dan perdagangan, Oded berharap pertumbuhan bisa berjalan baik.
Baca Juga: Konser Akbar Masih Terlarang di Bandung, Hanya Boleh Acara Musik Kafe Saja
“Saya punya harapan pertumbuhan ini berjalan dalam koridor. Dimana keadilan dan patisipasi semua elemen masyarakat untuk mengakses sumber sumber ekonomi dapat diciptakan. Kita juga harus memberikan kesempatan pada sektor UMKM yang sudah terbukti krisis ke krisis selalu menjadi penyelamat ekonomi kota. Oleh karena sifatnya yang riil dapat dirasakan masyarakat,” ujar Oded M Danial.
Sementara itu, Ketua Tim Pertimbangan Kebijakan Wali Kota Bandung Asep Warlan Yusuf mengatakan kebijakan penyelenggara kegiatan ekonomi harus didukung oleh kebijakan tata ruang, infrastruktur, keamanan lokasi, penanaman modal, ketenagakerjaan, pajak daerah dan retdibusi.
“Selain itu juga perlunya perijinan usaha, distribusi barang dan jasa, pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup, pertanahan, kemudahan sumber pendanaan dan aparatur birokrasi yang bersih, kompeten dan responsif,” kata Asep Warlan Yusuf.
Baca Juga: Buang Euforia! Wakil Rektor ITB Sebut PTM Digelar untuk Tingkatkan Atmosfer Akademik
Dia menambahkan, pemerintah daerah wajib memberikan perlakuan yang sama terhadap investor, menjamin kepastian hukum, menjamin kepastian usaha, memberikan kemudahan berusaha, mejamin keamanan berusaha dan mengembangkan serta memberikan perlindungan dan kesempatan penanaman modal kepada UMKM dan koperasi.
“Adapun bidang usaha prioritas, merupakan bidang usaha yang memenuhi kriteria, pada modal, padat karya, industri kreatif, tekonologi tinggi, industri perintis, orientasi eksopor dan penelitian, pengembangan serta inovasi. Bidang usaha prioritas meliputi, perdagangan, pariwisata MICE, jasa, telekomunikasi, infrastruktur dan perumahan, perhubungan, seni dan budaya, manufaktur, makanan dan minuman serta fesyen,” ucapnya.
Asep Warlan Yusuf menerangkan, bidang usaha kemitraan dengan UMKM dan koperasi, diarahkan untuk membentuk, mengembangkan dan memulihkan UMKM serta koperasi yang lebih profesional, tangguh mandiri dan berdaya.
Baca Juga: Percepat Pemulihan Ekonomi, ITB Gelar Bursa Kerja
“Arah kemitraan meliputi peningkatan kapasitas SDM, bantuan permodalan, pengembangan teknologi, promosi dan pemasaran, konsultasi dan pendampingan serta kualitas produk dan kemasan,” ujarnya.
Adapun bentuk pemberian insentif. Seperti penghargaan sampai kemudahan dalam proses pembentukan usaha.
“Bentuk pemberian insentif berupa, pemberian penghargaan, pengurangan dan peringanan atau pembebasan pajak daerah, keringanan dan pembebasan retribusi daerah, pemberian dana stimulan untuk usaha mikro kecil menengan dan koperasi,” jelas Asep Warlan Yusuf.
Baca Juga: Akselerasi Pemulihan Ekonomi Daerah, BI Jabar Genjot Digitalisasi Kota Depok
Di tempat yang sama, Ketua Harian Komite Pemulihan Ekonomi Daerah (KPED) Jabar Ipong Witono mengatakan peradaban baru di masa pandemi covid-19 perlu banyak dipelajari. Salah satunya pemulihan ekonomi yang harus mengembalikan berbagai sektor.
“Kita mendapat hikmah covid-19 ini luar biasa. Memang manusia perlu diingatkan oleh semesta. Pertama, hikmah Covid-19 adalah terbangun koneksi sosial. Mulai dari Satgas TNI, Polri, pemerintah dan unsur lainnya berjuang bersama warga kita lalui bersama,” kata Ipong Witono.
Sedangkan untuk pemulihan ekonomi wajib memiliki pemahaman terkait pandemi. Mulai dari kesehatan sampai mobilitas.
“Pahami bahwa situasi ekonomi ini tidak lepas subjeknya adalah pendemi. Pemulihan ekonomi ini bergantung untuk belajar mengendalikan mobilisasi kepada pelaku usaha. Apabila insentif ini sesuai dengan situasi, ada harapan. Contohnya sektor pajak kendaraan bermotor di Jabar menjadi turun akibat pandemi. Namun kita tidak harus bergantung dari hal itu. Perlu kemandirian untuk bersama membangun kembali ekonomi,” ucap Ipong Witono. (yogo triastopo)
Editor : inilahkoran

