Pengakuan Ykha Amelz, Ilustrator Gambar Ismail Marzuki Ikon Google Doodle di Hari Pahlawan 2021

Seniman Ykha Amelz memuat sebuah pengakuan di balik karya sketsa gambar Ismail Marzuki yang jadi Google Doodle hari ini.

Pengakuan Ykha Amelz, Ilustrator Gambar Ismail Marzuki Ikon Google Doodle di Hari Pahlawan 2021
Ismail Marzuki jadi Google Doodle hari ini. Sketsa wajahnya dibuat seniman Ykha Amelz.

INILAHKORAN, Bandung- Sosok Ismail Marzuki jadi Ikon Google Doodle bertepatan dengan Hari Pahlawan 2021. Sketasa gambar dibuat seninam Ykha Amelz.

Ismail Marzuki merupakan seorang komposer legendaris. Lagu-lagunya tak asing di telinga kita. Hal itulah, yang mendasari Ykha Amelz membuat sketsa wajah Ismail Marzuki untuk Google Doodle.

Ykha Amelz memandang musik sebagai topik menarik dan memiliki peran besar dalam hidupnya. Dan Ismail Marzuki, adalah seorang yang dianggapnya berjasa untuk dunia musik. Wajar ketika kemudian muncul sebagai Google Doodle.

Baca Juga: Lirik Lagu 'Halo Halo Bandung' Karya Ismail Marzuki yang Jadi Ikon Google Doodle Hari Ini

"Ditambah juga ketika saya masih remaja saya sering pergi ke Taman Ismail Marzuki dekat rumah saya untuk melihat-lihat toko buku lama, menonton film, melihat planetarium, dll. Tempat ini menyimpan banyak kenangan," kata Ykha Amelz seperti dikutip antaranews.com.

Ykha Amelz lantas berbagi pengalaman ketika pertama kali ditawari proyek untuk membuat sketsa Ismail Marzuki di Google Doodle.

Di mata Ykha Amelz, Ismail Marzuki adalah salah satu pahlawan favoritnya. Dia tak bisa membayangkan ketika Ismail Marzuki menciptakan sebuah lagu.

"Saya menggambarnya sambil membayangkan kecintaannya pada musik. Percikan yang dia rasakan ketika dia mengalami instrumen baru. Saya menekankan karakter romantisnya dengan memilih biola sebagai instrumennya untuk Google Doodle ini."

Baca Juga: Sketsa Ismail Marzuki Jadi Google Doodle Hari Pahlawan 2021, Ini Jejak Karya sang Komposer

Ykha berharap, ketika masyarakat melihat Google Doodle, secara otomatis salah satu lagu Ismail Marzuki akan terngiang di kepala mereka.

"Dan, teringat akan semangat juang yang dimiliki Ismazil Marzuki untuk musik lokal dan kebebasan berekspresi," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Google Doodle di Hari Pahlawan 2021, menampilkan komposer Indonesia Ismail Marzuki. Lagu-lagu patriotiknya menjadikannya sebagai pahlawan nasional selama gerakan kemerdekaan bangsa.

Baca Juga: Anies Baswedan Cuma Sibuk Nyari Ember, Wendy Cagur: Jangan Diem Aja Kerja Pak!

Mengutip Google melalui keterangannya, Rabu, pada hari ini di tahun 1968, pemerintah Indonesia menghormati warisannya dengan peresmian apa yang sekarang menjadi Pusat Kesenian Jakarta - Taman Ismail Marzuki (TIM).

TIM sendiri berfungsi sebagai pusat pelestarian warisan budaya Indonesia dan inovasi kreatif dalam seni rupa, musik, teater, tari, dan film.

Ismail Marzuki lahir di Kwitang, Jakarta Pusat, Indonesia pada 11 Mei 1914, ketika wilayah itu berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Meskipun profesi musik tidak umum di komunitas ini, Marzuki tumbuh berlatih hingga lima jam sehari untuk menguasai delapan instrumen: harmonika, mandolin, gitar, ukulele, biola, akordeon, saksofon, dan piano.

Baca Juga: Anies Baswedan Gagah Pakai Seragam Damkar, Andhika Pratama: Pantang Pulang Sebelum Presiden!

Pada usia 17, ia menggubah lagu pertama dari ratusan lagu yang akan ia hasilkan sepanjang kariernya.

Lagu-lagu Marzuki menangkap perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan nada melankolis sekaligus mewakili ketahanan bangsa melalui melodi yang melambung.

Dia mengisi hati orang Indonesia dengan kebanggaan selama bertahun-tahun dengan menyiarkan lagu-lagunya (sembilan di antaranya menjadi lagu kebangsaan) di radio publik.

Pada tahun 1955, Marzuki mengambil alih sebagai pemimpin Orkestra Studio Jakarta yang bergengsi dan menggubah lagu Pemilihan Umum, tema musik pemilihan umum pertama di Indonesia.

Baca Juga: Pernah Kecemplung Got, Anies Baswedan: Gak Sakit Cuman Malunya Lama

Untuk menghormati kontribusi budayanya, pemerintah Indonesia menobatkan Marzuki sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2004.***


Editor : inilahkoran