Pengamat Bilang Pendukung Paslon Nomor Urut 1 dan 3 Pilwalkot Bogor 2024 Berikan Contoh Tidak Baik, Jangan Sampai Terulang

Pengamat politik dan kebijakan publik dari Lembaga Visi Nusantara Maju Yusfitriadi angkat suara soal kericuhan pendukung pasangan calon nomor urut 1 dengan paslon nomor urut 3 pada Pilwalkot Bogor 2024. 

Pengamat Bilang Pendukung Paslon Nomor Urut 1 dan 3 Pilwalkot Bogor 2024 Berikan Contoh Tidak Baik, Jangan Sampai Terulang
Yusfitriadi mengaku sangat menyesalkan adanya insiden kericuhan yang terjadi dalam forum debat Pilwalkot Bogor 2024 di UIKA Bogor karena itu merupakan sarana dan tempat bagi paslon beradu gagasan juga konsep bagi pengembangan Kota Bogor ke depan. (rizki mauludi)

INILAHKORAN, Bogor - Pengamat politik dan kebijakan publik dari Lembaga Visi Nusantara Maju Yusfitriadi angkat suara soal kericuhan pendukung pasangan calon nomor urut 1 dengan paslon nomor urut 3 pada Pilwalkot Bogor 2024. 

Yusfitriadi mengaku sangat menyesalkan adanya insiden kericuhan yang terjadi dalam forum debat Pilwalkot Bogor 2024 di UIKA Bogor karena itu merupakan sarana dan tempat bagi paslon beradu gagasan juga konsep bagi pengembangan Kota Bogor ke depan.

"Kejadian ini menjadi sebuah gambaran kedewasaan dalam merespons fenomena politik ternyata belum dimiliki sepenuhnya oleh para pendukung paslon Wali Kota Bogor. Yang terlibat dalam acara debat di UIKA ini kan dari kalangan terdidik, artinya bukan masyarakat biasa, karena undangan yang hadir dibatasi," kata Yusfitriadi kepada wartawan, Minggu 6 Oktober 2024.

"Bagaimana jadinya jika pendukung pasangan calon terdidik seperti itu masih tidak dewasa dalam mengikuti dinamika politik," tambah Yus.

Yus melanjutkan, dirinya merasa heran, bagaimana bisa pendukung yang terdidik memiliki sikap yang arogan dan menjadi contoh yang tidak baik bagi kalangan masyarakat luas. Pendukung yang terdidik saja sikapnya seperti ini, apalagi pendukung yang biasa-biasa aja. 

"Ini tentu menjadi contoh yang tidak baik bagi para pendukung lainnya, terkhusus masyarakat biasa. Seharusnya, dalam momentum menarik simpati masyarakat pada tahapan kampanye ini, semua pihak terutama pasangan calon, pengusung dan pendukungnya menampilkan performa yang bisa menjadi simpati publik bukan malah melakukan hal sebaliknya," terang Yus.

"Nah, yang dipertontonkan kalangan terdidik ini adalah perbuatan yang jauh dari etika dan moral politik. Oleh karena itu, penting bagi pasangan calon dan para pendukungnya untuk mengevaluasi, jangan sampai fenomena seperti ini terjadi lagi," tegas Yus.


Editor : Doni Ramdhani