Pengamat: Rebranding Tidak Mendesak, RSUD Cibabat Harusnya Fokus Tingkatkan Layanan
Perubahan nama atau rebranding RSUD Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya menuai kritikan menohok dari pengamat politik dan pemerintahan dari Unjani Arlan Siddha.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Perubahan nama atau rebranding RSUD Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya menuai kritikan menohok dari pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Arlan Siddha.
Diketahui, Wali Kota Cimahi Ngatiyana secara resmi mengganti nama RSUD Cibabat menjadi RSUD Wijaya Mulya dalam Sosialisasi Hasil Kajian Rebranding RSUD Cibabat Kota Cimahi yang digelar di RSUD Cibabat, Senin (20/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya proses kajian yang dilakukan bersama PT MarkPlus Indonesia sekaligus diklaim menjadi langkah awal transformasi rumah sakit milik Pemerintah Kota Cimahi menuju wajah baru sebagai RSUD Wijaya Mulya.
Arlan menilai, pergantian nama atau rebranding semata tidak memiliki urgensi yang kuat dan berisiko memunculkan persoalan administrasi serta biaya tambahan yang tidak sedikit, sementara masyarakat justru menantikan perbaikan mutu layanan yang nyata.
"Langkah tersebut berpotensi hanya menjadi tren ikut-ikutan atau FOMO (fear of missing out) tanpa landasan filosofis yang mendalam," kata Arlan kepada INILAHKORAN.ID, Selasa (21/7/2026).
Arlan menyebut, nama RSUD Cibabat sudah melekat lama di ingatan masyarakat dan tidak menimbulkan kebingungan akses.
"Jangan sampai perubahan ini justru menimbulkan kebingungan baru bagi tenaga kesehatan, mitra kerja sama, hingga pemasok obat yang harus menyesuaikan dokumen kontrak dan administrasi dari awal lagi," sebutnya.
"Belum lagi butuh adendum perjanjian kerja sama yang memakan waktu dan sumber daya. Harusnya mengutip pergantian nama RS Al-Ihsan di Jawa Barat yang membutuhkan masa adaptasi panjang," sambungnya.
Daripada berfokus pada perubahan identitas nama, Arlan menyarankan pembenahan menyeluruh pada substansi pelayanan, kelengkapan alat medis, dan kepuasan pasien.
"Rebranding sejati tercipta melalui kepercayaan publik atas kinerja yang prima, bukan sekadar papan nama baru," ucapnya.
Arlan mengingatkan, pemerintah daerah sebaiknya memprioritaskan terobosan teknologis, efisiensi sistem, dan inovasi yang meringankan beban warga.
"Masyarakat lebih percaya jika rumah sakit meluncurkan layanan baru atau peralatan mutakhir, dibanding sekadar mengganti nama lama yang sudah dikenal luas," tegasnya.
Sebelumnya, Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan rebranding bukan sekadar mengganti nama, logo, ataupun slogan rumah sakit. Menurutnya, perubahan identitas harus diikuti perubahan cara berpikir, budaya kerja, dan kualitas pelayanan sehingga mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan pemerintah.
"Kalau rebranding hanya berhenti pada pergantian nama, tentu tidak akan memberikan nilai tambah. Yang kita bangun adalah transformasi menyeluruh, mulai dari citra, budaya pelayanan, hingga kualitas layanan kesehatan yang benar-benar dirasakan masyarakat," kata Ngatiyana.
Ngatiyana menjelaskan, selama ini rumah sakit masih identik dengan rasa sakit, ketakutan, dan kecemasan. Paradigma tersebut harus diubah agar rumah sakit menjadi ruang yang memberikan rasa nyaman, tempat masyarakat berkonsultasi mengenai kesehatan, memperoleh edukasi, hingga melakukan upaya pencegahan penyakit sebelum kondisi menjadi lebih berat.
"Perubahan tersebut sejalan dengan arah pembangunan sektor kesehatan yang menempatkan aspek promotif dan preventif sebagai bagian penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," jelasnya.
Ngatiyana menyebut, kajian rebranding yang dilakukan tidak disusun secara instan. Pemerintah Kota Cimahi bersama PT MarkPlus Indonesia melaksanakan serangkaian tahapan mulai dari in-depth interview, focus group discussion bersama tokoh masyarakat, lokakarya internal, hingga finalisasi kajian.
"Seluruh proses tersebut dilakukan untuk memastikan identitas baru rumah sakit lahir dari kebutuhan masyarakat sekaligus mampu menjawab tantangan pelayanan kesehatan di masa depan," sebutnya.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, lanjut Ngatiyana, nama RSUD Cibabat disepakati berubah menjadi RSUD Wijaya Mulya. Nama tersebut dipilih karena memiliki makna filosofis yang kuat. "Wijaya" dimaknai sebagai kemenangan atau keberhasilan, sedangkan "Mulya" menggambarkan kemuliaan dan harapan untuk kembali sehat.
Editor : Doni Ramdhani

