Peringatan Asyura Dihadiri Tokoh Lintas Agama
Peringatan Asyura ini merupakan peringatan syahidnya cucu Rasulullah, Imam Husein. Jamaah yang hadir dari seluruh Indonesia juga tokoh-tokoh lintas agama.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Peringatan Asyura ini merupakan peringatan syahidnya cucu Rasulullah, Imam Husein. Jamaah yang hadir dari seluruh Indonesia juga tokoh-tokoh lintas agama seperti Islam, Hindu, Budha, Kristen dan Penghayat.
Berbagai makanan khas Sunda disajikan, mulai dari dawegan (kelapa muda) yang merupakan tradisi khas Kabuyutan Sunda, bubur merah bubur putih yang melambangkan rasa cinta Indonesia dan lainnya.
Puluhan warga yang berasal dari berbagai golongan dan komunitas mengikuti perayaan Asyura 10 Muharam. Dalam perayaan dengan nuansa tradisi lokal masyarakat Sunda tersebut, merupakan ungkapan rasa cinta kepada Baginda Nabi Muhammad Saw.
"Jadi warga yang hadir terlihat khusyuk mendengarkan wejangan atau nasihat, dengan diiringi musik gamelan dan tembang-tembang daerah Sunda," imbuh Sesepuh Kabuyutan Gegerkalong, Abah Yusuf Bahtiar kepada wartawan di sela-sela perayaan Asyura di Masjid Nurul Huda, Jalan Gegerkalong, Senin (9/9/2019) malam.
Menurut Abah Yusuf, tradisi perayaan Asyura atau Syuraan merupakan budaya Sajaja Pajajaran dan sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Peringatan Asyura 10 Muharam bertujuan untuk memperingati kebangkitan nilai-nilai perjuangan, kepahlawanan, dan pengorbanan Imam Husein.
Selain itu, perayaan Asyura selalu memiliki semangat untuk mendukung empat pilar kebangsaan dan menjunjung tinggi kebinekaan.
"Di sini kita benar-benar menjunjung tinggi kebinekaan, toleransi beragama dan tetap berpegang teguh pada Pancasila," katanya.
Paham radikalisme menjadi salah satu ancaman bagi kesatuan Indonesia, namun paham tersebut dapat ditangkal dengan kembali kepada jati diri bangsa, yakni kebudayaan dan tradisi.
Diakuinya bahwa kebudayaan atau tradisi merupakan jati diri dari bangsa Indonesia, yang dapat menangkal berbagai paham dari luar seperti radikalisme maupun terorisme. Di mana, paham ini dikhawatirkan dapat memecah belah persatuan dan kesatuan NKRI.
Maraknya berita bohong atau hoaks, juga menjadi perhatian pihaknya yang berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menerima setiap informasi atau berita. Termasuk, dapat menyaring dengan tidak hanya dari satu sumber, tapi juga berbagai sumber termasuk media massa.
"Radikalisme itu berasal dari luar, maka untuk melawannya dengan kembali ke jati diri kita yakni kebudayaan dan tradisi," pungkasnya. (Okky Adiana)
Editor : suroprapanca

