Perkuat Mitigasi Gempa, BPBD Cimahi Fokus pada Kesiapsiagaan Masyarakat di Tengah Keterbatasan Monitoring Bangunan

Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi masih menghadapi tantangan terkait keterbatasan sistem monitoring dan evaluasi struktur bangunan. 

Perkuat Mitigasi Gempa, BPBD Cimahi Fokus pada Kesiapsiagaan Masyarakat di Tengah Keterbatasan Monitoring Bangunan

INILAHKORAN, Cimahi – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi masih menghadapi tantangan terkait keterbatasan sistem monitoring dan evaluasi struktur bangunan. 

Kekuatan bangunan menjadi faktor krusial dalam meminimalisir risiko korban saat gempa terjadi. Namun hingga kini, Cimahi belum memiliki sistem terpadu untuk memastikan kelayakan bangunan yang ada.

Kendati demikian, Pemkot Cimahi terus berupaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa bumi.
 
"Struktur bangunan kita belum ada untuk monitoring, evaluasi, atau asesmen bangunan yang sudah ada di Kota Cimahi," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan. 

Menurutnya, masalah ini memerlukan keterlibatan semua pihak, mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga rancang bangun yang digunakan. 

"Memang ini semua pihak harus terlibat mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga rancang bangun yang dipakai, itu harus dimulai dari awal," tambahnya.
 
Meskipun demikian, Fithriandy menegaskan bahwa BPBD Cimahi tidak tinggal diam. Di tengah keterbatasan sistem monitoring bangunan, fokus utama saat ini adalah meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi potensi gempa. 

Ia menjelaskan bahwa BPBD tidak bisa memprediksi dengan pasti skala gempa yang mungkin terjadi, karena fenomena alam bersifat dinamis.
 
"Berapa skala Richter yang akan terjadi kita tidak bisa pastikan karena fenomenanya selalu berubah-ubah," ujarnya.

"Tapi yang pasti tugas BPBD adalah menjaga kesiapan dan ketajaman masyarakat, termasuk di wilayah Cigugur Tengah dan Rusunawa, untuk tahu bagaimana cara mengantisipasi dan mitigasi saat gempa," sebutnya.
 
Fithriandy menyebut, BPBD Cimahi terus melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang dianggap rawan gempa seperti Cigugur Tengah dan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa). 

"Tujuannya adalah untuk membekali warga dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk merespons gempa dengan cepat dan tepat," ujarnya.
 
Fithriandy menekankan pentingnya mitigasi mandiri dan evakuasi keluarga sebagai kunci untuk mengurangi risiko fatalitas akibat gempa. 

"Agar bisa melaksanakan evakuasi mandiri, mitigasi mandiri, evakuasi keluarga, dan mitigasi keluarga. Jadi bisa mengurangi risiko terjadinya korban akibat gempa di Kota Cimahi," imbuhnya.
 
Lebih lanjut Fithriandy menuturkan, mitigasi mandiri mencakup berbagai tindakan pencegahan dan persiapan yang dapat dilakukan oleh individu dan keluarga, seperti menyimpan perlengkapan darurat, mengidentifikasi tempat-tempat aman di dalam rumah, dan merencanakan rute evakuasi. 

"Evakuasi keluarga melibatkan latihan evakuasi secara berkala agar semua anggota keluarga tahu apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi," bebernya.
 
Tak cuma itu, BPBD Cimahi juga mendorong masyarakat untuk membentuk kelompok-kelompok relawan di tingkat lingkungan atau komunitas. 

"Kelompok relawan ini dapat membantu dalam memberikan pertolongan pertama, melakukan pendataan kerusakan, dan mengkoordinasikan bantuan jika terjadi gempa," tandasnya.*** (agus satia negara)
 


Editor : Ahmad Sayuti