Pers Merupakan Diksi dalam Membangun Demokrasi
Dosen Prodi Sastra Inggris, Unpas, Erik Rusmana menyatakan, Pers sebagai salah satu diksi yang turut serta dalam membangun demokrasi di Indonesia maupun di belahan dunia lain.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Dosen Prodi Sastra Inggris, Universitas Pasundan (Unpas), Erik Rusmana menyatakan, Pers sebagai salah satu diksi yang turut serta dalam membangun demokrasi di Indonesia maupun di belahan dunia lain.
Pers di Indonesia merupakan tulang punggung negara Indonesia dalam membangun demokrasi yang mengedepankan asas kepentingan umat dan sudah menjadi garda terdepan dalam menginformasikan informasi yang berguna bagi kemajuan suatu bangsa.
"Pers di Indonesia sudah melampaui berbagai tantangan dan zaman, dari pasca-kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi, dan pasca-Reformasi," ujar Erik, Minggu (9/2/2020).
Dia mengatakan, pers pada zaman milenial semakin banyak tantangannya, era 4.0 menjadi momok bagi sebagian masyarakat karena dengan teknologi, setiap individu merasa bisa menjadi penyambung berita, meskipun berita tersebut belum tentu kesahihannya.
Di situlah letak perbedaan antara hasil kerja jurnalistik dan kebalikannya. Oleh karena itu, hasil kerja jurnalistik adalah hasil kerja yang dikerjakan oleh para profesional, dibutuhkan pengalaman dan kredibilitas.
Untuk menanggapi tantangan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menggaungkan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, salah satunya adalah mengikuti kegiatan di luar prodinya selama satu semester, Jurnalistik adalah salah satu yang bisa dijadikan rujukan.
"Dan, terkhusus untuk bidang sosial atau humaniora, adanya rujukan untuk melakukan riset baik di dalam atau di luar kampus, media yang terdaftar atau kredibel merupakan sebuah laboratorium informasi yang bisa dijadikan pihak kampus untuk diajak melakukan kolaborasi untuk melakukan riset," kata Erik.
Erik menambahkan, bukan saja laboratorium, tapi akan diajarkan juga mengenai kredibilitas dan tanggung jawab. Pers Indonesia harus tetap menjadi tulang punggung demokrasi di Indonesia, dan pers Indonesia harus bahu membahu dengan dunia pendidikan untuk memajukan kehidupan manusia di Indonesia menjadi ke arah yang lebih baik lagi,
"Majulah pers Indonesia, mari gandeng erat dunia pendidikan untuk Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang," ucap Erik
Dosen Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dheka Dwi Agustiningsih menambahkan, catatan untuk hari pers di masa milenial adalah semakin terbukanya pertarungan antara kerja jurnalistik dan non-jurnalistik yang didasari oleh kemajuan teknologi 4.0.
Kemajuan ini semakin menindih pelaku jurnalistik, tapi di sisi lain menjadi angin segar yang bisa dengan leluasa mendapatkan informasi dengan cepat. Sisi negatif bagi kehidupan bermasyarakat adalah munculnya secara masif berita yang tidak kredibel, para pelakunya atau penyebar berita hoaks ini terkadang tidak sadar telah melakukan kesalahan.
"Yang menyebarkan bisa siapa saja, dan karenanya akan lebih baik lagi jika para insan yang bergelut dalam pers untuk melakukan pendidikan jurnalistik bagi masyarakat secara umum, atau dengan menggaet kampus dalam melaksanakan dan mendukung kampus merdeka. Caranya adalah, menjadikan media sebagai sumber dalam melaksanakan kegiatan ilmiah berupa penelitian.
"Saya kira, pihak media adalah salah satu pihak yang mempunyai data sejarah kebudayaan masyarakat Indonesia masa lampau dan masa kini. Dari titik itulah pihak media menjadikan mahasiswa dan dosen untuk menjadi agen dalam menjunjung tinggi tujuan dari pers ini. Dunia pers dan dunia pendidikan ibarat sebuah koin, mereka tidak bisa dipisah dalam memajukan kemajuan suatu masyarakat menuju ke arah yang lebih baik. Selamat hari pers nasional, maju pers Indonesia dan maju juga pendidikan Indonesia," tambah Dheka. (okky adiana)
Editor : suroprapanca

