Persib Bandung Berencana Ubah Sistem Tiketing Imbas Laga Kandang yang Selalu Sepi
Persib Bandung berencana ubah sistem tiketing imbas laga kandang yang selalu sepi. Baik di Super League maupun AFC Champions League (ACL) Two 2025-2026.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Persib Bandung berencana ubah sistem tiketing imbas laga kandang yang selalu sepi. Baik di Super League maupun AFC Champions League (ACL) Two 2025-2026.
Tercatat, laga perdana Persib melawan Semen Padang di Super League 2025-2025 berjumlah sekitar 14 ribu orang. Lalu di laga selanjutnya melawan Manila Digger FC yang merupakan play off ACL Two hanya berjumlah 5 ribu orang.
Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) Adhitia Putra Herawan mengaku sudah mengetahui keluhan yang disampaikan Bobotoh hingga membuat laga kandang Persib selalu sepi. Salah satunya mengenai sistem penukaran dari e-ticket ke tiket gelang penanda.
Banyak yang beranggapan penukaran tiket ini menyulitkan para Bobotoh. Apalagi lokasi penukaran tiket, cukup jauh dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Mulai dari Sawarga Courtyard Summarecon Mall Bandung (Summaba), Gedebage Bandung dan Detasemen Jasa Angkutan (Den Jas Ang), yang berada di Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung.
penukaran tiket di Summaba hanya melayani penukaran e-ticket tribun VIP Bawah, VIP Barat Selatan (VBS), VIP Barat Utara (VBU), VBS Lounge dan VBU Lounge. Sedangkan di Den Jas Ang melayani penukaran tiket untuk tribun Timur, Utara dan Selatan.
“Pada dasarnya dari manajemen juga inginnya tidak pernah ada penukaran tiket. Tapi yang mesti dipahami oleh Bobotoh, penukaran tiket ini sebenarnya untuk keamanan. Sehingga kebutuhan dan permintaannya datang dari pihak pengamanan, bukan dari kami. Alasan pengamanan inilah sehingga kita membutuhkan penukaran tiket,” ujar Adhitia, Rabu 20 Agustus 2025.
Adhitia mengaku selalu meminta agar penukaran tiket ditiadakan setiap kali menggelar rapat dengan pihak keamanan.
“Kalau tidak bisa, kami minta, boleh tidak penukarannya sedekat mungkin dengan stadion. Kalau tetap tidak bisa, kami cari tahu bisa sedekat apa,” tuturnya.
Bahkan, lanjutnya, saat ini pihaknya tengah mendorong pihak keamanan untuk mengeluarkan izin agar tribun barat tidak perlu dilakukan penukaran tiket.
“Kenapa tribun barat? Karena jumlah kursinya paling sedikit. Jadi bukan soal timur, utara, selatan, atau barat, tapi dari sisi mekanisme bertahap. Kalau ada apa-apa, di tribun barat paling mudah dimitigasi,” jelasnya.
Adhitia berharap upaya ini juga bisa mendapatkan sambutan dengan baik oleh Bobotoh. Sehingga keinginan tanpa penukaran tiket di setiap laga kandang bisa terwujudkan sepenuhnya.
“Jadi kami mengajak Bobotoh untuk sama-sama lebih tertib. Kalau memang benar-benar ingin tidak ada penukaran tiket, berarti mekanismenya jelas, orang beli tiket, langsung tunjukkan e-ticket di handphone, di scan, dan bisa langsung masuk kalau valid,” tegasnya.
Adhitia tak memungkiri penggunaan face recognition sangat memungkinkan. Namun tentunya harus dilakukan perubahan gate.
“Membangun face recognition itu harus mengelilingi satu gate. Satu gerbang GBLA itu panjangnya 1,2 kilometer. Bisa dibayangkan berapa banyak yang harus disiapkan. Gate-nya pun harus diganti dulu, tidak bisa hanya di modifikasi sederhana,” katanya.
Adhitia memastikan face recognition masuk dalam rencana Persib. Namun saat ini, pihaknya hanya akan menjalankan rencana terdekat yakni meniadakan penukaran tiket.
“Dari sisi kami sedang menyiapkan SOP dan mitigasinya. Kami juga berharap Bobotoh bisa bekerja sama. Kalau nanti memang sudah tidak ada penukaran e-ticket, ya harus dijaga ketertibannya. Jangan coba-coba melakukan hal-hal yang bisa menyebabkan kepanikan atau kericuhan dalam proses masuk ke stadion,” imbuhnya.
Adhitia berharap keinginan untuk tidak perlu melakukan penukaran tiket bisa segera diwujudkan. Seperti yang disampaikan, akan dimulai untuk tribun barat lebih dahulu.
“Di pertandingan terdekat melawan Borneo, kami mau coba di tribun barat tanpa penukaran. Kita lihat dulu hasilnya, aman atau tidak. Kalau aman, nanti bertahap ke tribun timur, utara, dan selatan. Prinsipnya trial and error,” katanya.
Adhitia yakin keinginannya itu bisa mendapatkan dukungan dari pihak kepolisian. Sebab selama ini, pihak kepolisian selalu memberikan ruang untuk diskusi.
“PR-nya sekarang bagaimana kami mengajukan proposal risk mitigation. Itu tugas kami, sedang disiapkan SOP dan mitigasinya untuk diajukan. Kami percaya kepolisian juga akan mendukung, karena semua demi kenyamanan bersama,” pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani


