Please, Jangan Jadikan Bencana Ajang Wisata

Bencana alam silih berganti menerjang beberapa daerah di Indonesia. Teranyar, longsor menerjang Dusun Garehong di Kabupaten Sukabumi, Senin (31/12).

Please, Jangan Jadikan Bencana Ajang Wisata
Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah korban tsunami di kawasan wistata Tanjung Lesung, Banten.
INILAH, Jakarta - Bencana alam silih berganti menerjang beberapa daerah di Indonesia. Teranyar, longsor menerjang Dusun Garehong di Kabupaten Sukabumi, Senin (31/12).
 
Berbagai bencana alam tersebut tidak saja menimbulkan kerugian material setelahnya. Tetapi juga menyebabkan duka nestapa bagi masyarakat yang kehilangan anggota keluarganya karena menjadi korban bencana alam.
 
Tapi di sisi lain, bencana alam fenomena sosial baru yaitu banyak orang yang tidak terdampak bencana malah menjadikannya sebagai objek wisata. 
 
Entah apa niatnya, tak sedikit dari mereka yang melakukan swafoto di lokasi bencana kemudian mengunggahnya ke masing-masing halaman akun media sosial mereka.
 
Kepala Pusat Informasi Data dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, fenomena ini hampir terjadi di setiap peristiwa bencana alam dan sudah berangsur sejak lama.
 
Dia menyebutkan, fenomena wisata bencana ini bahkan sudah terjadi sejak Situ Gintung jebol dan menyapu Kecamatan Cirendeu, Kota Tangerang Selatan, pada 27 Maret 2009 yang lalu.
 
Pada peristiwa longsor Sukabumi kemarin, kata Sutopo, fenomena itu kembali terulang. Pesatnya arus informasi saat ini membuat masyarakat berbondong-bondong datang ke lokasi bencana tanpa melakukan apa-apa.
 
"Wisata bencana ini selalu terjadi di saat ada peristiwa bencana. Mereka berdatangan ingin melihat lokasi bencana," kata Sutopo dalam keterangan persnya kepada media di Jakarta, Selasa (01/01).
 
Padahal di sana banyak tim gabungab pencarian dan pertolongan yang terdiri dari berbagai lembaga seperti BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan SAR Nasional, dan lembaga kemanusiaan swasta hingga masyarakat kampung sekitar yang terjun bahu membahu mencari korban longsor.
 
Akibatnya alur evakuasi korban bencana menjadi terhambat. Begitu pula dengan bantuan yang datang silih berganti turut tersumbat karena berjubelnya masyarakat yang sekadar ingin melihat lokasi bencana.
 
"Ini juga terjadi pada saat penanganan bencana tsunami di Pandeglang dan Serang kemarin, begitu juga saat longsor melanda Banjarnegera," ujarnya.
 
 


Editor : inilahkoran