Polisi Libatkan Ahli Budaya dan Sejarah Ungkap Motif dan Kebenaran Sunda Empire

Guna mengungkap motif dan kebenaran dari kasus viralnya Sunda Empire, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat melibatkan sejumlah ahli. Di antaranya para ahli budaya.

Polisi Libatkan Ahli Budaya dan Sejarah Ungkap Motif dan Kebenaran Sunda Empire
Foto: Ridwan Abdul Malik

INILAH, Bandung - Guna mengungkap motif dan kebenaran dari kasus viralnya Sunda Empire, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat melibatkan sejumlah ahli. Di antaranya para ahli budaya.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Saptono Erlangga mengatakan, kejadian Sunda Empire masuk dalam kategori laporan model A. Artinya, laporan polisi model tersebut adalah laporan yang dibuat berdasarkan temuan polisi sendiri.

"Kita kan menindaklanjuti yang viral itu. Makanya ini masuk kategori laporan model A," ucap Erlangga di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-hatta, Kota Bandung, Selasa (21/1/2020).

Oleh karena itu, Erlangga mengungkapkan, karena kasus ini berkaitan dengan sejarah dan budaya. Polisi pun melibatkan sejumlah ahli budaya hingga ahli sejarah.

"Budayawan dilibatkan. Nanti prosesnya kan yang ahli sejarah kita mintai keterangan, yang disampaikan di video, itu perlu kita cek," ujar Erlangga.

Saat disinggung apakah akan masuk ke ranah pidana. Erlangga menambahkan, pihaknya enggan berandai-andai. Pasalnya, saat ini penyidik masih bekerja dalam mengungkap hal tersebut.

"Kita buktikan dulu dari penyampaian itu, yang tahu sejarah, budayawan, dan pidana umumnya kita buktikan," pungkas Erlangga.

Perlu diketahui sebelumnya, unggahan video tentang Sunda Empire sempat beredar pada Kamis (16/1/2020) malam. Sejumlah konten mengenai Sunda Empire itu menyebar ke masyarakat melalui media sosial.

Salah satu video yang tersebar, berisi tentang sejumlah orang yang mengenakan atribut layaknya militer lengkap dengan topi baret. Salah satu dari mereka ada yang berorasi tentang masa pemerintahan negara-negara yang akan berakhir pada 2020. Hingga saat ini kemunculan Sunda Empire masih ramai diperbicangkan masyarakat. Satu diantaranya di media sosial. (Ridwan Abdul Malik)


Editor : Doni Ramdhani