Populasi Eceng Gondok Ancam Waduk Cirata, Kader PDIP Cipeundeuy Lakukan Pembersihan
Kader PDIP Cipeundeuy gotong royong melakukan pembersihan eceng gondok yang populasinya makin banyak dan mengancam kualitas air di Waduk Cirata
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Warga sekitar Waduk Cirata di Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tengah dibuat resah dengan populasi eceng gondok di waduk yang terus meningkat.
Pasalnya, keberadaan eceng gondok itu dikhawatirkan bakal memicu beragam penyakit seperti yang terjadi di wilayah Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin yang hingga kini belum rampung tertangani.
Melihat kondisi yang kian memprihatinkan itu, puluhan kader dan pengurus PAC PDI Perjuangan se-Kecamatan Cipeundeuy bergerak melakukan aksi pembersihan sukarela sebagai bentuk tanggung jawab sosial sekaligus respons terhadap kegelisahan masyarakat yang kini mulai merasakan dampak buruk lingkungan yang terabaikan.
Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Cipeundeuy, Jejen Jaenal Aripin mengungkapkan, kegiatan ini memanfaatkan momen peringatan Bulan Bung Karno, dengan mengerahkan sekitar 125 pengurus secara langsung untuk bekerja membersihkan perairan yang makin sempit akibat penumpukan tanaman air tersebut.
Kendati demikian, ungkap Jejen, upaya yang dilakukan secara manual dan hanya berlangsung dalam satu hari ini diakui jauh dari cukup untuk menuntaskan masalah yang volumenya telah mencapai ribuan ton dan meluas hingga ke tiga wilayah kabupaten.
Ia menilai, untuk penanganan serius memerlukan alat berat dan perencanaan matang yang memakan waktu berbulan-bulan, bukan sekadar gotong royong sesaat.
“Kegiatan ini hanya sebatas pengangkatan semampunya secara manual dalam satu hari saja," kata Jejen, Senin (29/6/2026).
Jejen menyebut, dampak yang ditimbulkan bukan hanya sekadar pemandangan yang tidak sedap, namun telah merambah ke aspek kesehatan dan perekonomian masyarakat.
Ia mengaku khawatir akan munculnya sarang nyamuk yang berpotensi menularkan penyakit seperti malaria, ditambah dengan bau menyengat yang muncul saat musim kemarau akibat penurunan debit air dan pembusukan eceng yang tergenang.
"Yang paling memukul secara ekonomi itu nasib para pembudidaya ikan, di mana akses perahu menjadi terhambat, proses pemberian pakan hingga masa panen menjadi terganggu dan memakan biaya lebih besar," ujarnya.
Pada akhirnya, ungkap Jejen, memaksa sekitar 80 persen dari pembudidaya ikan itu untuk berhenti berusaha atau gulung tikar.
“Sudah hampir 80 persen petani ikan di wilayah ini berhenti beroperasi. Jika terhalang eceng, jadwal panen terlewati, biaya pakan dan tenaga membengkak, sehingga kerugian tak terelakkan dan mereka memilih menutup usaha,” ungkapnya.
Lebih jauh Jejen menuturkan, penanganan eceng gondok tersebut tidak bisa hanya mengandalkan inisiatif lokal semata. Pasalnya, waduk Cirata itu melintasi tiga kabupaten sekaligus, yakni Bandung Barat, Purwakarta, dan Cianjur.
"Kami berharap Gubernur Jawa Barat, pak Dedi Mulyadi dan instansi pengelola waduk yang berwenang segera turun tangan dengan kebijakan dan dukungan yang lebih serius," ujarnya.
Sebab, campur tangan pemerintah provinsi dinilai sangat mendesak agar tidak menunggu kerusakan lingkungan dan kerugian ekonomi menjadi lebih parah dan sulit untuk dipulihkan kembali.
“Kami berharap pemerintah lebih peduli sebelum dampaknya meluas. Penanganan ini sebaiknya dilakukan setingkat provinsi karena menyangkut tiga kabupaten," imbuhnya.
Editor : Ahmad Sayuti

