DLH KBB Sebut Pembersihan Eceng Gondok di Saguling Terkendala Waktu dan Anggaran
DLH KBB mengaku membutuhkan waktu dan anggaran besar untuk membersihkan eceng gondok di Saguling
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengakui upaya pembersihan eceng gondok yang menutupi sekitar 70 hektare perairan di kawasan Cililin dan lebih dari 100 hektar di sepanjang aliran Sungai Citarum menghadapi tantangan, baik dari segi waktu pelaksanaan maupun ketersediaan anggaran.
Berdasarkan pengalaman lapangan, pembersihan satu hektar saja memakan waktu hingga satu minggu meski telah menggunakan alat berat ekskavator lengan panjang dan ponton
Sehingga, jika dihitung secara matematis, penuntasan total area seluas itu memerlukan waktu sekitar 70 minggu atau lebih dari satu tahun, sebuah durasi yang sangat panjang dan membebani jika dilakukan secara mandiri.
Kepala DLH Kabupaten Bandung Barat (KBB), Ibrahim Ajie menjelaskan, inisiatif besar ini bermula dari banyaknya pengaduan masyarakat yang merasa terganggu dengan keberadaan nyamuk yang berkembang biak di antara rimbunnya gulma air tersebut.
"Menindaklanjuti hal itu, kami pun segera memfasilitasi pertemuan lintas sektor yang melibatkan Satgas Citarum Harum, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi, serta PT PLN Indonesia Power untuk menyatukan langkah dan kewenangan masing-masing," kata Ibrahim saat ditemui di lokasi, Senin (29/6/2026).
Kendati demikian, Ibrahim mengakui kewenangan utama serta kemampuan pendanaan yang lebih besar berada di tangan pihak terkait seperti PLN dan BBWS, sehingga Pemkab KBB berperan sebagai jembatan dan penggerak sinergi.
“Kewenangan ini ada di BBWS dan Satgas Citarum Harum. Kami memfasilitasi karena adanya pengaduan masyarakat terkait nyamuk, lalu kami telusuri sumbernya hingga ke eceng gondok. Akhirnya kami kumpulkan semua pihak untuk berkolaborasi,” jelasnya.
Berdasarkan fakta di lapangan, ungkap Ibrahim, menunjukkan ledakan pertumbuhan eceng gondok ini bukan tanpa sebab, melainkan menjadi indikator nyata dari buruknya kualitas air yang mengalir di Sungai Citarum.
"Akumulasi sisa pakan ikan dari keramba jaring apung yang tidak habis menjadi sumber nutrisi berlebih yang memicu pertumbuhan gulma secara masif dan tidak terkendali," ungkapnya.
Ibrahim memperingatkan meski pembersihan ini sangat mendesak untuk menekan populasi serangga pengganggu, pengangkatan eceng gondok secara massal juga memiliki dampak sampingan, yaitu munculnya bau yang menyengat dari dasar perairan yang selama ini tertutup rapat oleh tanaman tersebut.
“eceng gondok menjadi indikator kuat bahwa air sudah tercemar. Pemicu utamanya, kualitas air yang buruk, salah satunya akibat endapan sisa pakan ikan. Jika kita angkat ecengnya, nyamuk memang hilang, namun bau dari air yang tercemar akan muncul ke permukaan,” sambungnya.
Untuk menuntaskan pekerjaan ini, lanjut Ibrahim, sekitar 300 personel yang terdiri dari unsur perangkat daerah, Satgas Citarum Harum, BBWS, PLN Indonesia Power, hingga para penggiat lingkungan, didukung oleh enam unit truk pengangkut dan sejumlah alat berat dikerahkan.
"Terkait nasib tumpukan eceng gondok yang berhasil diangkut, sebagian akan dibuang dan sebagian lagi diserahkan kepada pengrajin lokal untuk diolah menjadi produk bernilai guna," ujarnya.
Namun, terang Ibrahim, tantangan terbesar justru datang dari sisi keberlanjutan operasional, di mana PLN Indonesia Power sendiri mengindikasikan kemampuan anggaran dan tenaga yang tersedia saat ini hanya cukup untuk membiayai operasional selama kurang lebih dua minggu ke depan.
"Tidak ada jalan lain selain melangkah secara bertahap dan terus memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra serta memanfaatkan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan," ujarnya.
Menurutnya, pembersihan ini tak bisa dianggap selesai hanya dengan seremonial semata, melainkan harus berjalan terus-menerus dan berkelanjutan agar luasan yang sudah bersih tidak kembali tertutup gulma dalam waktu singkat.
“Kami menyadari anggaran sangat terbatas. Jika satu hektar butuh waktu satu minggu, maka 70 hektar memakan waktu yang sangat lama," ucapnya. Namun kami lakukan langkah demi langkah dengan harapan kolaborasi bersama PLN, BBWS, dan pihak lainnya terus terjalin agar lingkungan tetap terjaga,” pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

