Dari Gulma Perusak, Warga Cipeundeuy KBB Sulap Eceng Gondok jadi Cuan
Di tangan trampil Bah Duduy lahan eceng gondok yang dianggap sebagai hama perusak bisa jadi barang bernilai ekonomis tinggi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Biasa dianggap sebagai gulma yang merusak ekosistem air dan berpotensi membunuh hewan air jika tumbuh berlebih, eceng gondok (Eichhornia Crassipes) kini bertransformasi menjadi sumber penghasilan yang mengangkat perekonomian warga Desa Cipeundeuy, Kecamatan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat.
Di tangan trampil Duduy Abdullah (68) atau pria paruh baya yang akrab disapa Bah Duduy, eceng gondok yang dianggap gulma perusak justru disulap jadi barang bernilai ekonomis tinggi.
Pria yang telah menggeluti usaha ini sejak 2014 ini melihat kondisi ekonomi warga sekitar yang masih rendah, lalu mengambil langkah konkret dengan memberikan pelatihan pembuatan kerajinan dari eceng gondok.
Hasilnya, tanaman yang dulunya dianggap merugikan kini diolah menjadi berbagai produk unik, mulai dari perlengkapan rumah tangga hingga dekorasi lengkap dengan aksesoris yang menarik.
"Saya mulai memanfaatkan eceng gondok sejak 2014 hingga saat ini. Bahkan, para pengrajin yang saya latih pun mulai bertambah," kata Abah Duduy.
Bak gayung bersambut, rencana baiknya mendapatkan sambutan yang sangat antusias dari masyarakat. Namun, perjalanan usaha ini tidak lepas dari berbagai tantangan.
Mulai dari keterbatasan sumber daya manusia hingga permodalan, mengingat usaha ini awalnya berjalan tanpa modal apapun.
"Saya hanya berbekal keinginan kuat dan niat ingin membantu masyarakat, sehingga saya dan keluarga bisa bermanfaat bagi banyak orang," ungkapnya.
Kini, jangkauan pemasaran produk kerajinan eceng gondok tersebut telah meluas dari Jawa Barat hingga Jawa Timur, mencakup kota-kota besar seperti Bandung, Cimahi, Purwakarta, Bekasi, dan Jakarta.
"Alhamdulillah pemasarannya pun cukup luas, bahkan sampai lintas provinsi," sebutnya.
Bah Duduy menuturkan, bahan baku eceng gondok sendiri langsung diperoleh dari Situ Cirata, dengan dibantu sekitar 10 orang petani yang secara khusus menangani pemilihan dan panen.
"Hasilnya saya beli dengan harga standar yang juga bisa membantu ekonomi mereka," jelasnya.
Kendati demikian, Abah Duduy tak memungkiri dirinya masih banyak menghadapi tantangan menghadang.
"Proses pembuatan yang cukup lama dan kompleks, serta permintaan yang beragam mengharuskan adanya pelatihan berkelanjutan bagi para pengrajin kebanyakan ibu-ibu," ujarnya.
Selain itu, sambung Abah Duduy, keterbatasan modal juga menjadi kendala untuk menyimpan stok bahan baku dan membayar upah yang harus dibayarkan secara teratur.
"Kalau udah selesai dikerjakan, misalkan satu minggu sekali kita melakukan pembayaran upah, karena ini tidak bisa ditangguhkan," pungkasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti

