Waduk Saguling Terparah Diimpit Eceng Gondok, PLN IP-Pemda KBB Genjot Pembersihan
Alat berat diturunkan pihak PLN IP dan Pemkab Bandung Barat untuk membersihkan gulma eceng gondong di aliran Saguling di Rancapanggung
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kondisi Waduk Saguling kini menghadapi tantangan serius akibat ledakan pertumbuhan eceng gondok yang dinilai sebagai yang terparah dalam catatan sejarah pengelolaan.
Luas wilayah yang tertutup gulma air tersebut mencapai 120 hektar yang tersebar di 13 titik dengan titik terluas mencakup sekitar 70 hektare saja.
Menyikapi kondisi mendesak ini, PT PLN Indonesia Power UBP Saguling bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat dan berbagai pemangku kepentingan menggelar aksi pembersihan besar-besaran yang melibatkan ratusan personel serta dukungan alat berat guna menekan laju penyebaran tanaman pengganggu tersebut.
Manajer Administrasi UBP Saguling PT PLN Indonesia Power, Huta Rianto menjelaskan, ledakan pertumbuhan eceng gondok ini erat kaitannya dengan memburuknya kualitas air Sungai Citarum yang menjadi sumber utama pasokan air ke waduk.
"Nutrisi berlebih yang berasal dari sisa pakan ikan di keramba jaring apung serta pencemaran yang terbawa aliran sungai menjadi pemicu suburnya gulma air tersebut secara masif," kata Huta saat ditemui di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Senin (29/6/2026).
Huta mengaku, pihaknya telah berupaya membersihkan secara rutin setiap tahun dan menempatkan tim pembersih di tujuh titik, namun kondisi yang ada saat ini memerlukan dukungan dan kolaborasi yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
“Kualitas Sungai Citarum sangat jelek, indikasinya terlihat dari tumbuhnya eceng gondok yang sangat lebat. Ini ditambah nutrisi dari sisa pakan ikan yang tidak habis. Kondisi ini adalah yang terparah yang pernah kami catat,” sambungnya.
Huta menyebut, upaya pembersihan yang dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan sekitar 350 orang yang terdiri dari unsur TNI, Polri, instansi terkait, hingga warga sekitar, yang dipimpin langsung oleh Bupati dan Wakil Bupati Bandung Barat.
"Pembersihan kita pusatkan di Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, operasi juga berjalan paralel di tiga titik lain di Cililin dan empat titik di Kecamatan Cihampelas," ujarnya.
Tak cuma itu, upaya pembersihan didukung dengan penambahan ekskavator dan ponton dari Balai Besar Wilayah Sungai Citarum dengam target awal mengurangi penutupan eceng gondok hingga mencapai 50 persen dari luasan yang teridentifikasi.
"Pembersihan kita targetkan bisa selesai kurun waktu sekitar dua bulan, meskipun bupati menginginkan penyelesaian yang lebih cepat," ucapnya.
Terkait penanganan jangka panjang dan pemanfaatan hasil angkutannya, Huta mengungkapkan, eceng gondok tidak dibuang sembarangan yang justru akan menimbulkan masalah baru.
Sebaliknya, tanaman tersebut diolah menjadi barang bernilai ekonomi, seperti media tanam jamur merang, bahan baku kerajinan, hingga dikaji potensinya sebagai bahan bakar briket.
"Upaya ini sekaligus melibatkan masyarakat sekitar dalam pengembangan ekonomi kreatif," ucapnya.
Lebih dari itu, Huta menilai perlunya pendekatan mendasar berupa edukasi kepada masyarakat dan sekolah-sekolah untuk menumbuhkan kesadaran menjaga kualitas air, sehingga akar masalah pertumbuhan eceng gondok dapat dikendalikan secara berkelanjutan.
“Kami tidak hanya bertindak reaktif, tetapi harus mencari akar masalahnya. Jika tidak, pembersihan akan terus berulang tanpa henti. Edukasi dan kesadaran masyarakat sangat penting agar kualitas air yang masuk ke waduk tetap terjaga,” bebernya.
Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Pemkab Bandung Barat, Rini Sartika menjelaskan, kegiatan ini merupakan wujud sinergi lintas sektor yang nyata.
Melalui keterlibatan aktif PLN, BBWS Citarum, Forkopimda, dinas lingkungan hidup, hingga perangkat desa, pembersihan berjalan serentak dan terpadu.
"Pengerahan alat berat dan armada pengangkut yang difokuskan di titik terparah diharapkan dapat mempercepat pengangkatan eceng gondok, sehingga fungsi waduk sebagai penampung air dan pembangkit listrik dapat kembali optimal serta terhindar dari kerusakan lingkungan yang lebih parah," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

