PT Len Industri Kejar Mimpi LRT Jabodebek Tanpa Masinis

Pada Agustus 2022 mendatang, LRT Jabodebek dapat beroperasi secara otomatis tanpa masinis di semua jalur utama.

PT Len Industri Kejar Mimpi LRT Jabodebek Tanpa Masinis

INILAHKORAN, Bandung - Target bidikan dipasang. Pada Agustus 2022 mendatang, LRT Jabodebek dapat beroperasi secara otomatis tanpa masinis di semua jalur utama. Empat bulan kemudian, moda transportasi itu seutuhnya beroperasi driverless.

Pembangunan dan pengembangan light rail transit (LRT) Jabodebek itu melibatkan empat perusahaan pelat merah. Keempat BUMN tersebut yakni PT Adhi Karya Tbk, PT Len Industri, PT Industri Kereta Api, dan PT Kereta Api Indonesia.

Direktur Strategi Bisnis & Portofolio PT Len Industri Linus Andor Mulana Sijabat mengatakan, pembangunan LRT Jabodebek bisa menjadi solusi mengurangi kemacetan. Proyek itu pun sekaligus membangun kemandirian teknologi dalam negeri, memberikan kemudahan akses jalan, dan ramah lingkungan.

Baca Juga: FedEx Kirimkan Bantuan Alat Kesehatan Kritikal Covid-19 ke Indonesia

Dia menuturkan, ke depan diharapkan dapat tercipta interkoneksi di Dukuh Atas, di mana akan berdekatan dengan LRT Jakarta, mass rapid transit (MRT), kereta bandara, stasiun kereta rel listrik (KRL) Dukuh Atas, dan Trans Jakarta.

“LRT Jabodebek menggunakan teknologi CBTC-moving block yang menjadikannya sebagai LRT tanpa masinis atau driverless ketiga di Indonesia setelah Skytrain Bandara Soekarno Hatta dan MRT Jakarta (semi driverless). Sedangkan, kalayang milik PT AP II tersebut menggunakan teknologi sistem persinyalan SiLSafe 5000 milik PT Len Industri,” kata Linus, Selasa 14 September 2021.

Terkait persinyalan, LRT Jabodebek menggunakan train guard MT signalling system dari Siemens dan Len Industri yang melakukan pemasangan semua perangkat persinyalan, serta menyuplai produk dan perangkat seperti power supply system untuk persinyalan, sistem pengkabelan indoor dan outdoor persinyalan, perangkat emergency train stop, dan perangkat luar persinyalan lainnya.

Baca Juga: bank bjb dan Pemkab Sumedang Sepakati Pengembangan Kompetensi ASN melalui bjb University

Dalam sebuah moda urban transport seperti LRT, sistem persinyalan dibagi menjadi tiga bagian, yakni wayside signaling equipment (di sepanjang jalur), on board signalling equipment (di dalam kereta), dan indoor signaling equipment.

Sistem persinyalan berfungsi mengatur pergerakan lalu lintas kereta di rel. Sistem CBTC-moving block memiliki tingkat keamanan yang tinggi serta dapat mencegah terjadinya tumbukan antar kereta baik dari depan, belakang maupun dari samping. Kereta dapat bergerak dengan jarak minimum antarkereta untuk memaksimalkan jumlah keberangkatan kereta, namun masih tetap dalam batas aman.

Sejauh ini, dari sinergitas BUMN itu PT Len Industri sebagai perusahaan BUMN spesialis di bidang sistem persinyalan kereta kini sedang memasang perangkat sistem persinyalan di Depo LRT Jabodebek yang ada di Jatimulya, Bekasi. Perangkat sinyal di semua jalur utama (lintas 1 Cibubur-Cawang, lintas 2 Cawang-Dukuh Atas, lintas 3 Cawang-Jatimulya) saat ini rampung dikerjakan. Pun demikian dengan perangkat sinyal di 31 kereta produksi PT Industri Kereta Api pun selesai dipasang.

Baca Juga: Harga Emas Melemah di Perdagangan Asia, Ini Penyebabnya

“Waktu pengerjaan Depo Signalling yang tersedia sangat singkat, hanya dalam tiga bulanan saja. Pekerjaan ini kita lakukan sejak Agustus dan ditargetkan selesai akhir November 2021. Sehingga diharapkan semuanya sudah terpasang pada akhir 2021 ini. Sistem persinyalan yang dilakukan Len merupakan progres yang kritikal agar LRT dapat beroperasi sesuai target,” jelasnya.

Linus menyebutkan, Depo Signalling merupakan sistem persinyalan yang berada di Depo LRT Jabodebek sebagai tempat perawatan dan perbaikan lokomotif dan gerbong kereta. Selain itu, PT Len Industri sedang melakukan proses testing and commissioning sistem persinyalan di ketiga jalur utama LRT Jabodebek secara bertahap hingga Juni 2022 mendatang.

Sementara itu, Pimpinan Proyek LRT Jabodebek PT Len Industri Beni Rahadian menyebutkan pengerjaan Depo Signalling tersebut relatif singkat. Ditargetkan selesai dalam waktu tiga bulan padahal normalnya sekitar 6-8 bulan pengerjaan.

Baca Juga: Dorong Digitalisasi UMKM, SehatQ Gandeng Wiranesia Inkubator

“Untuk itu, komunikasi dan koordinasi dengan PT Adhi Karya selaku kontraktor utama sangat intens dan berjalan dengan baik selama ini,” sebutnya singkat.

Beni menjelaskan, sebelum resmi beroperasi LRT harus melewati pengujian lagi yaitu site acceptance test atau pengujian performa di lokasi yang diperkirakan dilakukan pada Mei 2022. Usai pengujian itu, nantinya LRT akan menjalani trial running pada Juli-Agustus dan Desember 2022.


Editor : inilahkoran