PTM Meningkat, Sekda Minta Tingkatkan Sosialisasi Pamong Walagri untuk ASN
Dinkes merinci, Hipertensi menempati urutan pertama dengan jumlah kasus sebanyak 56.411 pada tahun 2021, meningkat menjadi 63.579 pada 2022 dan kembali meningkat pada tahun 2023 dengan 82.165 kasus.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Seka Kota Bogor Syarifah Sofiah Dwikorawati mengatakan, dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, kasus Penyakit Tidak Menular (PTM) selama tiga tahun terakhir mengalami kenaikan jumlah, terutama pada dua penyakit, yakni Hipertensi dan Diabetes Melitus.
Dinkes merinci, Hipertensi menempati urutan pertama dengan jumlah kasus sebanyak 56.411 pada tahun 2021, meningkat menjadi 63.579 pada 2022 dan kembali meningkat pada tahun 2023 dengan 82.165 kasus.
"Sedangkan untuk Diabetes Melitus, pada tahun 2021 jumlah kasus mencapai 17.601. Meningkat di tahun 2022 dengan 17.670 kasus dan meningkat lagi pada tahun 2023 dengan jumlah kasus sebanyak 21.297. Para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor diharapkan mampu menjadi role model bagi masyarakat. Dengan melakukan deteksi faktor risiko PTM sedini mungkin. Salah satunya dengan inovasi pamong walagri terintegrasi SIMPEG yang sudah di launching beberapa hari lalu," ungkap Syarifah kepada wartawan pada Minggu 19 Mei 2024.
Syarifah menuturkan, pihaknya telah menyampaikan kepada para Sekretaris Dinas (Sekdis), agar Pamong Walagri terus disosialisasikan kepada para ASN lebih masif lagi.
"Pamong Walagri ini sudah berjalan enam sampai tujuh tahun, namun memang capaiannya masih sekitar 33 persen dari total 6 ribu lebih ASN di Kota Bogor. Maka kami juga lakukan evaluasi," tutur Syarifah.
Syarifah menjelaskan, beragam upaya dilakukan untuk tidak hanya meningkatkan cakupan, namun juga pola sehat dari para ASN di Kota Bogor. Pasca Covid-19 kegiatan yang menunjang kesehatan untuk para ASN belum kembali digalakkan.
"Sebagai informasi tambahan, dari data BKPSDM, ASN yang meninggal dunia akibat PTM sekitar 10 persen dari total yang ada. Untuk itu, dimulai dari para ASN, deteksi faktor risiko PTM dan pola hidup yang sehat diharapkan bisa menular ke masyarakat," jelas Syarifah.
"Ini yang ingin kami wujudkan ke depan, kesadaran bahwa kesehatan kami ini sangat berharga. Pamong Walagri harus terus disosialisasikan, karena tidak semua daerah memiliki inovasi seperti ini," tambah Syarifah.
Syarifah memaparkan, Pemkot Bogor juga sudah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 400.7/2184-Dinkes Tentang Pelaksanaan Pamong Walagri Bagi ASN Kota Bogor kepada seluruh perangkat daerah. Pamong Walagri hanya pemeriksaan selesai, data masuk ke Dinkes saja.
"Nah, sekarang diintegrasikan dengan SIMPEG. Setiap ASN dengan barcodenya dia bisa mengecek kesehatannya seperti apa. Apa kolesterolnya tinggi dan lain - lain. Dari sekitar 6.900 ASN di Kota Bogor, baru sekitar 3 ribuan atau 32 persen yang sudah melakukan pengecekan kesehatan. Untuk itu, medical record menjadi persyaratan baru kedepan bagi karir para ASN," paparnya.
"Kedepan jika ada rotasi mutasi, kenaikan pangkat atau semacamnya jika tidak ada medical record, maka harus diisi dulu, dijadikan syarat. Yang sudah mengisi, jika nanti diperlukan tidak mengalami kesulitan lagi. Mudah - mudahan kepala OPD bisa mengarahkan supaya bisa 100 persen," tegasnya.
Ia menjabarkan, manfaat lainnya, Pamong Walagri ini juga sebagai pemicu untuk produktivitas para ASN. Jika deteksi kesehatan sudah dilakukan, paling tidak pola hidup sehat bisa terjaga dengan baik.
"Sehingga jika sudah mengenali kita dari awal kita bisa mencegah. Diharapkan semua sehat, jika sudah sehat kita akan lebih produktif, produktivitas akan tinggi," pungkasnya. (Rizki Mauludi)
Editor : Ahmad Sayuti
