Ramadan Seminggu Lagi, Ini Tips Psikolog Bagi Orang Tua Mengenalkan Puasa pada Anak

Psikolog klinis anak dan remaja baru saja membagikan tips untuk orang tua cara mengajarkan puasa Ramadan sesuai usia anak.

Ramadan Seminggu Lagi, Ini Tips Psikolog Bagi Orang Tua Mengenalkan Puasa pada Anak
Ilustrasi anak-anak buka puasa Ramadan.

INILAHKORAN, Bandung - Bulan Ramadan kini tinggal menghitung hari di mana minggu depan umat muslim di seluruh dunia mulai berpuasa.

Tidak hanya orang tua yang menantikan momen ini agar anak-anaknya bisa belajar berpuasa, sang anak juga biasanya antusias ingin mencoba puasa.

Akan tetapi, perlu dicatat bahwa pengenalan puasa di bulan Ramadan harus disesuikan dengan perkembangan dan usia sang anak.

Hal tersebut agar menjadikan pengalaman berpuasa di bulan Ramadan menjali hal positif dan anak tidak merasakan tertekan.

Dikutip dari laman Antara, Psikolog klinis anak dan remaja, Mariska Johana H, M.Psi., dari Universitas Padjadjaran menekankan pentingnya melihat puasa sebagai proses perkembangan.

orang tua harus melihat perkembangan sang anak saat mengajarkan proses puasa bukan sekadar pengajaran aturan.

puasa dapat dikenalkan sebagai latihan menunda keinginan, sarana membangun regulasi emosi, serta ibadah yang memiliki nilai spiritual dan manfaat kesehatan," jelas Mariska. 

Dia melanjutkan, "Ketiga aspek ini saling terkait dan perlu dijelaskan secara bertahap sesuai usia anak."

Mengajarkan puasa Ramadan Sesuai usia anak

1. Pada usia anak tiga hingga enam tahun, anak masih berpikir konkret dan sangat dipengaruhi pengalaman emosional mereka.

berpuasa si bulan Ramadan dipahami sebagai latihan menunggu dan belajar sabar, bukan kewajiban penuh.

anak usia prasekolah ini diajak orang tua untum mengenali rasa lapar sebagai sensasi yang datang dan pergi.

anak-anak di usia ini juga bisa belajar bahwa tidak semua keinginan mereka harus langsung dipenuhi oleh orang tua.

2. Pada usia tujuh hingga sembilan tahun, anak mulai memahami hubungan sebab dan akibat mengapa mereka harus menjalankan ibadah puasa.

anak-anak dapat memahami puasa sebagai latihan mengendalikan diri sekaligus ibadah yang bernilai pahala.

Dari hal ini orang tua bisa mengajarkan anak cara menahan emosi, memperbaiki sikap hingga menunjukan cara memperbanyak kebaikan.

anak diajak melihat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan emosi, memperbaiki sikap, dan memperbanyak kebaikan,” tutur Mariska.

3. Pada usia sepuluh hingga dua belas tahun ke atas, atau awal memasuki remaja, berpuasa bisa memungkinkan anak berpikir lebih reflektif.

orang tua mengajarkan bahwa puasa dipahami sebagai ibadah yang melibatkan niat, kesadaran diri, dan tanggung jawab pribadi.

Di tahap ini orang tua bisa mengajak anak untuk melihat puasa sebagai latihan lengkap, seperti belajar menahan lapar, mengatur perasaan, menjaga pikiran, dan dekat dengan Tuhan.***


Editor : Irma Nurfajri