Ratusan Pengungsi Banjir Padati Gedung Inkanas Baleendah

Banjir akibat luapan Sungai Citarum memaksa 113 Kepala Keluarga ( KK) warga Kelurahan Andir dan Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah, bertahan di pengungsian Gedung Inkanas, Selasa (9/4/2019).

Ratusan Pengungsi Banjir Padati Gedung Inkanas Baleendah
INILAH, Bandung- Banjir akibat luapan Sungai Citarum memaksa 113 Kepala Keluarga ( KK) warga Kelurahan Andir dan Kelurahan Baleendah Kecamatan Baleendah, bertahan di pengungsian Gedung Inkanas, Selasa (9/4/2019).
 
Ribuan rumah di Kelurahaan Andir dan Kelurahan Baleendah masih digenangi air dengan ketinggian 30 cm hingga 3 meter.
 
Koordinator pengungsi Gedung Inkanas Baleendah, Taryana mengatakan, para pengungsi di gedung tersebut sebagian besar berasal dari RW 9,8,7,6 dan 10 Kampung Jambatan Kelurahan Andir. Mereka menempati pengungsian sejak dua pekan lalu.
 
"Disini ada 113 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 346 orang. Diantaranya ada 57 lansia, 32 ibu hamil, dan 1 disabilitas. Sebagian besar memang dari Kelurahan Andir, kalau yang dari Kelurahan Baleendahnya sedikit. Banjir yang turun naik memaksa para pengunsi untuk tetap bertahan disini," kata Taryana, Selasa (9/4/2019).
 
Sebenarnya, kata Taryana, para korban banjir warga Kelurahan Andir ini, tidak semuanya mengungsi di Gedung Inkanas. Melainkan ada juga yang mengungsi di selter parung halang yakni sebanyak 80 KK. Sedangkan sisanya ada juga yang masih bertahan di lantai dua rumah masing masing, atau mengungsi di rumah sanak saudaranya.
 
"Kalau jumlah rumah yang terendam di Andir saja kurang lebih sebanyak 4000 an rumah. Dengan ketinggian air 50 cm hingga 3 meter. Begitu juga di Kelurahaan Baleendah, rumah terendam dengan ketinggian air yang sama jumlahnya lebih dari 2500 an rumah juga," ujar Taryana yang juga petugas Tagana Dinas Sosial Kabupaten Bandung.
 
Taryana melanjutkan, banjir juga merendam 11 PAUD, 7 sekolah dasar dan 28 masjid. Sehinga aktivitas sekolah diliburkan hingga waktu yang belum ditentukan.
 
"Gegara banjir banyak juga warga yang enggak bisa masuk kerja atau berdagang. Ini sudah dua pekan lebih banjirnya turun naik enggak tahu sampai kapan benar benar surutnya," ujarnya.
 
Taryana mengatakan, meskipun sudah dua pekan lebih menetap dipengungsian, kondisi kesehatan sebagian besar warga masih baik. Apalagi petugas kesehatam dari Puskesmas setempat rajin mengunjungi mereka. Pasokan makanan dan kebutuhan lainnya masih berjalan lancar. 
 
"Harapannya sih banjir bisa segera usai. Agar kami bisa segera pulang ke rumah masing masing, karena seenaknya juga tinggal di pengungsian, tetap lebih enak tinggal di rumay sendiri," kata Taryana yang juga rumahnya di Kampung Cibadak terendam banjir setinggi dada orang dewasa.


Editor : inilahkoran