Ratusan Sineas Unjuk Gigi Dalam Festival Film Budaya Nusantara

Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas industri film dengan tema budaya. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) menggelar Festival Film Budaya Nusantara selama tiga hari 17-19 Oktober 2019.

Ratusan Sineas Unjuk Gigi Dalam Festival Film Budaya Nusantara
foto: Ridwan Abdul Malik

INILAH, Bandung-Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas industri film dengan tema budaya. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) menggelar Festival Film Budaya Nusantara selama tiga hari 17-19 Oktober 2019.

Gelaran ini merupakan agenda tahunan dan menjadi program unggulan dari Program Studi (Prodi) Film dan Televisi ISBI Bandung. Dalam Festival ini ISBI juga menggandeng Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) guna menyukseskan gelaran tahunan tersebut.

Rektor Isbi Bandung, Een Herdiani mengatakan, selain dapat menjadi ajang kompetisi bagi insan perfilman di Indonesia, tujuan utama diselenggarakannya kegiatan tersebut yaitu untuk meningkatkan produksi dan mutu film Indonesia yang berkualitas. Namun, tetap tidak meninggalkan kebudayaan nusantara.

"Festival Film Budaya Nusantara juga diharapkan dapat menjadi media apresiasi film Indonesia dikalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat luas," ucap Een di ISBI, Kota Bandung, Sabtu (19/10).

Lebih lanjut, Een mengungkapkan, pada gelaran Festival Film Budaya Nusantara tahun ini, antusiasme peserta meningkat. Hal itu terbukti dari jumlah film bertemakan budaya nusantara yang diikutsertakan pada gelaran tersebut.

Tercatat lebih dari 100 judul film bertema nusantara telah diterima panitia untuk mengikuti kompetisi Festival Film Budaya Nusantara. Bahkan, para pendaftar itu berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

"Alhamdulilah animo peserta sangat banyak dan semakin menyebar, sekarang peserta yang mengirimkan filmnya dengan dua kategori fiksi dan dokumenter pelajar serta umum, itu angkanya diatas 250 lebih," ujar Een.

"Nominator dari beberapa wilayah, paling jauh itu aceh, bali, surabaya sudah datang juga, mereka masuk nominasi untuk menghadiri malam penganugrahan," sambung Een.

Saat disinggung yang menjadi pembeda dengan gelaran tahun lalu. Een menyebutkan, pada Festival Film Budaya Nusantara tahun 2019, terdapat sejumlah rangkaian kegiatan sebelum menuju acara puncak yaitu malam penganugrahan. Diantaranya, kelas sinema yang menghadirkan tokoh-tokoh perfilman, pemutaran film sapa festival dengan judul "tarling is darling" dan ada pemutaran layar tancap.

"Ini tidak hanya festival saja, kita ada beberapa kelas sinema yang dihadirkan itu profesi yang tidak ada mata kuliahnya di isbi misalnya produser. Sehingga mahasiswa itu mendapatkan ilmu lebih mendalam lagi," tuturnya.

Ditemui ditempat yang sama, Programmer Festival Film Budaya Nusantara, Dara Bunga Rembulan menjelaskan, pemilihan tema "Film Budaya Film Indonesia" karena indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman warisan budaya. Oleh karena itu, sudah seyogyanya warisan budaya itu dapat dijadikan sumber inspirasi bagi para seniman film atau sineas film di Indonesia.

Lebih lanjut, menurut Dara, diharapkan kepiawaian sineas muda Indonesia yang berkompetisi dalam Festival Film Budaya Nusantara, dapat diarahkan untuk lebih mencintai dan menjaga warisan budaya leluhur, yang syarat akan filosofis dan pesan moral di dalamnya.

"Ada hal yang sangat krusial saat ini, karena bagaimana kita harus kembali ke kelokalan, agar kelokalan ini bisa menjadi budaya kita, lebih mengenal bagaimana sebuah kemasyarakatan, dan ini harus sangat digaungkan kembali, negara kita sangat kaya akan budaya," papar Dara.

Selanjutnya, Dara menambahkan, Festival Film Budaya Nusantara, diharapkan dapat menjadi ajang apresiasi bagi karya sineas muda di Indonesia. Selain itu, Festival Film Budaya Nusantara juga diyakini mampu menjadi ikon tersendiri dari ISBI Bandung.

"Kami semakin yakin bahwa festival film budaya nusantara akan menjadi icon tersendiri dari kami. Tapi yang terpenting harus menjadi icon bangsa indonesia," pungkasnya. (Ridwan Abdul Malik)

 


Editor : JakaPermana