Recvolution Batch 2 Hadirkan Tiga Musisi Papan Atas
Setelah sukses menghasilkan 25 grup, mulai dari band, duo, maupun solo dalam program Recvolution Batch 1. Kini, Komuji kembali menggelar Recvolution Batch 2.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Setelah sukses menghasilkan 25 grup, mulai dari band, duo, maupun solo dalam program Recvolution Batch 1. Kini Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) kembali menggelar Recvolution Batch 2 di Gedung Creative Center Telkom University, Rabu (12/2/2020).
Saat ini, 25 grup terpilih di batch 1 sedang dalam proses penjurian untuk mendapatkan 6 terbaik oleh 3 dewan juri, yaitu Kikan Namara (mantan vokalis Cokelat Band), Che (vokalis Cupumanik), dan Dimas (vokalis Mr. Sonjaya).
Sebanyak 25 grup yang telah diseleksi di batch 2 diberikan workshop untuk penulisan lagu, yang nantinya mendapat bimbingan langsung dari coach-coach yang berkualitas, seperti Panji Sakti (song writer Sony Music) dan Andriana Betoth (personel Mr. Sonjaya).
Tak hanya workshop, para peserta akan difasilitasi untuk rekaman, pembuatan video klip dan digital release secara gratis untuk kemudian dilakukan penjurian serta menentukan 6 terbaik.
Sejumlah musisi kenamaan akan dihadirkan di Recvolution Batch 2 ini, antara lain Sandy Canester, Candil (mantan vokalis Seurieus Band) dan Pia Fellini (mantan vokalis Utopia). Kegiatan Recvolution Batch 2 ini akan digelar mulai 15 Februari sampai 4 April 2020 mendatang di ruang kreatif Rumah Komuji, Jalan Cilaki No. 33 Kota Bandung.
Founder Komuji Indonesia, Eggie Fauzi mengatakan, Recvolution merupakan gagasan dari Komuji Indonesia sebagai wadah terintegrasi di bidang industri musik. "Di dalamnya ada informasi seputar peluang atau potensi di bidang musik, lokakarya untuk memasuki industri musik, sampai melahirkan karya musik yang diproduksi dalam platform musik digital melalui sebuah kompetisi grup band atau solo," katanya.
Eggie berharap, Recvolution ini mampu menumbuhkan, mendorong, dan memudahkan minat generasi muda Bandung khususnya mahasiswa untuk lebih kreatif sebagai respons yang diharapkan untuk menyongsong peluang dalam bonus demografi melalui dorongan kepercayaan diri untuk lebih produktif berkarya khususnya di bidang musik.
"Kita ingin program ini bisa mengubah stigma negatif tentang musik yang saat ini telah tertanam di masyarakat. Selain itu, ini juga untuk menopang dan menguatkan literasi dalam penulisan musik dan lirik agar dapat diterima masyarakat luas," ujarnya.
Sementara itu, Panji Sakti mengaku, di batch 1 dirinya telah melakukan delapan kali pertemuan artinya dalam dua minggu ini.
"Output-nya, 25 peserta sudah bisa bikin lagu sendiri, kami mencari peserta yang pernah bikin lagu dan recording, kemudian mereka bingung harus seperti apa menentukan langkah selanjutnya," ujarnya.
Panji menjelaskan, sudah ada 103 lagu yang masuk, namun hanya diambil 25 lagu dan kemarin para peserta sudah selesai membuat lagu sendiri.
"Kami bikin video shoot dan melakukan seleksi kembali untuk memilih 6 terbaik untuk kemudian diolah dengan baik agar dapat diunggah ke platform digital agar dikenal masyarakat luas," jelasnya.
Panji mengatakan, tidak membatasi genre musik apapun meski yang mengadakan event ini Komuji, para peserta yang mendaftar pun ada dari berbagai kalangan, mulai dari Katolik, Protestan, dan lain-lain.
"Kami mengusung tema tentang perbedaan, kesetaraan, toleransi terhadap perbedaan, dan keberagaman, sikap saling menghargai dengan tujuan agar para peserta berada di jalur yang ditentukan," katanya.
Panji mengaku, kendala yang dihadapi adalah karena anak-anak muda sekarang cenderung instan dan dimudahkan dengan teknologi, namun wacana yang mereka bawa agak kurang memberi pesan positif bagi pendengar.
"Jadi lagu-lagu yang kami terima masih bertemakan cinta person to person, ada yang terlalu berlebihan, jadinya keluar dari tema. Konsepnya dan esensinya bagus, namun cara penyampaian mereka yang berlebihan juga nggak bagus untuk karyanya," ujarnya.
Panji menambahkan, para peserta di batch 1 sekarang lebih teratur dalam membuat karya setelah mendapatkan pengarahan. Untuk aransemen pun tidak dibatasi karena dari Komuji sendiri sudah menunjuk seorang music director.
"Lagu-lagu di kita kebanyakan yang penting tenar tapi tidak memberikan pencerahan bagi pendengarnya. Namun lagu yang dibikin para peserta sekarang memiliki pesan tersendiri yang bisa diterima pendengarnya," tandasnya. (agus sn).
Editor : suroprapanca

