Rektor ITPLN Imbau Masyarakat Kota Gunakan Kompor Induksi di Tengah Naiknya Harga LPG

Rektor ITPLN menyarankan pemerintah untuk masyarakat gunakan kompor induksi di tengah naiknya harga LPG.

Rektor ITPLN Imbau Masyarakat Kota Gunakan Kompor Induksi di Tengah Naiknya Harga LPG
Ilustrasi LPG 12 kg.

INILAHKORAN, Bandung - Per 18 April 2026, harga LPG 12 kg dan 5,5 kg naik yang membuat banyak masyarakat resah.

Meski demikian harga LPG 3 kg subsidi tidak mengalami kenaikan karena ini disediakan untuk kelompok tertentu.

Menanggapi masalah tersebut, Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof Iwa Garniwa menyarankan pemerintah untuk mempercepat pembangunan jaringan gas (jargas) kota dan mendorong transisi ke kompor induksi sebagai solusi menengah menyikapi penyesuaian harga LPG nonsubsidi 12 kg.

Prof Iwa menilai pemanfaatan energi listrik untuk aktivitas memasak di wilayah perkotaan saat ini jauh lebih menguntungkan dan aman bagi sistem ketahanan energi nasional.

Hal ini dikarenakan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap produk gas bumi cair yang sebagian besar masih diimpor.

"Listrik kita surplus, lebih aman, dan tidak bergantung impor," jelas Iwa.

Selain percepatan infrastruktur jargas dan kompor induksi, Guru Besar Universitas Indonesia (UI) itu juga secara khusus menyoroti mitigasi risiko jangka pendek akibat lebarnya disparitas harga di pasaran.

Selisih harga LPG 12 kilogram dan 3 kilogram hampir mencapai tiga kali lipat. Kondisi ini dinilai memicu risiko peralihan konsumen non-subsidi ke gas bersubsidi.

"Secara ekonomi, rasional kalau masyarakat tergoda pindah. Tapi ini berbahaya karena LPG 3 kg itu subsidi APBN dan hanya untuk kelompok tertentu," terangnya.

Guna mencegah kebocoran subsidi tersebut, Rektor ITPLN menyarankan pemerintah segera memperketat sistem distribusi LPG 3 kg menggunakan pendataan berbasis nama dan alamat sesuai nomor kependudukan.

Terkait dampak penyesuaian harga, Iwa menilai kenaikan harga LPG 12 kilogram yang mengikuti mekanisme pasar global ini tidak akan terlalu mengguncang perekonomian makro.***


Editor : Irma Nurfajri