RSHS Ungkap Fakta Super Flu, Penyakit Musiman dengan Gejala Lebih Berat
RSHS Bandung menegaskan istilah super flu yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat bukan merupakan istilah baku dalam dunia kedokteran.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - RSHS Bandung menegaskan istilah super flu yang belakangan ramai diperbincangkan masyarakat bukan merupakan istilah baku dalam dunia kedokteran.
Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung Iwan Abdul Rachman mengatakan, istilah super flu tersebut digunakan masyarakat untuk menggambarkan kondisi influenza dengan gejala yang dirasakan lebih berat dan berlangsung lebih lama dibandingkan flu musiman biasa.
Dia menjelaskan, secara medis kondisi yang disebut masyarakat sebagai super flu tetap merupakan penyakit influenza yang bersifat musiman atau seasonal, yang dapat dipengaruhi oleh perubahan cuaca dan faktor lingkungan lainnya.
“Jadi Bapak dan Ibu, pertama super flu ini bukan suatu istilah yang lazim di kedokteran, maksudnya bukan istilah yang baku di kedokteran. Tapi lebih merujuk ke suatu keadaan penyakit influenza yang sifatnya musiman, seasonal, hanya mungkin dirasakan gejalanya lebih berat dan penyebarannya juga lebih cepat karena bisa merupakan kombinasi dari beberapa jenis virus,” ujar Iwan saat memberikan keterangan di RSHS Bandung, Kamis 8 Januari 2026.
Menurutnya, gejala yang muncul pada kondisi ini pada dasarnya sama dengan influenza biasa, seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri badan, namun dapat dirasakan lebih berat dan berlangsung lebih lama. Meski demikian, dr. Iwan meminta masyarakat untuk tidak panik menghadapi situasi tersebut, terlebih tren kasus saat ini menunjukkan kecenderungan menurun.
“Tidak perlu panik menghadapi situasi ini. Tren saat ini terus menurun. Yang paling penting kalau sudah merasakan gejalanya adalah bagaimana kita berusaha tidak menularkan ke orang lain, salah satunya dengan rajin memakai masker,” katanya.
Ia menegaskan, situasi ini berbeda dengan pandemi Covid-19. Tidak ada persiapan khusus seperti saat pandemi, namun RSHS tetap memberikan tata laksana pelayanan medis secara optimal kepada setiap pasien yang membutuhkan.
“Ini berbeda dengan pandemi. Tata laksananya kami berikan seoptimal mungkin. Penyakit ini termasuk droplet infection. Kami punya tata laksana, pasien bisa datang ke IGD, dan kami memiliki ruang perawatan serta isolasi khusus untuk pasien influenza,” jelasnya.
RSHS, lanjut Iwan, memiliki kapasitas ruangan yang memadai untuk menangani pasien influenza. Saat pandemi Covid-19, gedung MCHC lantai 4 digunakan sebagai ruang rawat, namun kondisi saat ini sangat berbeda karena influenza bersifat musiman dan tidak menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat seperti Covid-19.
“Yang kami lakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin tentunya kami siap memberikan pelayanan kepada siapa pun pasien yang membutuhkan. Bila dirasakan gejalanya berat, silakan datang ke fasilitas kesehatan, khususnya ke RSHS. Tapi yang paling penting, kami menyarankan masyarakat untuk tidak panik dan fokus pada pencegahan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga daya tahan tubuh dan kesadaran individu untuk mencegah penularan, terutama bagi mereka yang sudah bergejala.
“Masker itu sebetulnya lebih tepat digunakan untuk yang bergejala, supaya tidak menularkan ke masyarakat. Jadi bukan berarti semua orang harus memakai masker ke mana-mana, tapi kesadaran dari masing-masing individu,” tambahnya.
Berdasarkan data RSHS, hingga saat ini tercatat sebanyak 10 pasien telah dirawat dengan diagnosis influenza. Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet infection, sehingga kepadatan penduduk dan mobilitas warga dinilai dapat meningkatkan risiko penyebaran.
“Kalau dikaitkan dengan kepadatan penduduk tentu risikonya lebih tinggi, begitu juga mobilitas yang mempercepat penyebaran. Karena itu pencegahan menjadi kunci,” kata dr. Iwan.
Sementara itu, Ketua Tim Pinere RSHS Bandung Yovita Hartantri menjelaskan RSHS secara rutin melakukan skrining terhadap seluruh pasien yang datang ke IGD, tidak hanya saat pandemi.
“Kami melakukan skrining sejak pasien datang ke IGD. Data kami menunjukkan pada tahun 2025, kejadian influenza A meningkat sejak Agustus, September, dan mencapai puncaknya pada Oktober, kemudian menurun pada November,” ungkap Yovita.
Ia menyebutkan bahwa sampel pasien dikirim ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pada Januari ini, terkonfirmasi terdapat 10 kasus influenza A yang dirawat di RSHS.
“Sebetulnya kasus ini sudah ada sejak September, dua kasus, Oktober delapan kasus, dan November dua kasus. Di pertengahan Desember WHO juga mengeluarkan laporan bahwa di belahan dunia utara terjadi peningkatan kasus influenza A, sehingga kemudian muncul istilah super flu di berbagai tempat,” jelasnya.
Dari 10 kasus yang dirawat, dua di antaranya merupakan pasien anak, masing-masing berusia 9 bulan dan 11 tahun, sementara sisanya berusia antara 20 hingga 60 tahun. Tingkat keparahan kasus bervariasi, dengan dua pasien harus dirawat di ruang intensif.
“Dua pasien yang berat masuk ke ruang intensif, dan dinyatakan meninggal karena memiliki komorbid seperti stroke, gagal jantung, dan infeksi. Jadi bukan semata-mata karena influenzanya, tetapi karena penyakit penyerta,” kata Yovita.
Ia menambahkan bahwa pada pasien usia lanjut dengan komorbid, influenza dapat berkembang lebih cepat menjadi kondisi berat. Secara umum, pasien dengan gejala berat datang dengan keluhan batuk disertai sesak napas dan membutuhkan oksigen sehingga harus dirawat di ruang khusus.
Hal senada disampaikan Leonardus Widyatmoko yang memaparkan hasil pemeriksaan laboratorium terkait influenza A. Ia menyebutkan, pada periode 28 September hingga 1 November, tercatat 47 pasien dengan dugaan influenza A, dengan 29 pasien terkonfirmasi positif dari hasil pemeriksaan laboratorium.
“Positivity rate tidak seratus persen karena tidak semua sampling positif. Dari data kami, sekitar 29 persen yang positif. Influenza A perlu dilakukan swab, PCR bisa dilakukan secara mandiri, tapi untuk mengetahui jenisnya secara pasti tetap harus dilakukan sequencing yang dikirim ke Jakarta,” jelasnya.
Menurut Leonardus, tata laksana influenza pada umumnya berupa pengobatan simptomatik seperti pemberian obat penurun panas, disertai upaya pencegahan penularan melalui droplet seperti mencuci tangan dan etika batuk. Isolasi khusus tidak selalu diperlukan kecuali pada kasus tertentu dengan gejala berat.
“Kami sudah memiliki skema jejaring. Jika ada kecurigaan, langsung dilakukan skrining dan swab, kemudian dirujuk dan dikoordinasikan dengan dinas kesehatan kota dan provinsi, serta diidentifikasi melalui Labkesda Jawa Barat,” tutupnya.
RSHS kembali mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala influenza yang semakin berat.
Editor : Doni Ramdhani

