Rupiah Menguat ke Rp17.810 per Dolar AS, Didukung Cadangan Devisa Indonesia

Rupiah menguat 87 poin ke Rp17.810 per dolar AS pada Senin. Penguatan didukung cadangan devisa Indonesia dan melemahnya indeks dolar AS.

Rupiah Menguat ke Rp17.810 per Dolar AS, Didukung Cadangan Devisa Indonesia
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin bergerak menguat 87 poin atau 0,49 persen menjadi Rp17.810 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.897 per dolar AS. Penguatan rupiah dinilai mendapat dukungan dari kondisi cadangan devisa Indonesia yang masih relatif kuat.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan posisi cadangan devisa menjadi salah satu faktor yang menopang stabilitas rupiah.

"Rupiah masih mendapat dukungan dari kondisi cadangan devisa yang relatif kuat," ujar Amru kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Berdasarkan data yang tersedia, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 mencapai 145,3 miliar dolar AS. Angka tersebut turun tipis dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang mencapai 145,6 miliar dolar AS.

Meski mengalami penurunan, level cadangan devisa yang masih tinggi dinilai memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing.

Namun, Amru mengingatkan penurunan cadangan devisa tersebut tetap menunjukkan adanya tekanan terhadap rupiah yang perlu diperhatikan.

dolar AS Melemah

Dari sisi global, rupiah turut mendapatkan sentimen positif dari pelemahan indeks dolar AS. Indeks dolar tercatat berada di level 99,6 atau menjadi yang terendah sejak awal Juni.

Pelemahan dolar AS terjadi setelah data pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang lebih lemah. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter.

Dalam jangka pendek, pasar akan mencermati data inflasi AS yang menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan September 2026.

"Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi menekan dolar AS dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, inflasi yang lebih tinggi dapat kembali meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan mendorong penguatan dolar AS," kata Amru.

Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas

Melihat kondisi tersebut, rupiah diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan dalam jangka pendek, meski ruangnya dinilai terbatas.

Amru memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Jika inflasi AS tercatat lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar, ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed berpotensi semakin kuat. Kondisi tersebut dapat menekan dolar AS sekaligus membuka ruang bagi rupiah untuk kembali menguat.***


Editor : JakaPermana