Sikap Kami: Dagdigdug Ekonomi

Ekonomi kita sedang tidak biasa-biasa saja. Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini pun memicu kekhawatiran.

Sikap Kami: Dagdigdug Ekonomi

SEBELUM ditutup pada Rp16.822, rupiah sempat menembus angka psikologis Rp17 ribu pada siang hari kemarin. Ekonomi kita sedang tidak biasa-biasa saja. Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini pun memicu kekhawatiran.

Betapa tidak biasa-biasanya ekonomi Indonesia itu terlihat dari rencana yang akan dilakukan Bank Indonesia, mulai hari ini. Bahkan saat pembukaan pasar domestik pun, mereka akan melakukan intervensi secara agresif di semua lini, termasuk pembelian surat berharga negara (SBN).

Sebagai penjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI kali ini memang “harus” kelimpungan. Sebab, situasinya, terutama anjloknya nilai tukar, sudah menyentuh angka seperti saat krisis moneter 1997 lalu.

Kita beruntung, kita pernah memiliki pemimpin sehebat BJ Habibie dan kabinetnya yang brilian di sektor ekonomi. Rupiah yang kala itu hancur-hancuran, berhasil ditegakkan kembali. Sayangnya kini, kurs rupiah itu sudah setara dengan era krisis finansial dulu.

Rupiah hari-hari ini memang menghadapi banyak tekanan. Selain karena kebijakan tarif resiprokal AS, juga karena fondasi ekonomi kita yang rentan. Tersenggol sedikit saja, jatuh. Apalagi, betapapun pertumbuhan 5% diagung-agungkan, faktanya daya beli sebagian besar masyarakat masih –tepatnya makin—lemah.

Di sisi lain, kita belum melihat langkah-langkah progresif pemerintah dalam “membela” kedaulatan nilai rupiah itu. Satu-satunya andalan yang terlihat dilakukan, hanyalah intervensi BI. Hampir tak ada langkah-langkah signifikan seperti ketika Habibie melikuidasi bank pelat merah dan menggabungkannya menjadi bank raksasa Bank Mandiri seperti era dulu.

Hari ini, selain rupiah, tanda-tanda beratnya ekonomi kita juga akan terlihat dalam perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sulit akan didapati indeks harga saham gabungan (IHSG) takkan turun. Selain karena tekanan eksternal, kebijakan pemerintah untuk membuat landai, apalagi menahan larinya modal dari bursa, rata-rata masih sebatas “omon-omon”.

Kita merasa seperti biasa-biasa saja jika IHSG terjun bebas. Kita bahkan dengan “liar” mengabaikan dampaknya, dengan pernyataan-pernyataan konyol membela diri. Padahal, bursa saham adalah pasar yang tak bisa dilakukan intervensi. Dia adalah harga yang nyata tentang bagaimana kondisi ekonomi kita.

Hari ini, setelah libur lebaran, BEI akan kembali menjalankan aktivitasnya. Di tengah ancaman penurunan IHSG, seperti yang dialami bursa regional lainnya, modal kita hanya satu: berdoa, berharap tak ada kejadian negatif yang istimewa. (*)


Editor : Zulfirman