Sayembara Khusus, Dedi Tantang Warga Matikan Listrik 3 Hari

Budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membuat sayembara khusus bagi masyarakat perkampungan di moment ramadan kali ini. Dalam sayembara itu, warga di setiap kampung ditantang untuk mematikan listrik selama tiga hari tiga malam saat puasa.

Sayembara Khusus, Dedi Tantang Warga Matikan Listrik 3 Hari
Budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membuat sayembara khusus bagi masyarakat perkampungan di moment ramadan kali ini. Dalam sayembara itu, warga di setiap kampung ditantang untuk mematikan listrik selama tiga hari tiga malam saat puasa./net

INILAH, Purwakarta - Budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membuat sayembara khusus bagi masyarakat perkampungan di moment ramadan kali ini. Dalam sayembara itu, warga di setiap kampung ditantang untuk mematikan listrik selama tiga hari tiga malam saat puasa.

Dalam hal ini, dirinya pun telah menyiapkan hadiah bagi kampung yang sanggup dengan tantangannya itu. Hadiahnya, berupa uang tunai Rp 30 juta.

Ketua DPD Golkar Jabar itu, memiliki alasan terkait sayembara yang diadakannya ini. Salah satunya, untuk mengembalikan kekhusuan dan kekhidmatan ramadhan.

"Kita ingin ciptakan suasana yang hening seperti zaman dulu sebelum ada listrik. Tak ada siaran televisi atau hiburan sejenisnya. Kita fokus saja beribadah," ujar Mantan Bupati Purwakarta itu kepada INILAH, Selasa (14/5/2019).

Menurut Dedi, sebenarnya banyak tradisi dan budaya di setiap bulan puasa. Namun sayang, kini telah banyak dtinggalkan masyarakat. Padahal, tradisi itu menjadi pemicu untuk melakukan kegiatan yang positif dan produktif.

Salah satu tradisi itu, misalnya bebeledugan atau menabuh beduk keliling kampung. Saat anak-anak dan remaja, melakukan kegiatan bebeledugan atau main petasan karbit di lapang terbuka, mereka melakukan aktivitas fisik untuk berinteraksi dengan temannya.

Bahkan, kata dia, canda dan tawa kerap mewarnai kehidupan mereka. Biasanya, kegiatan bebeledugan ini dilakukan selepas shalat ashar sampai menjelang waktu berbuka puasa. Banyak makna dari kegiatan tersebut. Salah satunya, menjaga ikatan persahabatan.

"Makanya, sayembara ini diharapkan bisa mengobati kerinduan masyarakat akan tradisi bulan puasa itu," jelas dia.

Selain bebeledugan, lanjut Dedi, ada juga tradisi menabuh bedug keliling kampung. Biasanya, kegiatan ini dilakukan menjelang waktu sahur. Tujuannya, untuk membangunkan warga, supaya tidak kesiangan dalam menyajikan makanan untuk sahur.

"Akan tetapi, tradisi tersebut kini mulai hilang. Terutama, sejak adanya handphone. Kini, kampung-kampung sepi dari aktivitas anak-anak yang biasa dilakukan hanya di bulan ramadan," ujar Dedi.

Tak hanya itu, aktivitas tadarus AlQuran juga, saat ini mulai sepi. Padahal, sebelum marak handphone, baik mushola ataupun masjid selalu ramai dengan bacaan-bacaan ayat AlQuran selepas shalat tarawih. 

"Dulu, para pemuda jarang pulang ke rumah sebelum tadarus Quran beres. Mereka, banyak menghabiskan waktunya di mushola ataupun masjid, " tambah dia. 

Akan tetapi, saat ini selepas tarawih, masjid dan mushola kembali sepi. Para pemudanya, lebih senang menatap layar handphone-nya ketimbang membaca AlQuran di masjid. 

Untuk itu, dirinya menggulirkan sayembara kampung tanpa listrik di bulan ramadhan ini. Dengan mematikan listrik, berarti tidak ada akses untuk menyentuh handphone, menonton televisi ataupun menyalakan komputer.

"Begitu pula dengan orang tuanya, tanpa listrik mereka akan lebih intens berinteraksi dengan anak ataupun tetangganya. Sebab, selama ini mayoritas warga sudah sibuk dengan handphone masing-masing," pungkasnya. (Asep Mulyana) 


Editor : JakaPermana