SEAQIS Minta Pengembangan Guru STEM PAUD Tak Berhenti di Pelatihan Singkat
SEAQIS meluncurkan Policy Brief Pembelajaran STEM untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam ajang SEAQIS International Conference on Science Education (SICS
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - SEAMEO Regional Centre for Quality Improvement of Teachers and Education Personnel in Science (SEAQIS) meluncurkan Policy Brief Pembelajaran STEM untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam ajang SEAQIS International Conference on Science Education (SICSE) 2026 di Bandung.
Kegiatan tersebut diselenggarakan untuk memberikan rekomendasi terkait peningkatan pengembangan guru, dan memperluas implementasi pembelajaran STEM di jenjang PAUD.
Peluncuran policy brief menjadi salah satu agenda utama dalam SICSE 2026 yang mengusung tema "Empowering Science Learners through Inquiry-Based Education". Direktur SEAMEO QITEP in Science, Reza Setiawan, mengatakan dokumen tersebut lahir dari hasil penelitian yang melibatkan sejumlah satuan PAUD dalam penerapan pembelajaran STEM.
"Policy Brief ini berawal dari kegiatan riset kami, penelitian kami, di mana kami mengundang beberapa sekolah tingkat PAUD untuk mencoba mengimplementasikan pembelajaran STEM di masing-masing satuan pendidikannya," kata Reza, Selasa (2/5/2026).
Konferensi internasional itu diikuti sekitar 250 peserta dari Indonesia dan Filipina serta menghadirkan 24 presenter yang membahas pembelajaran berbasis inkuiri, pendidikan STEM, dan inovasi pendidikan sains. Salah satu temuan penting adalah tantangan implementasi STEM di PAUD bukan terletak pada fasilitas pembelajaran.
"Yang ditemukan bukan adanya keperluan untuk fasilitas yang lebih baik, namun terkait dengan kompetensi guru yang perlu ditingkatkan," ujarnya.
Berdasarkan temuan tersebut, SEAQIS mendorong model pengembangan guru yang tidak berhenti pada pelatihan singkat. Guru dinilai membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar mampu menerapkan pembelajaran STEM secara optimal di kelas.
"Model pelatihan tersebut bukan hanya pelatihan yang one-shot saja, namun adanya follow-up atau pendampingan setelahnya, atau mentoring," ucapnya.
Dalam policy brief itu, SEAQIS mengajukan lima rekomendasi utama, yakni menjadikan model mentoring In-On sebagai standar nasional pengembangan guru STEM PAUD, memperluas program percontohan ke berbagai daerah.
Kemudian mengembangkan jejaring mentor nasional, memperkuat sistem monitoring dan evaluasi, serta meningkatkan kemitraan teknis regional dan internasional. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas hingga tingkat nasional.
"Harapannya beberapa rekomendasi ini bisa diimplementasikan ke tingkat yang lebih luas, seperti implementasi melalui standar nasional atau perluasan secara nasional," kata Reza.
Menurutnya, pengenalan STEM sejak usia dini penting untuk mempersiapkan anak menghadapi jenjang pendidikan berikutnya. Semakin awal anak diperkenalkan dengan STEM, semakin baik pula kesiapan mereka dalam mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan.
"Lebih dini mereka diperkenalkan dengan pembelajaran ini, maka kesiapan mereka nantinya untuk mendapatkan pembelajaran lanjutannya itu juga semakin baik," ujarnya.
Reza menambahkan pembelajaran STEM dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, kritis, komunikasi, dan kolaborasi pada masa perkembangan yang dinilai krusial bagi anak. Karena itu, momentum usia dini perlu dimanfaatkan untuk mengoptimalkan berbagai keterampilan tersebut.
"Pada usia-usia ini adalah usia-usia yang dalam riset tersebut disebutkan memang momen-momen kritis. Jadi kita tidak ingin ketinggalan momen kritis ini," tuturnya.
Direktorat PAUD Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Mareta Wahyuni juga menilai penguatan STEM pada PAUD menjadi isu strategis yang memerlukan dukungan kebijakan pemerintah. Menurutnya, usia dini merupakan masa emas pembentukan fondasi kemampuan anak.
"Kita percaya betul masa usia dini adalah masa emas seorang manusia. Di masa inilah seluruh fondasi kemampuan anak dibangun," ujarnya.
Ia menjelaskan STEM tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Melalui pendekatan tersebut, anak diajak untuk mengeksplorasi, menyelidiki, dan memecahkan masalah sejak dini.
"STEM tidak hanya membangun pengetahuan sebenarnya, tapi STEM membangun kemampuan berpikir kolaboratif, kreativitas, dan critical thinking," katanya.
Saat ini Direktorat PAUD telah menyiapkan berbagai dukungan, mulai dari penyusunan pedoman, modul, bahan ajar, hingga video pembelajaran STEM untuk guru. Selain itu, pemerintah juga menggelar bimbingan teknis bagi satuan PAUD di seluruh Indonesia.
"Kami saat ini melakukan Bimtek-Bimtek kepada satuan PAUD seluruh Indonesia bagaimana mereka bisa mengenalkan STEM sejak usia dini, tentunya melalui bermain," ujarnya.
Editor : Ahmad Sayuti
