Sebelum Diratakan, Warung Remang-remang Goa Macan Bisa Putar Uang Ratusan Juta Rupiah dalam Semalam

Keberadaaan warung remang-remang Goa Macan yang berlokasi di Desa Palimanan Barat Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon kini rata dengan tanah. 

Sebelum Diratakan, Warung Remang-remang Goa Macan  Bisa Putar Uang  Ratusan Juta Rupiah dalam Semalam
Aktivitas warung remang-remang Goa Macan yang sudah berdiri di Cirebon sejak 1970 tersebut sekarang tidak ada lagi. Artinya, riwayat warung remang-remang Goa Macan berakhir sudah. (maman suharman)

INILAHKORAN, Cirebon - Keberadaaan warung remang-remang Goa Macan yang berlokasi di Desa Palimanan Barat Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon kini rata dengan tanah. 

Keresahan warga desa yang muak dengan aktivitas maksiat di warung remang-remang Goa Macan berupa transaksi seksual dan minun minuman keras itu langsung direspons tegas Pemkab Cirebon

Aktivitas warung remang-remang Goa Macan yang sudah berdiri di Cirebon sejak 1970 tersebut sekarang tidak ada lagi. Artinya, riwayat warung remang-remang Goa Macan berakhir sudah.

Lalu, aktivitas apa sebetulnya yang berlangsung selama puluhan tahun? Ternyata, ada aktivitas dan trasaksi seksual di dalamnya. Dibalut bangunan semipermanen yang berdiri di atas luas lahan sekitar 4 hektare, ternyata bukan warung biasa. 

Di dalamnya selain menjual makanan dan minuman, juga menyediakan wanita-wanita penghibur. Mulai wanita umur 20-an sampai STW di atas 40 tahunan lengkap disedikan. Kamar di warung remang-remang Goa Macan sendiri ada sekitar 55 unit.

Namun, saat ini wanita-wanita penghibur entah dimana keberadaannya. Kabarnya mereka berasal dari wilayah Ciayumajakuning, Bandung bahkan ada yang dari Garut. 

Meskipun jumlahnya hanya puluhan, tapi mereka sepertinya betah membuka praktik prostitusi di sana. Tarifnya pun beragam, mulakidari Rp150 ribu hingga Rp300 ribu untuk sekali 'ngecas' energi lelaki hidung belang.

"Tempatnya ya di dalam warung. Sudah disedikan kamar untuk lelaki hidung belang melampiaskan hasratnya. Jadi memang aman dan tertutup," kata Budi (bukan nama sebenarnya) yang mengaku paham betul aktivitas di warung remang-remang Goa Macan tersebut.

Namun ungkapnya, puluhan wanita penghibur tersebut bukan karyawan warung remang-remang Goa Macan. Mereka bekerja secara freelance.

Kalau ada tamu yang membutuhkan jasa mereka, maka biasanya pemilik warung menghubungi para kupu-kupu malam tersebut. Para pemilik warung, hanya mendapatkan bagian dari sewa kamar yang dibanderol Rp50 ribu sekali 'ngecas'.

"Pemilik warung hanya mendapatkan keuntungan dari penjualan miras dan sewa kamar. Kan biasanya kalau ada tamu, mereka minum-minum dulu dilanjutkan dengan kencan singkat. Pemilik tidak pernah ikut campur tarif sekali kencan," ungkapnya.

Menurut penuturan warga sekitar, awal berdirinya warung remang-remang Goa Macan itu hanyalah tempat singgah sopir-sopir truk. Mereka biasa menunggu bongkar muat semen. 

Namun seiring berjalannya waktu, potensi bisnis membuka usaha transaksi seksual dianggap menjanjikan. Terbukti, setelah warung remang-remang Goa Macan berubah konsep, tamu yang datang bukan hanya sopir melainkan masyarakat umum.

"Justru kalau bulan Ramadan malah ramai. Tamu yang datang dari berbagai tempat. Mungkin karena semua tempat hiburan ditutup, jadi mereka datang ke sini semua. Kan di sini aman tidak pernah ada razia," kata warga yang enggan disebutkan namanya.

Warga ini juga mengaku, dalam semalam perputaran uang di lokasi warung remang-remang Goa Macan mencapai puluhan bahkan sampai ratusan juta rupiah dalam semalam. Omzet tersebut pemasukan dari penjualan makanan dan minuman, serta transaksi hubungan terlarang dan mungkin transaksi lainnya.

Dia mengaku, saat ini warga Desa Palimaman barat mengaku lega. Masalahnya, saat ini Pemkab Cirebon benar-benar serius untuk menutup warung remang-remang Goa Macan yang bisa membawa sial warga sekitar. 

Warga sekitar berharap, ini adalah penutupan terakhir setelah puluhan tahun warung remang-remang Goa Macan beroperasi tanpa tersentuh hukum.


Editor : Doni Ramdhani