Sejarah Mesin Cetak Alquran Tertua di Wiyata Guna

Membaca Alquran jadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan ketika Ramadan. Maka, berterima kasihlah kepada percetakan yang satu ini. Berkat mereka, para penyandang tuna netra masih bisa tadarus Alquran.

Sejarah Mesin Cetak Alquran Tertua di Wiyata Guna
Proses percetakan Alquran Braille di Wiyata Guna, Bandung. (Agung Fitu Budiana)

INILAH, Bandung- Membaca Alquran jadi salah satu ibadah yang sangat dianjurkan ketika Ramadan. Maka, berterima kasihlah kepada percetakan yang satu ini. Berkat mereka, para penyandang tuna netra masih bisa tadarus Alquran.

Penyandang Tuna Netra, bisa membaca dengan bantuan buku khusus yang hurufnya timbul yang disebut dengan istilah braille. Al-Quran juga ada versi braille untuk mereka.

InilahKoran menyambangi tempat percetakan braille dan berbincang dengan Ketua Sekretariat Yayasan Penyantun Wiyata Guna (YPWG), Ayi Ahmad Hidayat, di Kantornya yang menjadi tempat percetakan braille tersebut, Sabtu (11/5/2019). 

Rasa penasaran makin menjadi karena ingin mengetahui proses pembuatan Alquran Braille, yang diketahui ternyata penuh dengan lika-liku.

Dia mengawali obrolan dengan perjalanan mesin cetak braille yang sekarang disimpan di Wiyata Guna. Mesin cetak tersebut merupakan sumbangan Hellen Keller, perempuan Amerika penyandang disabilitas yang bahkan selalu dibantu oleh seseorang untuk mengisyaratkan lingkungan sekitarnya menggunakan bahasa isyarat.

"Jadi beliau itu memesan mesin braille press untuk cetak braille ini ke Pabrik Thomson, kemudian karena kepeduliaannya pada waktu itu menyumbangkan ke beberapa negara yang dinilai banyak penyandang tuna netranya," ucap Ayi.

Lanjut dia, Indonesia menjadi salah satu negara yang disumbangkan mesin tersebut oleh Hellen Keller, karena dia menilai pada tahun 50an, Indonesia merupakan negara yang bekas dijajah dan banyak sisa perang, serta masyarakatnya banyak yang terlantar.

"Mesin ini pertama kali datang itu ke Jakarta dulu, pada tahun 1952 diterima langsung oleh Presiden pertama kita, Ir Soekarno. Saat itu disimpan di Badan Grafika dibawah Departemen Penerangan sekitar 10 tahun," katanya.

Pada tahun 1962, karena dinilai Bandung mempunyai Blind Institute yang didirikan oleh C.H.A. Westhoff sejak 1901, mesin tersebut didatangkan ke tempat tersebut awalnya hanya sebagai mesin cadangan.

"Saat itu mesin ini hanya sebagai backup saja, namun ketika tahun 1972, saat tempat ini dinasionalkan menjadi Yayasan Penyantun Wiyata Guna, terlebih saat Sekolah Luar Biasa (SLB) sudah berdiri di berbagai daerah, buku pelajaran juga dihasilkan oleh mesin cetak tersebut," ucapnya.

Namun karena kurikulum yang terus berubah-ubah, master plit atau pencetak titik-titik timbul membuat repot yang harus diganti setiap ada buku pelajaran yang dirubah materinya, karena harus membuat master plit yang sesuai dengan cetakan buku yang baru.

"Jadi waktu itu tidak bisa mengikuti, apalagi setelah tahun 2000an muncul printer braille. Saat itu Pemerintah menargetkan 9 tempat percetekan untuk menunjang literasi bagi para teman-teman tuna netra, namun ternyata tidak bisa memenuhi harapan literasi mereka," katanya.

Mesin cetak yang sudah berumur tua di Wiyata Guna tersebut, bahkan ketika dikunjungi David, kepengurusan generasi keempat dari Hellen Keller Institute. Menurut Ayi, dia kaget dan mengatakan congratulation karena mesin tersebut masih berfungsi dan dipakai sampai sekarang.

"Ketika Mister David itu melihat, satu sisi dia merasa bahagia karena mesin tua ini masih berfungsi, namun di sisi lain merasa khawatir karena ibaratnya berlari bersama nenek-nenek, suatu saat bisa rusak karena umur," ucapnya.

Saat ini mesin tersebut hanya mencetak Alquran Braille saja, Ayi merasa beruntung mesinnya masih bisa memproduksi dan mampu bersaing dengan mesin keluaran terbaru.

"Ya alhamdulillah sampai sekarang produksinya untuk alquran, kenapa alquran? Alquran itu naskahnya permanen kan, sedangkan kami dengan mesin ini memakai master plit, jadi kelemahannya itu ketika membuat master plit memang lama dan susah, selain itu Alquran juga kan sebagai syifa, obat penawar, atau keberuntungan juga," katanya

Bahkan ketika master plit tersebut terlihat kesalahan, harus dihapus dengan diketok menggunakan palu untuk diratakan yang memerlukan waktu. Tetapi kelebihannya jika master plit sudah fix, tidak akan error, dan kapasitas penggandaannya bisa sampai lima ribu kali.

"Mesin ini masih bisa bertahan sehari  sepuluh jam itu menghasilkan 8 ribu sampai 10 ribu lembar, hanua sekarang kita memperlakukannya gak full, serta tidak boleh telat oli, stemplet, dan doa. Jadi sebelum mulai kita doa dulu agar mesinnya panjang umur," pungkasnya.(agung fitu budiana)
 


Editor : Bsafaat