Seminar Pesantren Gedongan Cirebon Kupas Soal Haid Secara Fikih dan Medis
Pesantren Gedongan, Kabupaten Cirebon, menggelar Seminar Nasional bertema “Risalatul Mahid dalam Perspektif Medis" atau pembahasan haid
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Peringatan Haul ke-95 KH Muhammad Sa’id di Pondok Pesantren Gedongan, Kabupaten Cirebon, diisi dengan Seminar Nasional bertema “Risalatul Mahid dalam Perspektif medis”.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman santri dan masyarakat, khususnya perempuan, mengenai haid dari sisi keagamaan dan kesehatan. Diskusi dipandu Ketua Komisi Informasi Daerah Kabupaten Cirebon Gus Muhammad Idrus dan diikuti ratusan santri Pesantren Gedongan.
KH Nanang Umar Faruq menjelaskan, pembahasan rinci tentang haid tidak secara langsung ditemukan dalam Al-Qur’an dan hadis. Pada masa Rasulullah SAW, persoalan haid kerap ditanyakan langsung kepada Nabi Muhammad SAW atau Sayidah Aisyah RA, kemudian dikaji secara mendalam oleh para ulama setelahnya.
"Imam Syafi’i termasuk ulama yang meneliti persoalan haid secara mendalam. Mempelajari ilmu haid hukumnya fardu ‘ain bagi perempuan dan fardu kifayah bagi laki-laki, karena berkaitan dengan sah atau tidaknya ibadah,” ujar KH Nanang Minggu malam, 1 Februari 2026.
Dari sisi medis, dr. Yuli Tri Setiono menyampaikan bahwa usia minimal perempuan mengalami haid adalah 9 tahun. Jika haid terjadi sebelum usia tersebut, disebut menarke dini dan berpotensi mengganggu pertumbuhan.
"Sebaliknya, jika hingga usia 16 tahun belum haid, perlu dilakukan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebabnya,” jelasnya.
Dia menyebutkan, usia menopause rata-rata perempuan sekitar 51 tahun. Siklus haid normal ditandai dengan jarak antarhaid yang teratur, durasi perdarahan 2–6 hari, dengan toleransi medis hingga dua minggu.
"Volume darah haid normal sekitar satu sendok makan per hari. Jika harus mengganti pembalut hingga lima kali sehari, itu sudah tidak normal dan perlu dikonsultasikan," jelasnya.
Menurutnya, gangguan haid yang umum antara lain menoragia atau perdarahan berlebihan yang dapat dipicu obesitas atau penyakit seperti kista, serta dismenore atau nyeri haid yang bisa bersifat bawaan maupun menandakan gangguan kesehatan bila semakin berat seiring bertambah usia.
Sementara itu, Ketua PWI Kabupaten Cirebon Mamat Rahmat menekankan pentingnya literasi media dalam isu kesehatan perempuan yang banyak dipenuhi informasi keliru di media sosial.
"Informasi harus faktual, berbasis data, dan bersumber dari narasumber yang kredibel, bukan sekadar viral," ucapnya.
Dia menambahkan, pemahaman yang benar tentang haid berpengaruh terhadap kesehatan, kualitas ibadah, dan kehidupan sehari-hari perempuan.
Seminar menghadirkan Wakil Ketua LBM PWNU Jawa Barat KH Nanang Umar Faruq, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro dr. Yuli Tri Setiono, serta Ketua PWI Kabupaten Cirebon Mamat Rahmat.
Editor : Ahmad Sayuti


