Seperseribu Kebutuhan Listrik Negeri Dipasok PLTS Terapung Cirata

Kendati masih anyar, PLTS terapung Cirata memiliki kontribusi positif untuk bauran EBT di negeri ini. Presiden Direktur PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi Dimas Kaharudin Indra Rupawan sebagai operator pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung menegaskan hal tersebut.

Seperseribu Kebutuhan Listrik Negeri Dipasok PLTS Terapung Cirata
“PLTS terapung Cirata ini mulai berproduksi pada November 2023. Kapasitasnya mencapai 300 GWh (gigawatt hour) per tahun. Dari pembangkit ini mampu berkontribusi seperseribu kebutuhan listrik seIndonesia,” kata Dimas di PLTS terapung Cirata, Rabu 8 Oktober 2025. (doni ramdhani)

INILAHKORAN, Bandung - Kendati masih anyar, PLTS terapung Cirata memiliki kontribusi positif untuk bauran EBT di negeri ini. Presiden Direktur PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi Dimas Kaharudin Indra Rupawan sebagai operator pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung menegaskan hal tersebut.

PLTS terapung Cirata ini mulai berproduksi pada November 2023. Kapasitasnya mencapai 300 GWh (gigawatt hour) per tahun. Dari pembangkit ini mampu berkontribusi seperseribu kebutuhan listrik seIndonesia,” kata Dimas di PLTS terapung Cirata, Rabu 8 Oktober 2025.

Menurutnya, PLTS terapung Cirata merupakan proyek energi baru terbarukan (EBT) skala besar pertama di Indonesia yang beroperasi secara komersial. Proyek ini menghasilkan listrik sebesar 300 GWh per tahun, meskipun kontribusinya masih relatif kecil dibandingkan total kebutuhan nasional, tetapi memiliki nilai strategis sebagai pionir.

Energi dari PLTS terapung Cirata sudah terintegrasi dengan sistem kelistrikan Jawa-Bali sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas. Penggunaan badan air sebagai lokasi PLTS mengatasi kendala ketersediaan lahan, menghemat penggunaan lahan darat yang terbatas dan bernilai tinggi.

Efisiensi lahan merupakan keunggulan paling signifikan. Dimas menjelaskan, PLTS terapung Cirata dengan kapasitas 192 megawatt (MW) itu jika dibangun di daratan memerlukan sekitar 200 hektare lahan yang cukup luas dan berharga. Namun, dengan memanfaatkan badan air (waduk Cirata), PLTS terapung itu mengurangi kebutuhan lahan darat yang besar.

“Pendekatan ini membantu menjaga fungsi lahan darat untuk keperluan lain yang lebih prioritas,” tambahnya.

Dia pun menyebutkan, tarif listrik yang dihasilkan mampu bersaing dengan energi berbasis batu bara. Hal itu menegaskan potensi ekonomi EBT di masa datang.

Keberadaan PLTS terapung Cirata pun merupakan proyek yang memicu gelombang pengembangan proyek PLTS terapung lain dan menjadi model percontohan bagi pengembangan skala besar berikutnya. Sebab, proyek tersebut akan dijadikan dasar untuk peningkatan teknologi dan efisiensi proyek-proyek mendatang.
Dengan kapasitas yang cukup besar dan integrasi yang baik ke jaringan listrik nasional, proyek itu pun menunjukkan EBT dapat menjadi solusi yang kompetitif dan praktis untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Keunggulan utama teknologi terapung yakni efisiensi penggunaan lahan serta potensi replikasi yang luas sebagai model percontohan nasional.

Keberhasilan PLTS terapung Cirata diakuinya sebagai proyek strategis dalam ekosistem energi terbarukan Indonesia yang memadukan inovasi teknologi dengan efisiensi sumber daya.

 Senada dengan itu, bauran EBT itu pun diungkapkan General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jabar Sugeng Widodo cenderung bergerak maju dan positif. Hingga triwulan III 2025, pihaknya mencatat peningkatan signifikan dalam pemanfaatan layanan renewable energy certificate (REC) sebagai energi hijau.

Dia menuturkan, jumlah transaksi kumulatif pelanggan REC periode Januari-September 2025 mencapai 3.398 kali dengan total penjualan 1.224.545 unit REC. Angka ini mengalami pertumbuhan jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada periode yang sama tahun sebelemunya, jumlah transaksi kumulatif tercatat 988 kali dengan total penjualan 1.186.979 unit REC.

“Layanan REC menjadi salah satu instrumen penting bagi seluruh golongan pelanggan untuk berkontribusi dalam transisi menuju energi bersih. Bagi pelanggan industri, instrumen ini mendukung mereka untuk bersaing di tingkat global,” ujar Sugeng.

Berdasarkan catatan PLN UID Jabar, wilayah dengan jumlah transaksi REC terbanyak yakni Bandung dengan 404 transaksi, Depok (316), dan Cimahi (275). Sedangkan, penjualan unit REC tertinggi terjadi di Karawang sebanyak 327.161 unit, Purwakarta (302.730), dan Cikarang (215.783). Tiga golongan pelanggan terbesar pengguna REC di Jabar berasal dari industri, bisnis, dan rumah tangga. (dnr)


Editor : Doni Ramdhani