Sering Mulas Setelah Minum Susu? Kenali Gejala Intoleransi Laktosa dan Cara Mengatasi

Sering diare atau kembung setelah minum susu? Kenali gejala intoleransi laktosa, penyebab, faktor risiko, serta cara mengatasi kondisi ini.

Sering Mulas Setelah Minum Susu? Kenali Gejala Intoleransi Laktosa dan Cara Mengatasi
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Pernah merasa perut mulas, kembung, atau mual setelah minum susu? Kondisi tersebut bisa menjadi tanda laktosa'>intoleransi laktosa, yaitu gangguan pencernaan yang terjadi ketika usus halus tidak menghasilkan cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa, gula alami yang terdapat dalam susu dan produk olahannya.

Meski tidak tergolong penyakit berbahaya, laktosa'>intoleransi laktosa dapat menimbulkan keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari jika tidak ditangani dengan baik.

Gejala laktosa'>intoleransi laktosa yang Perlu Diwaspadai

Gejala biasanya muncul dalam beberapa jam setelah mengonsumsi susu atau produk olahannya. Tingkat keparahannya bergantung pada jumlah enzim laktase yang dimiliki tubuh.

Beberapa gejala yang paling sering dialami antara lain:

1. Diare.
2. Mual, yang terkadang disertai muntah.
3. Kram atau nyeri perut.
4. Perut kembung.
5. Sering buang angin (flatulensi).

Keluhan tersebut terjadi karena laktosa yang tidak tercerna masuk ke usus besar dan difermentasi oleh bakteri, sehingga menghasilkan gas dan menarik lebih banyak cairan ke dalam usus.

Tiga Jenis laktosa'>intoleransi laktosa

Para ahli membagi laktosa'>intoleransi laktosa menjadi tiga jenis utama, yaitu:

1. laktosa'>intoleransi laktosa Primer

Merupakan jenis yang paling umum. Produksi enzim laktase menurun secara alami seiring bertambahnya usia sehingga kemampuan mencerna laktosa ikut berkurang.

2. laktosa'>intoleransi laktosa Sekunder

Terjadi akibat kerusakan usus halus yang disebabkan oleh penyakit tertentu, seperti penyakit celiac, penyakit Crohn, atau infeksi saluran cerna. Jika penyakit penyebab berhasil diatasi, produksi laktase dapat kembali membaik.

3. laktosa'>intoleransi laktosa Kongenital

Jenis ini sangat jarang terjadi. Bayi terlahir tanpa kemampuan memproduksi enzim laktase akibat kelainan genetik yang diwariskan dari kedua orang tua.

Siapa yang Berisiko Mengalaminya?

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami laktosa'>intoleransi laktosa, di antaranya:

1. Bertambahnya usia, terutama pada orang dewasa.
2. Memiliki keturunan Asia, Afrika, Hispanik, atau Penduduk Asli Amerika.
3. Lahir prematur karena produksi enzim laktase belum berkembang sempurna.
4. Memiliki riwayat penyakit usus halus.
5. Pernah menjalani terapi radiasi atau kemoterapi di area perut.

Cara Mengatasi laktosa'>intoleransi laktosa

Apabila intoleransi dipicu oleh penyakit pada usus, penanganan kondisi tersebut dapat membantu memulihkan kemampuan tubuh mencerna laktosa.

Sementara itu, untuk mengurangi keluhan sehari-hari, beberapa langkah berikut dapat dilakukan:

1. Batasi konsumsi susu dalam jumlah besar.
2. Konsumsi susu bersamaan dengan makanan agar gejala lebih ringan.
3. Pilih produk berlabel low-lactose atau lactose-free.
4. Gunakan suplemen enzim laktase sebelum mengonsumsi produk susu sesuai petunjuk penggunaan.
5. Penuhi kebutuhan kalsium dari sumber lain jika konsumsi susu dikurangi, seperti ikan bertulang lunak, tahu, tempe, sayuran hijau, atau produk yang difortifikasi.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasikan ke dokter apabila Anda sering mengalami diare, nyeri perut, atau kembung setiap kali mengonsumsi susu dan produk olahannya. Pemeriksaan medis juga diperlukan bila Anda khawatir tidak mendapatkan asupan kalsium yang cukup akibat membatasi konsumsi produk susu.

Diagnosis yang tepat akan membantu menentukan apakah keluhan disebabkan oleh laktosa'>intoleransi laktosa atau kondisi lain yang memiliki gejala serupa, sehingga penanganan dapat dilakukan secara optimal.***


Editor : JakaPermana