Bulking dan Cutting Efektif Bentuk Otot? Ahli Ungkap Risiko dan Alternatif Aman

Bulking dan cutting populer untuk membentuk otot. Simak penjelasan ahli mengenai manfaat, risiko, serta alternatif body recomposition yang lebih aman.

Bulking dan Cutting Efektif Bentuk Otot? Ahli Ungkap Risiko dan Alternatif Aman
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Tren bulking dan cutting semakin populer di media sosial, terutama di kalangan pecinta kebugaran yang ingin membentuk tubuh lebih berotot dan atletis. Banyak kreator konten membagikan transformasi fisik dengan metode ini. Namun, para ahli mengingatkan bahwa strategi tersebut tidak selalu cocok diterapkan oleh semua orang.

Mengutip laporan BBC, bulking adalah fase ketika seseorang mengonsumsi kalori lebih banyak daripada kebutuhan harian (surplus kalori) untuk mendukung pertumbuhan massa otot melalui latihan beban. Setelah itu, fase dilanjutkan dengan cutting, yaitu mengurangi asupan kalori (defisit kalori) agar lemak tubuh berkurang sehingga otot tampak lebih tegas.

bulking Membantu Pertumbuhan Otot, Asalkan Tepat

Pelatih kebugaran Scott Laidler menjelaskan bahwa pembentukan otot memang membutuhkan tambahan energi. Namun, surplus kalori sebaiknya berasal dari makanan bergizi, khususnya yang kaya protein.

protein mengandung asam amino yang berperan penting dalam memperbaiki jaringan otot setelah latihan sekaligus mendukung pertumbuhan massa otot baru.

Meski demikian, dokter sekaligus pelatih kebugaran Aishah Muhammad mengingatkan bahwa kemampuan tubuh membentuk otot memiliki batas.

Jika kelebihan kalori terlalu besar, energi yang tidak digunakan tubuh tidak akan berubah menjadi otot, melainkan disimpan sebagai lemak.

cutting Berisiko Mengurangi Massa Otot

Fase cutting bertujuan menurunkan kadar lemak tubuh agar definisi otot terlihat lebih jelas. Namun, proses ini juga memiliki tantangan.

Saat tubuh berada dalam kondisi defisit kalori, berat badan memang akan turun. Akan tetapi, sebagian massa otot yang telah terbentuk juga berpotensi ikut berkurang apabila asupan protein dan latihan beban tidak dijaga.

Penurunan berat badan yang terlalu cepat juga dapat berdampak pada berkurangnya kekuatan, daya tahan, serta performa fisik.

Ahli Tidak Menyarankan untuk Semua Orang

Pelatih atlet Matt Thomas mengatakan metode bulking dan cutting tidak selalu menjadi pilihan terbaik, terutama bagi masyarakat umum yang berolahraga untuk menjaga kesehatan.

Menurutnya, perubahan berat badan yang drastis dalam waktu singkat justru dapat memberikan tekanan pada tubuh dan membuat hasil sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

body recomposition Dinilai Lebih Aman

Sebagai alternatif, para ahli lebih merekomendasikan metode body recomposition, yaitu membangun massa otot sambil mengurangi lemak tubuh secara bertahap.

Pendekatan ini dilakukan melalui:

1. latihan beban secara rutin dan progresif.
2. Konsumsi protein yang cukup setiap hari.
3. Menyesuaikan asupan kalori dalam jumlah kecil, tanpa surplus atau defisit ekstrem.
4. Tidur yang cukup untuk mendukung pemulihan otot.
5. Menjaga konsistensi pola makan dan olahraga.

Meski hasilnya membutuhkan waktu lebih lama, metode ini dianggap lebih aman, lebih mudah dipertahankan, dan sesuai bagi sebagian besar orang yang ingin meningkatkan kebugaran.

Mana yang Lebih Baik?

bulking dan cutting tetap memiliki manfaat, terutama bagi atlet atau binaragawan yang menargetkan peningkatan massa otot dan penurunan lemak secara maksimal menjelang kompetisi.

Namun, bagi masyarakat umum, para ahli menilai kombinasi pola makan seimbang, latihan kekuatan secara konsisten, konsumsi protein yang cukup, serta pendekatan body recomposition merupakan pilihan yang lebih realistis untuk memperoleh tubuh sehat, kuat, dan proporsional dalam jangka panjang.***


Editor : JakaPermana