Setia Rusmana Seorang Diri Mengajar Kelas 1-6 SD di Kawasan Pegunungan

Guru honorer yang satu ini luar biasa. Dia mengajar dari kelas satu hingga kelas enam seorang diri. Lokasinya di kawasan pegunungan, dengan upah Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.

Setia Rusmana Seorang Diri Mengajar Kelas 1-6 SD di Kawasan Pegunungan
Setia Rusmana
INILAH, Bandung -  Guru honorer yang satu ini luar biasa. Dia mengajar dari kelas satu hingga kelas enam seorang diri. Lokasinya di kawasan pegunungan, dengan upah Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan.

Adalah Setia Rusmana, guru honorer Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sukamanah, Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Untuk sampai ke sana, dibutuhkan perjalanan cukup terjal karena lokasi sekolah berada di kawasan pegunungan yang dikelilingi perkebunan teh.

Sejak sebulan terakhir, Setia menjadi satu-satunya guru di sekolah itu. Dia bertanggung jawab atas keberlangsungan pendidikan semua kelas. Tanpa lelah, pria 47 tahun ini memikulnya. Upah minim tak menyurutkan niatnya untuk menyelamatkan masa depan para siswa.

"Saya mengajar di SDN Sukamanah sejak 2009 akhir, sebelumnya ngajar di SDN Dewata II sejak 2004 lalu. Nah di SDN Sukamanah ini mulai ngajar sendirian sejak akhir 2018, sebelumnya memang ada tiga orang guru honorer lain tapi mereka mundur karena upah tidak sebanding dengan pekerjaan yang tiap hari kami laksanakan,"kata Rusmana di Pasirjambu Minggu (25/11/18).

Menurut Rusmana, sejak 2009 ketika mulai bertugas di SDN Sukamanah itu, memang sempat ada beberapa guru yang berstatus Pegawai Negeri Sipil ((PNS). Namun sayangnya, tak pernah bertahan lama. Sehinga yang tersisa hanya kepala sekolah (PNS) dan beberapa guru yang berstatus masih honorer. 

Para guru PNS itu rata rata tak kerasan untuk mengajar di sekolah yang lokasinya memang berada di pegunungan dan dikelilingi perkebunan teh. Jarak tempuh yang jauh dengan kondisi medan yang lumayan terjal membuat para guru ciut untuk tetap mengajar disana.

"Biasanya guru PNS itu cuma tahan setahun atau dua tahun saja. Setelah itu mereka minta pindah tugas ke tempat yang enak. Yah akhirnya tinggal kami para guru honorer yang tersisa dan sekarang tinggal saya sendirian,"ujar pria bergelar sarjana pendidikan ini. 

Rusmana melanjutkan, upah yang diterimanya setiap bulan hasil mengajar di SDN Sukamanah pun tak besar. Yakni hanya sekitar RP 300 hibu hingga Rp 500 ribu saja. Sedangkan dari rumahnya di Kampung Tenjolaya menuju sekolah itu jaraknya sekitar 35 kilometer, menembus hutan dan hampatan perkebunan teh.

"Kalau naik ojek pulang pergi ongkosnya sekitar Rp 60 ribu. Untungnya saya ada motor, jadi agak sedikit mengurangi pengeluaran sehari hari. Tapi yah dengan upah yang saya terima setiap bulan hanya sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu sangat berat juga sih. Makanya kami para guru honorer di daerah terpencil ini sangat berharap bisa jadi PNS, agar kami bisa fokus mengabdikan diri untuk mempersiapkan generasi muda bangsa ini," ujar dia.

Perjuangan Rusmana yang seorang diri harus berjibaku memastikan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SDN Sukamanah tetap berlangsung ini mengundang keprihatinan praktisi pendidikan di Kabupaten Bandung, A. Rukmana. 

Menurutnya, selain di SDN Sukamanah, kondisi yang tak jauh berbeda juga ada di tempat lain di Kabupaten Bandung. Bahkan, dibeberapa sekolah di daerah yang tidak terpencil pun masih banyak yang hanya diisi atau membebankan tanggungjawab kepada para guru honorer.

"Ironis sekali disaat para pengurus PGRI dan pejabat Dinas Pendidikan hidup glamour. Sementara  seorang guru Honor di SDN Sulukamanah harus menanggung beban mengajar dari kelas satu hingga kelas enam seorang diri. Sedangkan peringatan hari guru digelar besar besaran dan mempertontonkan kemewahan, ketua PGRI dan kepala dinas pendidikan tidak punya rasa malu,"kata Rukmana. 


Editor : inilahkoran