Sikap Kami: Ada Apa dengan Persib?
PERSIB boleh saja jadi salah satu klub terbaik di Indonesia. Tapi soal satu ini, Persib gagal total. Apa itu? Memilih pemain asing.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
PERSIB boleh saja jadi salah satu klub terbaik di Indonesia. Tapi soal satu ini, Persib gagal total. Apa itu? Memilih pemain asing.
Tak percaya? Coba ingat-ingat saja siapa pemain asing terakhir paling lama bertahan bersama Persib. Ya, Ezechiel N’Douassel. Tiga musim dia bersama Persib sebelum striker tim nasional Chad itu pergi dan bergabung dengan Bhayangkara FC pada musim 2020 lalu.
Setelah itu, Persib selalu gagal dalam pembelian pemain asing, terutama di lini gelandang dan depan. Di belakang pun hanya Nick Kuipers yang bertahan cukup lama.
Diakhirinya kontrak Geoffrey Castillion adalah juga bentuk kegagalan manajemen Persib. Bayangkan, dikontrak lima tahun, hanya bisa menyumbang lima gol. Bayangkan, betapa mahalnya sebiji gol striker asal Belanda itu.
Baca Juga: Sikap Kami: Atalia
Kenapa manajemen Persib gagal? Karena mereka semestinya sudah belajar dari Como, klub Seri C Italia. Saat dipinjam Como, Persib dilanda euforia. Seolah-olah itu istimewa. Padahal, sebaliknya. Hanya sekali Castillion main di Como. Itu pun hanya tujuh menit. Ya, sekali lagi tujuh menit! Masuk di menit ke-84 menggantikan Franco Ferrari, saat Como dihajar Olbia 0-3.
Tapi, fakta itu tak membuat manajemen Persib bertindak cepat. Seolah-olah latihan di Como sudah dianggap istimewa.
Castillion adalah salah satu contoh kegagalan manajemen Persib dalam pembelian pemain asing. Misalnya, awal tahun ini, ada pula pembelian Farshad Noor, pemain Afganistan yang tak istimewa sama sekali. Kalah jauh misalnya dengan Taisei Marukawa dari Persebaya atau Omid Nazari.
Baca Juga: Sikap Kami: Anies-Emil, Oke!
Tentu saja, kita patut mempertanyakan, apakah Persib memiliki pemantau pemain yang hendak dibeli? Kalau ada, kenapa begitu buruk hasil pantauan mereka? Kalau tidak, rasanya Persib sebagai klub profesional, layak memilikinya. Banyak mantan bintang Persib yang layak memainkan peran itu.
Kita mengakui, Persib salah satu klub paling bagus dari sisi finansial. Tapi, dalam industri sepak bola, itu saja tidak cukup. Faktor finansial Persib terbantu karena mereka memiliki pengikut paling besar dan fanatik di Indonesia. Karena pendukung itulah Persib bernama besar, bukan karena prestasi.
Kini, misalnya, Persib mengalami euforia karena mendapatkan David da Silva. Euforia itu patut diuji. Kini juga, Persib hendak melepas Wander Luiz. Ingat, dia sudah menyumbang enam gol. Itu dia lakukan di tengah kondisi tak memiliki rekan duet striker yang cocok dengannya.
Baca Juga: Sikap Kami: Gimik Politik
Manajemen Persib harus memperbaiki diri. Apa yang mereka berikan selama ini, terutama terkait pembelian pemain, barulah sekadar memberi asa, bukan bukti. (*)
Editor : inilahkoran

